Breaking

Analis Tetap Rekomendasi Beli Saham ISAT meski Pelanggan Turun

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 03 Juli 2026
Analis Tetap Rekomendasi Beli Saham ISAT meski Pelanggan Turun
ILUSTRASI, Saham PT Indosat Tbk (ISAT) tetap direkomendasikan beli meski jumlah pelanggan prabayar menurun. (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Prospek pergerakan saham PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai tetap cerah hingga akhir tahun 2026 meskipun jumlah pelanggan prabayar mereka tercatat menurun. Kenaikan konsumsi data serta langkah ekspansi ke sektor kecerdasan buatan (AI) diperkirakan akan terus menjadi motor penggerak utama bagi kinerja keuangan perusahaan telekomunikasi tersebut.

Sebagai informasi, Indosat mencatatkan penurunan jumlah pelanggan prabayar menjadi 92 juta pada kuartal I-2026 dari yang sebelumnya 94 juta pada periode yang sama di tahun lalu. 

Sementara itu, jumlah pengguna pascabayar tidak mengalami perubahan dan tertahan di angka 2 juta pengguna. 

Meski begitu, pihak manajemen memastikan bahwa basis pelanggan korporasi mereka sebenarnya masih sangat kuat, yang tercermin dari tren pengguna aktif harian, pengguna aktif bulanan, serta tingkat kunjungan aplikasi bulanan yang tetap berada di kondisi yang sehat.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menjelaskan bahwa penurunan pada sektor pelanggan prabayar ini sebenarnya menunjukkan persaingan di industri telekomunikasi yang masih ketat, terutama pada segmen konsumen yang sangat sensitif terhadap harga.

“Namun, penurunan tersebut belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental apabila pelanggan yang tersisa memiliki kualitas yang lebih baik dan menghasilkan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) yang lebih tinggi,” ujar Arinda, sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Kamis (2/7/2026).

Di sisi lain, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan memprediksi bahwa jumlah pelanggan Indosat akan mampu bertahan stabil di kisaran 93,7 juta, yang dibarengi dengan kenaikan trafik data sebesar 8,3% YoY menuju 19.120 petabyte (PB). 

Pada kuartal I 2026, realisasi dari trafik data dilaporkan sudah mencapai sekitar 25,7% dari target tahunan. Selain itu, Steven juga memproyeksikan komponen data yield akan stabil di angka Rp 2,44 per MB, sedangkan variabel ARPU akan naik secara terukur menjadi Rp 44.900 per pelanggan.

“Potensi kenaikan kinerja juga berasal dari bisnis home broadband (HBB). Tingkat penetrasi yang masih rendah diperkirakan mendorong pertumbuhan pelanggan HBB sebesar 6,6% YoY,” ujar Steven, sebagaimana dilansir dari berita sumber dalam riset 5 Mei 2026.

Tidak hanya itu, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Christopher Rusli melalui publikasi risetnya pada 8 Mei 2026 mencatat bahwa ISAT semakin aktif memperkuat posisinya sebagai AI Native Telco melalui kolaborasi bersama NVIDIA serta Google Gemini.

Pola kemitraan ini meliputi penyediaan paket layanan data berbasis AI yang terintegrasi, hingga berbagai produk AI komersial seperti Sahabat-AI dan SATSPAM.

Dari perspektif lain, lini bisnis AI Neocloud dinilai terus memiliki skala ekonomi yang semakin menjanjikan. Nilai pendapatan dari kontrak yang telah didapatkan diproyeksikan mencapai sekitar US$ 170 juta untuk jangka waktu tiga tahun ke depan.

Pihak manajemen juga mengklaim bahwa lini bisnis ini telah memberikan kontribusi positif bagi laba per saham (EPS) serta arus kas bebas (Free Cash Flow/FCF) semenjak awal masa pengoperasiannya.

