Breaking

Keunikan Pisang Peppe Khas Makassar Menjadi Kuliner Pedas Yang Sangat Menggoda

GE
Selasa, 10 Februari 2026
Keunikan Pisang Peppe Khas Makassar Menjadi Kuliner Pedas Yang Sangat Menggoda
Keunikan Pisang Peppe Khas Makassar Menjadi Kuliner Pedas Yang Sangat Menggoda

JAKARTA - Makassar memang tidak pernah kehabisan cara untuk memanjakan lidah para pecinta kuliner melalui deretan hidangan tradisionalnya yang ikonik. Di antara sekian banyak kudapan yang tersebar di sudut kota, Pisang Peppe menempati posisi istimewa sebagai camilan yang memadukan tekstur renyah dengan sensasi pedas yang membangkitkan selera. 

Berbeda dengan olahan pisang pada umumnya yang cenderung manis, Pisang Peppe hadir dengan karakter yang kontras—gurih, asin, dan pedas—menjadikannya salah satu primadona kuliner yang selalu dicari, baik oleh warga lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Sulawesi Selatan.

Daya tarik utama dari hidangan ini terletak pada filosofi penyajiannya yang sederhana namun memiliki cita rasa yang kompleks. Nama "Peppe" sendiri diambil dari bahasa setempat yang berarti "digeprek" atau "dipukul hingga pipih", merujuk pada teknik pengolahan unik yang menjadi kunci utama kelezatannya. 

Bagi masyarakat Makassar, menikmati Pisang Peppe bukan sekadar aktivitas makan biasa, melainkan sebuah tradisi bersantai yang paling pas dilakukan di sore hari, ditemani semilir angin pantai dan secangkir teh atau kopi hangat.

Teknik Pengolahan Tradisional Yang Menghasilkan Tekstur Renyah Dan Gurih Sempurna

Rahasia kelezatan Pisang Peppe bermula dari pemilihan bahan baku yang sangat spesifik. Tidak semua jenis pisang cocok untuk diolah menjadi hidangan ini; para pedagang biasanya menggunakan pisang kepok yang masih mentah atau mengkal (belum matang). 

Pemilihan buah yang belum manis ini sangat krusial agar pisang tetap memiliki tekstur yang kokoh saat digoreng dan tidak lembek. Pisang yang masih hijau ini memberikan rasa dasar yang cenderung tawar namun gurih, sangat cocok untuk berpadu dengan bumbu pendampingnya yang kuat.

Proses pembuatannya melalui dua tahap penggorengan yang memerlukan ketelitian. Tahap pertama, pisang utuh digoreng sebentar hingga bagian luarnya mulai mengeras. Setelah itu, pisang diangkat dan segera digeprek menggunakan alat kayu khusus hingga berbentuk pipih. 

Teknik pengeprekan ini harus dilakukan dengan kekuatan yang pas agar pisang tidak hancur namun tetap tipis merata. Setelah pipih, pisang kemudian digoreng kembali untuk tahap kedua hingga teksturnya menjadi benar-benar renyah dan berwarna kuning keemasan. Hasil akhirnya adalah camilan yang crunchy di luar namun tetap terasa padat di bagian dalam.

Sambal Terasi Khas Makassar Sebagai Kunci Utama Kenikmatan Pisang Peppe

Apa yang membuat Pisang Peppe benar-benar tak terlupakan adalah saus pendampingnya yang autentik. Jika biasanya pisang goreng disajikan dengan taburan gula atau keju, Pisang Peppe justru wajib dinikmati bersama sambal terasi khas Makassar. 

Sambal ini diracik menggunakan perpaduan cabai rawit segar, tomat, garam, dan terasi pilihan yang memberikan aroma yang sangat menggugah. Keberadaan sambal inilah yang memberikan sentuhan pedas menggoda, menciptakan harmoni rasa yang unik saat bertemu dengan kegurihan pisang yang asin.

Sensasi memakan Pisang Peppe yang masih panas dengan cara dicocol ke sambal pedas memberikan pengalaman kuliner yang berbeda dari biasanya. Rasa pedas yang menyengat seketika dinetralkan oleh tekstur pisang yang gurih, membuat siapa pun yang mencicipinya sulit untuk berhenti sebelum porsinya habis. Inilah yang membuat 

Pisang Peppe sering disebut sebagai kuliner "penghilang kantuk" karena ledakan rasanya yang tajam dan segar, sangat berbeda dengan camilan manis yang seringkali membuat perasaan menjadi lebih santai.

Potensi Ekonomi Kreatif Dari Gerobak Pinggir Jalan Hingga Restoran Mewah

Kepopuleran Pisang Peppe tidak hanya berdampak pada kepuasan batin para penikmatnya, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kreatif di wilayah Makassar dan sekitarnya. Saat ini, Pisang Peppe sangat mudah ditemukan, mulai dari lapak gerobak di pinggir Pantai Losari hingga menu pembuka di hotel-hotel berbintang. 

Adaptasi kuliner ini ke berbagai kelas sosial menunjukkan bahwa warisan tradisi dapat tetap relevan dan memiliki nilai jual yang tinggi jika dikelola dengan baik dan konsisten dalam menjaga kualitas rasa.

Bagi banyak pelaku UMKM di Makassar, berjualan Pisang Peppe adalah sumber penghidupan yang menjanjikan. Dengan modal bahan baku yang relatif terjangkau namun memiliki peminat yang sangat luas, usaha ini terus berkembang pesat. 

Bahkan, beberapa pedagang kini mulai berinovasi dengan menambahkan berbagai varian pendamping seperti parutan keju di atas sambal atau tambahan kacang goreng untuk memberikan tekstur yang lebih kaya. Meski inovasi terus muncul, esensi dari "pisang yang digeprek" dengan sambal terasi tetap menjadi pakem yang tidak pernah ditinggalkan oleh para penjual aslinya.

Melestarikan Budaya Kuliner Lokal Sebagai Identitas Wisata Sulawesi Selatan

Di tengah arus globalisasi kuliner, keberadaan Pisang Peppe menjadi pengingat penting akan kekayaan budaya lokal yang harus terus dijaga. Upaya pelestarian ini penting agar generasi mendatang tetap mengenal identitas kuliner asli daerahnya. Pisang Peppe bukan sekadar makanan, ia adalah representasi dari kearifan lokal masyarakat Makassar dalam mengolah sumber daya alam yang melimpah—dalam hal ini pisang—menjadi sesuatu yang bernilai seni kuliner tinggi.

Dukungan dari pemerintah daerah dan sektor pariwisata sangat diperlukan untuk memperkenalkan Pisang Peppe ke panggung nasional maupun internasional. Melalui festival kuliner atau promosi wisata, Pisang Peppe dapat menjadi magnet bagi turis untuk berkunjung ke Makassar. 

Harapannya, camilan pedas menggoda ini tidak hanya dikenal di Sulawesi saja, tetapi bisa menjadi ikon kuliner Nusantara yang sejajar dengan rendang atau sate. Menikmati Pisang Peppe adalah cara terbaik untuk merayakan kekayaan rasa Indonesia yang beraneka ragam dan penuh kejutan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua