Danantara Bikin Saham BUMN Diproyeksi Jadi Penopang Baru IHSG

ILUSTRASI, Logo BUMN (Sumber Gambar : Net)
Senin, 25 Mei 2026 | 11:32:04 WIB

JAKARTA - Saham emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) diperkirakan bakal menjadi motor penggerak baru yang menopang laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke depan, di kala pergerakan saham sektor swasta mulai tertahan.

Lonjakan daya tarik terhadap saham-saham perusahaan pelat merah ini didorong oleh munculnya sentimen positif dari rencana pendirian BPI Danantara. 

Berdasarkan informasi yang dihimpun, IHSG sendiri tercatat sudah merosot sebesar 28,74 persen hingga menyentuh posisi 6.162 sejak awal tahun 2026.

Kemerosotan indeks komposit tersebut disebabkan oleh tekanan aksi jual bersih oleh pemodal asing yang menembus angka Rp52,49 triliun di pasar reguler, terjadinya penurunan bobot pada indeks MSCI serta FTSE Russel, ditambah dengan melemahnya nilai tukar mata uang rupiah.

Pendiri Stockwise, Andry Hakim berpendapat bahwa emiten-emiten yang memiliki keterkaitan dengan BPI Danantara bakal menggeser tren besar yang sempat mendominasi sebelumnya, seperti fenomena bank digital serta inklusi MSCI. 

Alokasi porsi investasi saat ini dinilai mulai beralih menuju saham-saham bank BUMN yang masuk dalam kategori berkapitalisasi besar serta sektor komoditas.

"Kalau saya lihat sektor yang menarik itu di bidang BUMN karena swasta lagi dijegal," sebagaimana dilansir dari berita sumber kata Andry Hakim, Sabtu (23/5/2026).

Para pelaku pasar pun direkomendasikan untuk mencermati eksposur pada saham BUMN di bidang komoditas maupun sektor lainnya, lantaran dinilai mempunyai prospek yang jauh lebih menjanjikan ketimbang emiten swasta.

"Commodity BUMN saja, apa pun yang BUMN itu sepertinya akan menarik," sebagaimana dilansir dari berita sumber tutur Andry Hakim.

Di lain sisi, langkah pemerintah untuk memusatkan kegiatan ekspor komoditas mineral strategis melalui satu badan ekspor di bawah komando BPI Danantara menuai sorotan tajam dari jajaran lembaga pemeringkat internasional. 

S&P bersama Moody's Ratings memberikan peringatan terkait munculnya risiko ketidakpastian yang berpotensi memengaruhi peringkat kredit Indonesia.

"Rencana Indonesia untuk mengendalikan pengiriman komoditas secara terpusat dapat menekan ekspor, mengurangi pendapatan pemerintah, serta memengaruhi neraca pembayaran," sebagaimana dilansir dari berita sumber tulis S&P di dalam laporan resminya yang dikutip Jumat (22/5/2026).

Lembaga pemeringkat global lainnya pun ikut menggarisbawahi bahwa kebijakan sentralisasi ini berisiko membawa dampak negatif secara langsung terhadap tingkat profitabilitas korporasi di sektor pertambangan.

"Moody’s memandang rencana sentralisasi ekspor komoditas Indonesia sebagai negatif bagi kredit perusahaan tambang dan meningkatkan risiko distorsi pasar," sebagaimana dilansir dari berita sumber kata Moody’s dalam pernyataan resminya.

Kendati demikian, sistem satu pintu ini diperkirakan tetap mampu memperkuat pasokan aliran masuk devisa negara. BPI Danantara sendiri ditargetkan mulai menerapkan transaksi ekspor komoditas sumber daya alam melalui platform digital pada Januari 2027.

Reporter: Gemilang Ramadhan