Selain itu, program monetisasi FiberCo diperkirakan masih berjalan sesuai dengan target dan diproyeksikan akan selesai pada kuartal III 2026. Strategi ini dinilai berpotensi besar memberikan nilai tambah sekaligus memperkokoh fleksibilitas pada neraca keuangan perusahaan.

Arinda memprediksi bahwa prospek untuk ISAT hingga akhir tahun 2026 terpantau masih cukup cerah, didukung oleh pertumbuhan konsumsi data, optimalisasi pendapatan dari layanan digital, serta efisiensi biaya operasional pascamerger yang sampai saat ini masih terus berjalan. 

Selama perusahaan mampu mempertahankan tren kenaikan omzet data dan menjaga tingkat profitabilitas melalui strategi kontrol biaya, kinerja keuangan ISAT diproyeksikan tetap bertumbuh meskipun ekspansi pada aspek kuantitas pelanggan tidak dilakukan secara agresif.

Kinerja finansial ISAT pada paruh pertama 2026 dilaporkan berhasil tumbuh dua digit. ISAT sukses meraup total pendapatan mencapai Rp 15,22 triliun. 

Capaian ini melonjak sebesar 12,10% secara tahunan atau YoY dari posisi sebelumnya yang senilai Rp 13,57 triliun. 

Tren positif ini diikuti oleh perolehan keuntungan periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk ISAT yang mencapai Rp 1,49 triliun selama periode Januari-Maret 2026. Angka tersebut melompat sekitar 13,75% secara tahunan dari performa sebelumnya yang sebesar Rp 1,31 triliun.

Terkait dengan faktor pendorong, Arinda melihat bahwa lonjakan kebutuhan akan layanan data masih menjadi motor penggerak utama bagi ekspansi bisnis Indosat. 

Di samping itu, tingkat penetrasi jaringan 4G dan 5G, pembuatan layanan inovatif berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta digital, hingga peluang penghematan belanja modal (capital expenditure/capex) setelah proses integrasi infrastruktur jaringan semakin matang, juga berpotensi besar memperkuat kinerja keuangan perusahaan.

Di sisi lain, ia memberikan peringatan bahwa masih ada rentetan sentimen berisiko yang perlu diwaspadai. 

Perang tarif di industri telekomunikasi diprediksi tetap sengit, sementara fluktuasi penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menyimpan risiko memicu pembengkakan pengeluaran operasional karena sebagian pengadaan alat jaringan masih bergantung pada aktivitas impor.

Selain itu, penurunan daya beli masyarakat juga berisiko menghambat laju pertumbuhan konsumsi atas layanan telekomunikasi. Ditinjau dari faktor makro, arah kebijakan suku bunga internasional serta kondisi ekonomi dalam negeri ikut menjadi instrumen yang dapat memengaruhi tingkat belanja pengguna maupun keputusan investasi dari internal perusahaan.

Berdasarkan kalkulasi proyeksi dari Christopher, performa keuangan ISAT diperkirakan masih akan mencatatkan tren pertumbuhan pada tahun 2026. Omzet ISAT di tahun 2026 ditargetkan mampu mencapai level Rp 59,04 triliun, atau naik sekitar 4,5% YoY jika dibandingkan dengan perolehan sepanjang tahun 2025 yang berada di angka Rp 56,52 triliun.

Sejalan dengan performa tersebut, laba bersih diprediksi ikut terangkat ke posisi Rp 5,98 triliun pada tahun 2026, atau mencatatkan pertumbuhan sekitar 8,6% YoY dari capaian laba bersih tahun 2025 yang senilai Rp 5,51 triliun.

Dengan mempertimbangkan berbagai indikator pendorong serta faktor risiko tersebut, Christopher bersama Steven kompak memberikan rekomendasi beli untuk saham ISAT dengan patokan target harga berada di level Rp 2.500 per saham. Sementara itu, Arinda turut menyarankan para investor untuk melakukan aksi buy saham ISAT dengan acuan target harga berada di posisi Rp 2.800 per saham.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua