BI Rate 5,25 Persen, Ekonomi Kuartal II dan III Diproyeksi Turun

Ilustrasi Volume bongkar muat peti kemas di Belawan. (Foto: Net)
Jumat, 22 Mei 2026 | 11:28:03 WIB

JAKARTA - Lonjakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) ke posisi 5,25% diproyeksikan bakal mulai menghambat kecepatan pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II dan III-2026. Di tengah upaya BI membentengi stabilitas nilai tukar rupiah serta inflasi, pemerintah diimbau untuk segera mengokohkan daya beli masyarakat sekaligus memacu belanja produktif supaya kemerosotan ekonomi tidak berlangsung lebih parah.

Ekonom yang juga Guru Besar Universitas Andalas, Syafruddin Karimi berpandangan bahwa peningkatan BI rate sebanyak 50 basis poin (bps) tersebut memang dibutuhkan demi mengamankan stabilitas mata uang rupiah dan ekspektasi inflasi. 

Kendati demikian, kebijakan moneter ketat ini juga berisiko menjepit tingkat konsumsi rumah tangga, investasi, aliran penyaluran kredit, hingga performa pasar saham.

Lewat kalkulasinya, pengetatan bunga acuan sebesar 50 bps berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi sekitar 0,4 sampai 0,7 poin persentase dari target semula. 

Apabila sebelumnya estimasi pertumbuhan ekonomi untuk kuartal II-2026 dipatok pada kisaran 5,5%-5,7%, maka pasca-kenaikan suku bunga tersebut angka pertumbuhan yang lebih masuk akal diproyeksikan melorot ke level 5,1%-5,2%. 

Sedangkan untuk kuartal III-2026, laju ekonomi diprediksi bertengger di rentang 4,9%-5,1%. Oleh sebab itu, Syafruddin mengimbau pemerintah untuk lekas merumuskan langkah penyelamatan agar beban ekonomi domestik tidak meluas.

"Pemerintah harus segera menahan dampak lanjutannya melalui belanja produktif, perlindungan daya beli, dan percepatan investasi," ujar Syafruddin, Kamis (21/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Setali tiga uang, Kepala Pusat Makroekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman berpendapat bahwa industri properti, otomotif, serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) bakal menjadi bidang yang paling rapuh menghadapi imbas kenaikan suku bunga. 

Hal ini dikarenakan sektor-sektor tersebut amat sensitif terhadap gejolak bunga kredit serta penurunan daya beli masyarakat.

Rizal memproyeksikan pergerakan ekonomi Indonesia di kuartal II-2026 masih sanggup bertahan pada rentang 5,1%-5,3%. Namun memasuki kuartal III-2026, laju pertumbuhan rawan melorot ke posisi 4,9%-5,1% jika konsumsi masyarakat dan ekspansi kredit terus menunjukkan pelemahan.

Di sisi berbeda, Kepala Ekonom Bank Central Asia atau BCA, David Sumual memperkirakan masih ada ruang bagi BI untuk kembali mengerek suku bunga acuan hingga 50 bps tambahan sampai penghujung tahun 2026. 

Menurutnya, ancaman itu membayangi akibat ketidakpastian geopolitik dunia yang mengunci harga energi di level tinggi, inflasi global yang memengaruhi rentang imbal hasil dengan bunga domestik, serta efek El Nino ditambah depresiasi rupiah terhadap inflasi dalam negeri.

Kendati begitu, David memandang kebijakan pemerintah yang memotong alokasi anggaran program makan bergizi gratis (MBG) serta efisiensi anggaran kementerian/lembaga justru berdampak positif bagi ketahanan fiskal.

"Usaha pemerintah memangkas anggaran MBG dan K/L sebenarnya positif bagi ketahanan fiskal sehingga akhirnya juga bisa menopang nilai tukar," ujar David, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan