Menperin Genjot Vokasi Industri Siapkan SDM Tangguh Hadapi Global

Menperin Genjot Vokasi Industri Siapkan SDM Tangguh Hadapi Global
Senin, 02 Februari 2026 | 10:41:49 WIB

JAKARTA - Perubahan peta persaingan industri dunia bergerak semakin cepat, dipengaruhi gejolak ekonomi, teknologi, hingga dinamika pasar global yang sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, kekuatan industri nasional tidak cukup hanya ditopang oleh investasi mesin dan fasilitas produksi, melainkan juga oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengoperasikan, mengembangkan, dan menjaga daya saing industri itu sendiri.

Karena itu, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk memperkuat daya saing industri nasional melalui penyiapan SDM yang kompeten. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menilai, tenaga kerja ahli menjadi salah satu kunci utama agar industri Indonesia mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah ketatnya kompetisi global.

“Ketersediaan SDM industri yang kompeten menjadi salah satu penggerak utama. Faktor ini berperan penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional,” ujar Agus di Jakarta, Sabtu, 31 Januari 2026.

SDM Kompeten Jadi Mesin Penggerak Daya Saing Industri Nasional

Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan penguatan industri nasional harus berjalan seiring dengan penyiapan SDM yang unggul. Menurutnya, dinamika pasar global menuntut industri untuk lebih adaptif, inovatif, dan efisien. 

Ketersediaan tenaga kerja kompeten pun menjadi fondasi penting dalam menjawab tantangan tersebut.

Pemerintah, kata Agus, secara konsisten menyelenggarakan pendidikan vokasi industri yang selaras dengan kebutuhan nyata dunia usaha manufaktur. Vokasi industri tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja, tetapi juga pada pembentukan talenta yang mampu mengikuti perkembangan industri modern.

Dalam catatan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sebanyak 5.386 lulusan dari unit pendidikan Kemenperin telah terserap secara masif oleh berbagai sektor industri nasional. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan vokasi berbasis kebutuhan industri telah berjalan dan menghasilkan output yang dibutuhkan dunia kerja.

Serapan Lulusan Vokasi Kemenperin Tembus Ribuan Orang


Keberhasilan vokasi industri Kemenperin tidak hanya terlihat dari jumlah lulusan, tetapi juga dari tingkat serapan yang tinggi. Kemenperin mencatat tingkat serapan lulusan vokasi mencapai 68 persen dan diprediksi menyentuh angka 100 persen dalam waktu dekat.

Capaian ini menjadi modal penting bagi pembangunan industri pengolahan nasional yang lebih berkelanjutan dan kompetitif. Tingginya serapan lulusan juga memperlihatkan bahwa pendidikan vokasi yang dirancang sesuai kebutuhan industri mampu menjadi jawaban konkret atas persoalan ketenagakerjaan, sekaligus mendorong peningkatan kualitas tenaga kerja nasional.

Lebih jauh, program vokasi juga diarahkan untuk menjawab tantangan jangka panjang, termasuk kebutuhan tenaga kerja terampil dalam transformasi industri, digitalisasi manufaktur, serta peningkatan produktivitas sektor pengolahan.

Kolaborasi Internasional Cetak Talenta Unggul Berstandar Global

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Doddy Rahadi menyatakan, program kolaborasi internasional menjadi wujud nyata dalam mencetak talenta unggul. Menurut Doddy, pengalaman belajar langsung dalam lingkungan industri global merupakan bagian penting dalam membentuk tenaga kerja yang cerdas, adaptif, dan siap bersaing.

“Kami meyakini pengalaman belajar langsung di lingkungan industri melalui praktik kerja industri internasional menjadi bagian penting. Pengalaman tersebut membentuk smart talent yang siap menghadapi era industri modern,” ujar Doddy.

Para mahasiswa mendapatkan pelatihan teknis serta praktik kerja internasional guna menghadapi perkembangan pesat era industri modern. Dalam program tersebut, sepuluh mahasiswa terpilih telah menyelesaikan program khusus pada lingkungan industri teknologi tinggi di negara Tiongkok.

Doddy menjelaskan, tenaga kerja masa depan wajib menguasai transformasi digital serta konsep manufaktur cerdas yang mutakhir. Karena itu, peserta didik mempelajari teknologi internet of things serta kecerdasan buatan untuk meningkatkan standar kompetensi teknis mereka, sehingga selaras dengan kebutuhan industri yang makin digital dan berbasis teknologi tinggi.

Dari IoT hingga Bahasa Mandarin, Bekal Lengkap untuk Era Manufaktur Cerdas

President Qingdao Technical College (QTC) Xing Guanlu menyebut program kerja sama ini sebagai langkah strategis dalam memperdalam integrasi pendidikan global. Ia mengapresiasi keberhasilan peserta program yang dinilai mampu menguasai keahlian teknis sekaligus kemampuan komunikasi menggunakan Bahasa Mandarin.

“Saya berharap para peserta dapat membawa kembali ke Indonesia seluruh pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang diperoleh di Tiongkok. Mereka juga diharapkan menjadi profesional yang mahir berbahasa Mandarin, unggul secara teknis, dan memiliki wawasan budaya yang luas,” ujar Xing.

Xing berharap para lulusan dapat menjadi profesional yang andal, berdaya saing tinggi, serta memiliki wawasan budaya internasional yang luas. Ia juga menekankan pentingnya agar pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama di luar negeri dapat menjadi kontribusi nyata untuk penguatan industri di Indonesia.

Program ini memperlihatkan bahwa peningkatan kompetensi SDM industri tidak hanya terkait keterampilan teknis, tetapi juga mencakup kemampuan komunikasi dan pemahaman lintas budaya, yang kini semakin dibutuhkan dalam dunia kerja global.

Komitmen Lanjutkan Kelas Internasional, Alumni Siap Masuk Industri Besar

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Pendidikan Vokasi Industri (PPPVI) Wulan Aprilianti Permatasari menegaskan komitmen pemerintah untuk melanjutkan pelaksanaan program kelas internasional tersebut. Ia menargetkan pengiriman angkatan mahasiswa berikutnya guna memperkuat ikatan kerja sama antara institusi pendidikan dan industri.

“Kami berharap program ini dapat terus berlanjut dengan pengiriman angkatan mahasiswa berikutnya. Program tersebut juga diharapkan memperkuat kerja sama dan ikatan antarinstitusi,” ujar Wulan.

Para alumni program ini selanjutnya akan memulai karier profesional pada pabrik manufaktur besar yang berlokasi di Demak, Jawa Tengah. Kehadiran mereka diharapkan mampu membuktikan kualitas serta daya saing tinggi SDM Indonesia di tingkat dunia.

Ke depan, transformasi pendidikan vokasi melalui kerja sama global akan terus ditingkatkan demi mendukung visi pembangunan nasional Asta Cita. Pemerintah optimistis sinergi lintas negara mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil dan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Reporter: Gemilang Ramadhan