Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Pacu Pendidikan Teknologi Nasional

Sekolah Garuda dan Sekolah Rakyat Pacu Pendidikan Teknologi Nasional
Senin, 02 Februari 2026 | 10:41:43 WIB

JAKARAT - Kebijakan pendidikan yang digagas Presiden Prabowo Subianto melalui program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dinilai membawa arah baru yang lebih tegas, terutama dalam menjawab tantangan ketertinggalan Indonesia di bidang teknologi. Bukan sekadar memperbanyak akses sekolah, dua program ini dianggap punya misi spesifik: memperkuat sumber daya manusia (SDM) agar mampu bersaing dalam dunia yang makin ditentukan oleh penguasaan sains dan rekayasa.

Penilaian tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih. Ia menilai, dua program itu merupakan strategi mengejar ketertinggalan bangsa sekaligus mendorong pendidikan teknologi yang lebih terarah. Dalam pandangannya, Indonesia harus segera memperkuat ekosistem pendidikan teknologi terapan agar tidak tertinggal dari negara-negara yang lebih dahulu unggul.

Visi Pendidikan Baru untuk Kejar Ketertinggalan Teknologi

Abdul Fikri Faqih menilai kebijakan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda merupakan visi yang sangat spesifik. Menurutnya, negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan China sudah memiliki keunggulan industri teknologi yang nyata. Ia mencontohkan salah satu dampak yang terlihat jelas di Indonesia, yakni maraknya kendaraan listrik produksi negara-negara tersebut yang kini membanjiri jalanan Jakarta.

“Negara-negara lain sekarang, Amerika atau China, luar biasa. Ratusan ribu anak-anak China sekolahnya teknologi dan engineering. Jadi siap-siap, makanya anak-anak nanti tidak bisa kemudian bermain gim terus,” kata Abdul di Jakarta, Minggu.

Pernyataan itu menegaskan bahwa orientasi pendidikan Indonesia harus segera bergeser. Ia menilai anak-anak Indonesia perlu disiapkan menjadi generasi yang mampu memproduksi teknologi, bukan hanya menjadi pengguna. Karena itu, pendidikan berbasis teknologi dan engineering dianggap sebagai kebutuhan mendesak yang harus dikejar melalui kebijakan yang serius.

SDM Tetap Prioritas Meski Fokus Pemerintahan Berbeda

Di tengah keraguan sebagian publik terkait fokus pemerintahan baru pada sektor pertahanan, Abdul menegaskan bahwa pengembangan SDM tetap menjadi agenda prioritas. Ia menilai, hanya saja pendekatan pemerintahan saat ini berbeda dari pemerintahan sebelumnya.

Dengan adanya program Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda, Presiden Prabowo disebut ingin mengubah orientasi pendidikan Indonesia agar lebih menekankan penguasaan teknologi terapan. Pendidikan tidak lagi hanya dipahami sebagai proses akademik formal, melainkan sebagai strategi negara untuk membangun daya saing bangsa.

Abdul menilai langkah ini penting karena Indonesia sedang menghadapi persaingan global yang makin ketat. Jika pendidikan tidak segera diarahkan pada penguasaan teknologi, maka peluang Indonesia untuk mengejar kemajuan akan semakin berat.

Sekolah Rakyat: Menjangkau Prasejahtera dengan Pendekatan Kemiskinan

Dalam penjelasannya, Abdul menerangkan bahwa Sekolah Rakyat dirancang khusus untuk masyarakat prasejahtera. Program ini tidak hanya berbasis pendidikan semata, tetapi juga melibatkan koordinasi lintas kementerian dan menggunakan pendekatan bantuan sosial.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Sekolah Rakyat diposisikan sebagai kebijakan yang menjawab dua persoalan sekaligus: akses pendidikan dan kemiskinan. Negara ingin memastikan bahwa kelompok masyarakat yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas tetap mendapat ruang dan perhatian.

Abdul menilai langkah ini relevan, sebab ketertinggalan pendidikan kerap berakar dari ketimpangan ekonomi. Karena itu, Sekolah Rakyat dipandang sebagai jalan keluar agar anak-anak dari keluarga prasejahtera tetap memiliki peluang meningkatkan kualitas hidup melalui pendidikan.

Sekolah Garuda: Inkubator Talenta Unggul Berbasis STEM

Berbeda dari Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda disiapkan sebagai inkubator bagi siswa berbakat. Program ini ditujukan untuk mempersiapkan mereka menembus perguruan tinggi kelas dunia dengan fokus utama pada bidang sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM).

“Sekolah Garuda setingkat SLTA, SMA, atau SMK, terhubung dengan perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri, agar anak-anak pintar bisa tersambung langsung dengan pendidikan tinggi,” ujarnya.

Skema ini menunjukkan bahwa Sekolah Garuda tidak hanya menjadi sekolah unggulan biasa, tetapi juga menjadi jalur percepatan bagi siswa berprestasi agar bisa langsung terkoneksi dengan perguruan tinggi. Dengan model tersebut, siswa berbakat diharapkan memperoleh lingkungan belajar yang lebih mendukung, terarah, dan kompetitif.

Abdul menilai program ini penting untuk mempercepat lahirnya generasi muda yang unggul di bidang teknologi. Ia menekankan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki SDM berkualitas, khususnya pada sektor teknologi dan engineering yang kini menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia.

Ajakan Kolaborasi, Bukan Sekadar Kritik Pemerintah

Selain menyoroti substansi kebijakan, Abdul juga mengajak masyarakat untuk mengambil peran lebih aktif dalam memajukan pendidikan nasional. Menurutnya, publik tidak seharusnya hanya fokus mengkritik pemerintah, melainkan ikut berkolaborasi.

Ia menilai, program pendidikan yang besar tidak akan berjalan maksimal jika hanya mengandalkan pemerintah. Dukungan dari masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai pihak lain dibutuhkan agar tujuan mengejar ketertinggalan teknologi dapat benar-benar terwujud.

Dengan Sekolah Rakyat yang menyasar prasejahtera dan Sekolah Garuda yang membina talenta unggul, Abdul melihat kebijakan ini berpotensi memperkuat pendidikan nasional dari dua sisi sekaligus: pemerataan akses dan peningkatan kualitas. Harapannya, Indonesia dapat membangun generasi yang siap menghadapi dinamika global dan mampu menjadi pelaku utama dalam industri teknologi masa depan.

Reporter: Gemilang Ramadhan