Breaking

Pemulihan Pendidikan Pascabencana di Aceh Utara Dipercepat Pemerintah Bersama

GE
Jumat, 30 Januari 2026
Pemulihan Pendidikan Pascabencana di Aceh Utara Dipercepat Pemerintah Bersama
Pemulihan Pendidikan Pascabencana di Aceh Utara Dipercepat Pemerintah Bersama

JAKARTA - Upaya pemulihan sektor pendidikan pascabencana di Aceh Utara mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat dan daerah. Menyadari dampak besar bencana terhadap proses belajar-mengajar, pemerintah menegaskan percepatan rehabilitasi sekolah sebagai prioritas nasional. Kunjungan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti ke Aceh Utara pada Rabu (28/1/2026) menjadi bukti komitmen tersebut.

Melalui pemulihan yang terstruktur dan kolaboratif, diharapkan anak-anak Aceh dapat kembali menikmati pendidikan berkualitas meski pascabencana.

Peninjauan Sekolah Terdampak Bencana

Abdul Mu’ti meninjau langsung sejumlah sekolah yang masih menjalankan kegiatan belajar-mengajar di tenda darurat. Beberapa sekolah yang dikunjungi antara lain SMK Negeri 1 Baktiya, SMA Negeri 2 Muara Batu, SMA Kesuma Bangsa, SMP dan SD Muhammadiyah, SD Negeri 9 Jambo Aye, serta SMA Negeri 1 Baktiya.

Di SMA Negeri 1 Baktiya, Mendikdasmen meresmikan ruang kelas yang telah direvitalisasi melalui program sekolah tahun 2025. Program ini mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah kejuruan.

Prioritas Nasional dan Dukungan Presiden

Mendikdasmen menekankan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah pusat memfokuskan anggaran pada rehabilitasi dan revitalisasi sarana pendidikan di wilayah terdampak. Aceh dinilai sebagai provinsi paling siap dalam pelaksanaan program ini, ditandai dengan pelaksanaan bimbingan teknis percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi bidang pendidikan.

Abdul Mu’ti juga menyampaikan salam dari Presiden kepada Gubernur Aceh, sekaligus mengapresiasi dukungan Pemerintah Aceh. “Dukungan Pemerintah Aceh sangat membantu kelancaran program rehabilitasi dan rekonstruksi pendidikan. Diharapkan pada akhir tahun ajaran baru, sekolah yang direhabilitasi sudah dapat dimanfaatkan sepenuhnya, termasuk kelengkapan mobilernya,” jelasnya.

Untuk sekolah yang rusak berat atau membutuhkan relokasi, Mendikdasmen memperkirakan pemanfaatannya baru bisa dilakukan pada semester berikutnya, tahun ajaran 2026–2027.

Kolaborasi Pusat-Daerah Jadi Kunci Pemulihan

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Murthalamuddin, menyambut baik perhatian pemerintah pusat. Ia mengajak seluruh kepala sekolah, guru, dan pemangku kepentingan pendidikan untuk memanfaatkan dukungan ini secara optimal.

Dinas Pendidikan Aceh memastikan bahwa setiap langkah rehabilitasi dikawal secara ketat agar berjalan tepat waktu, sesuai standar, dan benar-benar berdampak pada kenyamanan serta keselamatan peserta didik.

Revitalisasi Sekolah dan Harapan Anak Aceh

Program revitalisasi sekolah mencakup perbaikan ruang kelas, fasilitas belajar, dan kelengkapan sarana pendidikan. Hal ini diharapkan tidak hanya mengembalikan fungsi sekolah, tetapi juga menghadirkan suasana belajar yang aman dan nyaman.

Melalui upaya ini, pemerintah ingin memastikan anak-anak Aceh yang terdampak bencana tetap dapat mengakses pendidikan berkualitas tanpa gangguan. Fokus pada percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi juga bertujuan mengurangi kesenjangan pendidikan akibat bencana, serta menumbuhkan kembali semangat belajar di tengah tantangan pascabencana.

Abdul Mu’ti menegaskan, setiap sekolah yang direvitalisasi akan siap digunakan sepenuhnya pada akhir tahun ajaran, sementara sekolah baru atau yang mengalami relokasi akan siap digunakan pada semester berikutnya. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan solusi berkelanjutan bagi pendidikan pascabencana.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua