ASDP Indonesia Raih Laba Rp285 Miliar dan Pendapatan Rp4,96 Triliun
JAKARTA – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mencetak laba Rp285,4 miliar sepanjang 2025. Perusahaan negara yang mengurusi layanan penyebrangan laut itu membukukan pendapatan Rp4,96 triliun pada tahun lalu. Layanan penyeberangan perintis ASDP mencatat lebih dari 93 ribu trip atau tumbuh 11% dibandingkan tahun sebelumnya. Angkutan kendaraan juga meningkat 15% menjadi lebih dari 556 ribu unit.
"Capaian tersebut menegaskan peran strategis ASDP bukan hanya sebagai operator transportasi, tetapi juga perekat konektivitas dan penggerak ekonomi nasional," ujar Sekretaris Perusahaan ASDP Windy Andale dalam siaran resminya, Senin (11/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Hanya saja, perseroan menghadapi sejumlah insiden pelayaran, mulai dari kecelakaan, kapal kandas, hingga tabrakan kapal sepanjang tahun lalu.
Namun, perusahaan berhasil menjaga tingkat kecelakaan kapal pada angka 0,220%, lebih baik dibanding target perusahaan sebesar 0,230%, dengan total lima kecelakaan kapal sepanjang tahun.
Direktur Utama ASDP Heru Widodo menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi budaya kerja yang melekat dalam setiap proses operasional perusahaan.
“Keselamatan tidak boleh dianggap selesai. Ini harus menjadi kesadaran kolektif dan prioritas utama dalam setiap lini pelayanan dan operasionl kami," tutur Heru sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Tanggung Beban
Sebelumnya, ASDP mengungkapkan kinerja keuangannya sepanjang 2024 menanggung beban biaya hingga mencapai sekitar Rp80,81 miliar. Sementara itu, pada 2025 tercatat sebesar Rp50,62 miliar.
Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Direktur Utama ASDP Heru Widodo dalam rapat dengar pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR di Gedung Parlemen Jakarta, Kamis (2/4/2026) lalu.
“Kami itu ya menanggung beban ini yang sampai dengan tahun 2025 per tahunnya itu 50,62 miliar. Lalu kemudian tahun 2024 itu 80,81 miliar," ujar Heru sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Heru mengatakan, beban tersebut berasal dari layanan perintis perusahaan pelat merah melalui public service obligation (PSO) atau penugasan yang diberikan pemerintah kepada BUMN yang lebih besar dibandingkan layanan komersil.
Berdasarkan data paparannya, ASDP saat ini melayani sebanyak 227 lintasan perintis atau mengambil porsi 71,4%. Sementara itu, layanan komersil hanya sebanyak 91 lintasan atau setara 28,6%.
"Dari 28,6% kapal komersial ini, ini tentunya harus meng-cover sekitar 71,6% dari kapal perintis dan beberapa biaya yang kemudian tidak di-cover oleh biaya subsidi," tutur Heru sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di sisi lain, lanjut Heru, perseroan juga dihadapi dengan sebagian besar atau hampir sebanyak 100 aset kapal yang usianya telah mencapai lebih dari 30 tahun, yang sudah membutuhkan peremajaan. Mayoritas kapal yang sudah tua memiliki kapasitas kurang dari 1.000 penumpang.
"Kapal kami sebagian besar ini kapalnya di atas 30 tahun. Dan itu kapasitas ya itu kecil-kecil di bawah 1.000. Jadi mohon izin kami juga membutuhkan dukungan," kata Heru sebagaimana dilansir dari berita sumber.