Harga Emas Dunia Berisiko Koreksi jika Support Utama Gagal Bertahan

Ilustrasi Emas Batangan (Sumber Gambar : Net)
Senin, 25 Mei 2026 | 11:32:04 WIB

JAKARTA - Nilai komoditas emas global tetap berada di kisaran batas bawah yang krusial setelah menunjukkan tren mendatar selama beberapa minggu ke belakang.

Kendati demikian, beban depresiasi dianggap kian menguat sejalan dengan melonjaknya prediksi pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral AS serta kecemasan atas inflasi dunia yang dipicu oleh ketegangan di Iran. 

Nilai emas disudahi melemah 0,79% menuju posisi US$ 4.509,38 per ons troi pada hari Jumat (22/5/2026).

Analis Teknikal Senior dari Forex.com, Michael Boutros, mengutarakan bahwa fluktuasi emas saat ini tengah menyentuh fase krusial. 

Apabila batas bawah utama runtuh, nilai emas berpotensi terdepresiasi semakin parah. Namun sebaliknya, jika sanggup bertahan, potensi untuk bangkit kembali tetap ada, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Harga emas masih bergerak di dekat support penting pada area bawah range bulanan. Reaksi harga di zona ini akan menjadi penentu arah berikutnya,” tulis Boutros dalam riset teknikalnya.

Dari sudut pandang teknikal, Michael Boutros menguraikan bahwa batas bawah utama untuk nilai emas terletak pada rentang US$ 4.493–4.533 per ons troi. 

Wilayah tersebut ialah perpaduan antara titik penutupan paling tinggi sepanjang 2025 dan titik penutupan mingguan paling rendah pada 2026, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Jika harga emas ditutup di bawah zona itu, tekanan jual diperkirakan meningkat menuju level US$ 4.319 per ons troi hingga US$ 4.074–4.151 per ons troi,” tambah Boutros.

Di waktu yang sama, Michael Boutros mengimbuhkan bahwa titik hambatan atas awal emas berada pada rentang US$ 4.770 per ons troi dan diperkokoh oleh titik penting pada US$ 4.894 per ons troi.

Lompatan di atas wilayah itu diproyeksikan mampu membuka rute menuju sasaran selanjutnya pada US$ 5.025 hingga mencetak rekor tertinggi anyar pada US$ 5.279.

Indikator Signifikan Amerika Serikat

Michael Boutros berpendapat bahwa kecenderungan nilai emas pada pekan ini bakal amat ditentukan oleh angka inflasi Amerika Serikat (AS), terutama data Core Personal Consumption Expenditures (PCE) yang diproyeksikan keluar pada Kamis (28/5).

Angka tersebut menjadi tolok ukur inflasi utama bagi Federal Reserve dalam merumuskan langkah kebijakan suku bunga mereka.

Pada aspek lain, Michael Boutros mengimbau bahwa perselisihan di Iran yang belum memperlihatkan tanda-tanda mereda juga senantiasa mengembuskan kekhawatiran di pasar modal terkait meroketnya harga komoditas energi serta tekanan inflasi dunia.

Situasi tersebut memicu para pelaku pasar saat ini mengalkulasikan probabilitas mendekati 70% bahwa Federal Reserve bakal menaikkan suku bunga acuan lagi di tahun ini.

Untuk instrumen emas yang tidak menghasilkan bunga tetap, peningkatan suku bunga menjadi indikator yang kurang menguntungkan karena menaikkan magnet investasi pada aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi negara AS, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Selama harga bertahan di atas US$ 4.493 per ons troi, posisi bearish masih rentan. Namun, penutupan mingguan akan menjadi kunci arah pergerakan berikutnya,” jelas Boutros.

Reporter: Gemilang Ramadhan