Kejutan BI Rate Naik 5,25 Persen dan Dampaknya ke Pergerakan IHSG
JAKARTA – Langkah mengejutkan diambil oleh Bank Indonesia (BI) yang menetapkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 50 basis points (bps) hingga menyentuh angka 5,25% lewat Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026.
Keputusan ini tergolong di luar dugaan dari proyeksi konsensus sebelumnya yang memperkirakan suku bunga acuan cuma bakal merangkak naik 25 bps.
Menanggapi kebijakan tersebut, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyudahi perdagangan dengan koreksi melemah sebesar 0,82% menuju posisi 6.318,50 pada hari Rabu (20/5).
Kendati begitu, aksi beli bersih atau net buy oleh investor asing masih tercatat senilai Rp 249,17 miar di seluruh lini pasar.
Seorang pengamat pasar modal yang enggan diungkap identitasnya menguraikan bahwa kebijakan yang diambil BI ini memperlihatkan jika bank sentral bersama pihak pemerintah menyikapi tren penurunan nilai tukar rupiah dengan amat serius.
“Keputusan BI untuk menaikkan suku bunga sebesar 50 bps di atas estimasi konsensus merupakan pernyataan yang jelas bahwa mereka siap menstabilkan rupiah,” ucapnya, Rabu (20/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ia berpendapat, langkah tersebut pun selaras dengan agenda Presiden Prabowo dalam memusatkan aktivitas ekspor komoditas nasional, sehingga berpeluang menyuntikkan topangan ekstra bagi mata uang garuda.
“Rencana pengetatan ekspor komoditas berpotensi menuai kritik. Namun, dari sisi stabilitas rupiah, pasar akan melihatnya sebagai sentimen positif,” kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut pandangannya, para pelaku modal menganggap tingkat valuasi saham di tanah air sejatinya sudah terhitung murah. Akan tetapi, faktor ketidakpastian dari arah kebijakan pemerintah serta situasi makroekonomi masih membikin para investor bersikap waspada untuk menaruh modal ke pasar.
Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas, Chory Agung Ramdhani, menyampaikan jika penaikan suku bunga acuan ini bukan cuma berfungsi sebagai stimulan jangka pendek, melainkan turut menjadi fondasi bagi para pelaku pasar global.
“Ini memberikan pesan bahwa BI siap mempertahankan daya tarik aset domestik dan efeknya ke Rupiah diharapkan bisa lebih defensif dan struktural,” jelas Chory sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ketika perdagangan hari Rabu (20/5/2026) berakhir, pergerakan nilai tukar rupiah pada pasar spot terpantau menguat sebesar 0,29% ke posisi Rp 17.654 per dolar Amerika Serikat (AS). Selaras dengan itu, kurs rupiah Jisdor juga merangkak naik sebesar 0,19% ke angka Rp 17.685 per dolar AS.
Secara landasan teori, Chory memaparkan bahwa kenaikan suku bunga yang melampaui estimasi dapat memicu guncangan sesaat di bursa saham lantaran mengerek ongkos modal atau cost of equity sekaligus memberikan tekanan terhadap nilai valuasi saham.
“Jika langkah ini berhasil menahan pelemahan rupiah secara berkelanjutan, pasar saham berpotensi diuntungkan karena stabilitas makroekonomi dan nilai tukar sangat penting bagi investor institusi,” kata dia sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Lebih jauh, Chory memproyeksikan pergerakan IHSG ke depan masih akan diwarnai fluktuasi serta cenderung tertahan dalam fase konsolidasi selama beberapa hari mendatang, seiring langkah pelaku pasar yang tengah menjalankan penataan ulang (rebalancing) portofolio mereka.
Ia memprediksi arus modal masuk (inflow) akan mengalir lebih dulu ke sektor pasar obligasi atau SBN serta instrumen jangka pendek milik BI, layaknya SRBI. Ketika gejolak nilai tukar rupiah mulai mendingin dan berangsur stabil, Chory menyebut arus dana dari luar negeri bakal mengalir deras ke pasar modal.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis, turut mengutarakan bahwa imbas dari pengetatan suku bunga sebesar 50 bps ini terhadap pergerakan saham cenderung bervariasi; berdampak positif bagi ketahanan pasar, tetapi menyimpan risiko yang bisa menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
“Pasar berpotensi merespons positif dalam jangka pendek karena menunjukkan komitmen BI menjaga stabilitas makro. Inflow asing juga berpeluang kembali jika rupiah mulai stabil,” tuturnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam analisisnya, lini bisnis properti, teknologi, serta consumer discretionary diproyeksikan bakal menghadapi tekanan sebagai dampak dari tingginya suku bunga.
Sebaliknya, emiten perbankan berskala besar serta sektor-sektor penopang yang bersifat defensif dinilai masih prospektif untuk dipantau oleh para pelaku pasar.
Sementara itu, menurut estimasi Chory, naiknya suku bunga acuan membawa pengaruh yang beragam bagi sejumlah lini sektor. Sektor perbankan besar dinilai cenderung mendapatkan keuntungan, sedangkan sektor properti, otomotif, hingga teknologi memiliki potensi untuk mengalami tekanan yang lebih berat.