Breaking

Nilai Emas Dunia Naik 0,51 Persen Seiring Optimisme Damai AS dan Iran

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Rabu, 17 Juni 2026
Nilai Emas Dunia Naik 0,51 Persen Seiring Optimisme Damai AS dan Iran
Ilustrasi Emas (Sumber Gambar : Net)

NEW YORK – Nilai emas dunia kembali melonjak pada aktivitas transaksi Selasa (16/6/2026), meneruskan tren kenaikan selama empat hari berturut-turut. Apresiasi ini terjadi seiring munculnya optimisme terkait mufakat damai temporer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredakan kecemasan seputar inflasi global. Disadur dari Reuters, situasi tersebut memicu para pelaku pasar memangkas ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga acuan The Fed pada tahun ini.

Nilai emas spot ditutup meningkat 0,51% ke posisi US$ 4.331,23 per ons troi. Logam mulia ini bahkan sempat menggapai posisi tertinggi sejak 5 Juni pada sesi transaksi sebelumnya. 

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengantaran Agustus berakhir menguat tipis sekitar 0,03% ke level US$ 4.353,05 per ons troi.

Hembusan angin segar bagi komoditas emas berembus setelah Presiden AS Donald Trump memublikasikan kesepakatan temporer bersama Iran. 

Perjanjian tersebut memperpanjang masa gencatan senjata yang sebelumnya telah disetujui pada April untuk 60 hari ke depan, sekaligus memulihkan akses Selat Hormuz yang selama beberapa bulan ke belakang menjadi pusat ketegangan geopolitik. 

Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures David Meger menilai, prospek tercapainya mufakat antara AS dan Iran menjadi stimulus utama yang mendongkrak nilai emas dalam dua hari terakhir.

“Kesepakatan ini memicu penurunan suku bunga jangka pendek dan harga energi. Akibatnya, peluang The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga tahun ini menjadi lebih kecil,” ujar Meger sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dinamika diplomatik tersebut seketika memberikan pengaruh pada pasar energi. Nilai minyak Brent merosot ke bawah US$ 80 per barel untuk pertama kalinya semenjak awal Maret, menyusul koreksi tajam hampir 5% pada aktivitas transaksi Senin pascapengumuman mufakat temporer AS-Iran. 

Merosotnya nilai minyak mengakibatkan tekanan inflasi global melonggar. Situasi ini memangkas urgensi bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat dalam jangka panjang.

Berdasarkan data CME FedWatch, para pelaku pasar sekarang mengestimasi probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mendatang tinggal sekitar 60%, menyusut dari kisaran 70% pada minggu lalu.

Sebelumnya, perselisihan antara AS, Israel, dan Iran sempat menekan pergerakan pasar emas. Lonjakan nilai energi imbas pertempuran mendongkrak ekspektasi bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. 

Walaupun emas jamak dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, komoditas ini cenderung kurang memikat tatkala suku bunga bertengger di posisi tinggi lantaran tidak menawarkan imbal hasil.

Para pelaku pasar kini memfokuskan atensi mereka pada rangkaian agenda rapat bank sentral utama dunia pekan ini, khususnya ketetapan suku bunga The Fed yang bakal dirilis Rabu (17/6/2026) waktu setempat. 

Pertemuan ini sekaligus menjadi yang perdana di bawah kendali Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Selaras dengan emas, komoditas logam mulia lainnya turut membukukan peningkatan. 

Nilai perak spot merangkak naik 0,06% menuju US$ 70,02 per ons. Platinum melesat 2% ke posisi US$ 1.809,1 per ons, sedangkan paladium menguat sebesar 0,89% ke angka US$ 1.355,95 per ons.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua