Breaking

Pasar Global Risk-Off, Mata Uang Safe Haven Mulai Menguat

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 26 Mei 2026
Pasar Global Risk-Off, Mata Uang Safe Haven Mulai Menguat
ILUSTRASI, Yen Jepang (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Kenaikan indeks dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini turut dibarengi oleh penguatan mata uang aman atau safe haven seperti yen Jepang dan franc Swiss. Situasi ini dipandang sebagai indikasi bahwa para pelaku pasar semakin waspada terhadap berbagai risiko global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Senin (25/5) jam 15.40 WIB, indeks dolar AS (DXY) bertengger di posisi 99,072. Selaras dengan tren tersebut, mata uang yen Jepang (JPY) bergerak di level 158,9 per dolar AS atau mengalami penguatan sebesar 0,25% dalam satu bulan terakhir. 

Di saat yang sama, mata uang franc Swiss (CHF) juga mencatatkan penguatan bulanan sekitar 0,46% ke posisi 0,782 per dolar AS.

Nuhammad Amru Syifa selaku Research and Development ICDX memaparkan bahwa apresiasi dolar AS yang terjadi secara simultan dengan yen Jepang dan franc Swiss mengisyaratkan pasar global sedang memasuki fase risk-off atau periode di mana investor lebih berhati-hati.

“Investor mulai kembali memburu aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global,” ujar Amru kepada Kontan, Senin (25/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut pandangannya, situasi tersebut memberi petunjuk bahwa minat terhadap mata uang safe haven kembali menanjak. Kondisi ini berarti para pemodal tidak sekadar memburu keuntungan dari dolar AS yang ditopang oleh tingkat bunga tinggi, melainkan juga mencari proteksi nilai aset di tengah sengkarut ekonomi serta geopolitik dunia.

Kendati demikian, para investor yang berniat menghimpun valuta asing safe haven sebagai instrumen investasi diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi fluktuasi yang tinggi di pasar valas, khususnya jika ada pergeseran ekspektasi atas kebijakan suku bunga di AS.

Amru menerangkan, jika bank sentral AS kembali bersikap lebih hawkish, dolar AS berpeluang menanjak secara masif dan memicu gejolak besar di pasar mata uang. 

Di sisi lain, pergerakan yen Jepang dan franc Swiss juga menyimpan risiko volatilitas andai bank sentral dari masing-masing negara tersebut melakukan intervensi pasar.

“Strategi yang dinilai lebih aman adalah melakukan diversifikasi pada aset safe haven dan pembelian secara bertahap,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia mengimbau para penanam modal untuk terus memantau dinamika geopolitik, rilis data inflasi di AS, hingga kebijakan dari barisan bank sentral utama dunia, lantaran sentimen-sentimen tersebut bakal mendominasi arah gerak pasar ke depan.

Mengenai proyeksi sampai separuh pertama tahun 2026, Amru menaksir indeks dolar AS (DXY) akan berfluktuasi di rentang 99-101. 

Walau pergerakannya masih disokong oleh tingkat suku bunga yang cukup tinggi, ruang bagi dolar untuk menguat lebih jauh diperkirakan kian menyusut seiring respons pasar dalam mengantisipasi stabilisasi langkah kebijakan The Fed.

Sementara itu, untuk pasangan mata uang USD/JPY diproyeksikan akan bergulir pada kisaran 157-160. 

Nilai estimasi ini memperlihatkan posisi yen yang cenderung masih tertekan akibat jurang perbedaan suku bunga yang lebar antara AS dan Jepang, walaupun bank sentral Jepang sudah mulai mengarah pada langkah normalisasi kebijakan moneter mereka.

Di sisi lain, pergerakan USD/CHF ditargetkan berada dalam rentang 0,77–0,80. Mata uang franc Swiss dinilai bakal tetap kokoh mempertahankan reputasinya sebagai aset pelindung di tengah pusaran ketidakpastian geopolitik serta tingginya volatilitas pasar keuangan dunia.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua