Breaking

Prospek Kinerja MEDC, RATU, dan RAJA Saat Harga Minyak Normal

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 08 Mei 2026
Prospek Kinerja MEDC, RATU, dan RAJA Saat Harga Minyak Normal
Ilustrasi MedcoEnergi (Sumber Gambar: net)

JAKARTA – Sebagian besar perusahaan di bidang produksi minyak dan gas (migas) telah merilis laporan keuangan untuk masa kuartal I-2026 dengan perolehan yang beragam. Kelangsungan emiten di sektor ini tidak hanya berpaku pada fluktuasi harga minyak mentah di pasar global, namun juga amat dipengaruhi oleh efisiensi operasional masing-masing perseroan.

PT Medco Energi International Tbk (MEDC) sebagai salah satu pemain utama berhasil mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 19,23% secara tahunan (yoy) menjadi US$ 668,30 juta pada triwulan pertama tahun ini. 

Perkembangan ini dibarengi dengan kenaikan laba bersih yang signifikan mencapai 282,40% yoy menjadi US$ 67,38 juta.

Situasi berbeda dialami oleh PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU) yang mengalami penurunan pendapatan bersih sebesar 16,83% yoy menjadi US$ 11,02 juta. 

Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk RATU juga turun 31,42% yoy ke posisi US$ 4,06 juta. Sementara itu, induk usahanya, 

PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), mencatatkan koreksi pendapatan bersih 16,39% yoy menjadi US$ 55,26 juta pada kuartal I-2026. Kendati demikian, RAJA tetap bisa mencetak kenaikan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar 28,38% yoy menjadi US$ 8,64 juta.

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, memaparkan bahwa keragaman performa emiten migas di awal tahun ini disebabkan oleh kombinasi harga minyak dunia, pola bisnis, jumlah produksi, efisiensi kerja, hingga periode pengakuan pendapatan tiap perusahaan. Meskipun tren penguatan harga minyak sejak Februari 2026 menjadi sentimen positif, efeknya tidak merata karena profil bisnis yang berbeda-beda.

Sebagai gambaran, MEDC mendapat keuntungan dari volume produksi yang besar serta stabilitas lifting, sehingga naiknya harga langsung memperkuat margin laba. 

Di sisi lain, RATU terbebani masalah operasional berupa penurunan volume produksi dan normalisasi harga jual. Sedangkan RAJA tetap mampu menjaga pertumbuhan laba di tengah merosotnya pendapatan melalui efisiensi biaya dan kontribusi sektor midstream yang lebih konsisten.

“Jadi, perbedaan arah kinerja bukan hanya dipengaruhi harga minyak, melainkan juga kualitas aset, struktur bisnis, dan performa operasional masing-masing emiten,” ujar dia sebagaimana dilansir dari berita sumber, Kamis (7/5/2026).

Muhammad Wafi, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), berpendapat bahwa peluang penguatan kinerja emiten migas setelah kuartal I-2026 tetap ada, walau cenderung lebih terbatas. Apabila ketegangan geopolitik menyusut dan harga minyak menurun, maka pertumbuhan harga jual rata-rata (ASP) diperkirakan bakal melambat.

Merujuk data Trading Economics, harga minyak dunia saat ini berada di posisi US$ 90 per barel. Namun, pertumbuhan masih bisa diraih lewat peningkatan volume produksi serta optimalisasi aset blok baru. Perusahaan dengan beban operasional minim akan lebih kuat menghadapi perubahan harga.

“Penentu kinerja bukan hanya pada harga minyak dunia, melainkan juga eksekusi operasional dan volume produksi,” imbuh dia sebagaimana dilansir dari berita sumber, Kamis (7/5/2026).

Menurut Wafi, para emiten perlu fokus menjaga efisiensi lifting, melakukan diversifikasi ke aset gas alam, dan lebih cermat dalam mengakuisisi blok migas baru demi menjaga performa. 

Arinda menambahkan bahwa kegiatan akuisisi blok migas diprediksi tetap berlanjut selama 2026 demi menjamin keberlanjutan produksi jangka panjang. Meski begitu, perusahaan saat ini lebih waspada dengan memprioritaskan aset berisiko rendah dan memiliki pengembalian modal yang cepat.

“Ekspansi masih menarik, tetapi pendekatannya akan lebih prudent dan berbasis efisiensi,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Kabar terbaru menyebutkan RATU berencana mengakuisisi SMS Development Limited dengan nilai US$ 141,21 juta. Arinda memberikan rekomendasi saham MEDC dengan target harga Rp 2.200 per saham. Sementara itu, Wafi memilih MEDC dan RAJA dengan target harga masing-masing di angka Rp 1.900 dan Rp 4.500 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua