Ibu Guru Hikayati, Mengajar di Lantai dan Bermimpi Setinggi Langit

Ibu Guru Hikayati, Mengajar di Lantai dan Bermimpi Setinggi Langit
Senin, 02 Februari 2026 | 10:41:51 WIB

JAKARATA - Di tengah derasnya arus digitalisasi, banyak hal berubah cepat—termasuk cara manusia belajar dan mengakses informasi. Namun, ada satu peran yang tetap tak tergantikan: guru. Teknologi boleh menghadirkan kemudahan, tetapi sentuhan pendidik dalam membentuk karakter, nilai, dan cara berpikir generasi masa depan tetap menjadi fondasi yang tak tergoyahkan.

Di ruang belajar yang jauh dari kata mewah, semangat itu justru tumbuh kuat. Nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan kebermanfaatan ditanamkan dari hari ke hari. Dari tempat yang tampak kecil dan sederhana, lahir harapan besar yang kelak bisa mengubah kehidupan banyak orang.

Nilai-nilai ini pula yang sejalan dengan semangat pemberdayaan yang dibawa PNM: bahwa perubahan besar sering kali berawal dari ketulusan langkah kecil yang dijaga secara konsisten.

Salah satu cerita inspiratif datang dari Serang, Banten. Di sana, ada seorang perempuan binaan PNM Mekaar yang menjalani peran ganda—sebagai pendidik sekaligus pejuang ekonomi keluarga. 

Namanya Hikayati, seorang guru MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah) yang mengajar setiap hari dengan penuh keikhlasan.

Guru Tetap Jadi Fondasi Meski Zaman Serba Digital

Memasuki era digitalisasi, peran guru tetap menjadi fondasi penting dalam membangun generasi masa depan, karena bukan hanya menyampaikan pengetahuan, namun juga membentuk karakter, nilai, dan arah berpikir yang tak bisa digantikan oleh teknologi.

Hal itu terlihat jelas dalam keseharian para pendidik yang bekerja dalam keterbatasan. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga menanamkan keteladanan. Mereka mengajarkan disiplin, empati, dan semangat belajar yang tak bergantung pada fasilitas. Di ruang-ruang sederhana, anak-anak tetap dibimbing untuk memahami ilmu dan menguatkan akhlak.

Dari ruang belajar sederhana, nilai semangat, kesederhanaan dan kebermanfaatan terus ditanamkan kepada anak-anak. Nilai-nilai inilah yang juga sejalan dengan semangat pemberdayaan yang dihadirkan PNM, bahwa perubahan besar kerap tumbuh dari ketulusan langkah-langkah kecil yang konsisten dijaga.

Ruang Belajar Sederhana, Semangat Hikayati Tak Pernah Padam

Salah satu certia dari lapangan yang menarik datang dari Serang, Banten. Hikayati, seorang perempuan inspiratif binaan PNM Mekaar yang juga berperan sebagai guru MDTA (Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah), setiap hari mengajar dengan penuh keikhlasan.

Di ruang belajar yang sangat sederhana, ia tetap menyalakan semangat belajar bagi murid-muridnya meski hanya beralaskan lantai. Baginya, kebahagiaan bukan diukur dari materi, melainkan saat melihat anak-anak didiknya mampu membaca, menulis, dan menghafal doa-doa.

Kalimat itu bukan sekadar motivasi, tetapi menjadi prinsip yang ia tanamkan kepada murid-muridnya. Keterbatasan tidak dijadikan alasan untuk berhenti bermimpi. Justru dari lantai tempat mereka duduk belajar, Hikayati ingin murid-muridnya memandang masa depan dengan kepala tegak.

“Kami memang belajar di lantai, tapi saya selalu bilang ke anak-anak, mimpi kita harus setinggi langit,” tutur Hikayati.

Ungkapan sederhana tersebut mencerminkan betapa besar harapan yang ia titipkan kepada anak-anak. Di balik kesederhanaan ruang belajar, ia membangun keyakinan bahwa pendidikan bisa menjadi jalan keluar dari keterbatasan.

Perempuan Berdaya: Mengabdi sebagai Guru, Mandiri Lewat Usaha

Di balik perannya sebagai pendidik, Hikayati juga mengembangkan usaha kecil untuk menambah penghasilan keluarga. Dukungan tersebut membuatnya dapat tetap mengajar dengan tenang tanpa harus meninggalkan panggilan hatinya sebagai guru.

Langkah Hikayati memperlihatkan bagaimana perempuan mampu berdiri di dua peran sekaligus: tetap mengabdi, tetapi juga berjuang agar keluarga tetap bertahan secara ekonomi. 

Ia tidak meninggalkan profesi mengajar yang ia cintai, namun juga tidak menutup mata terhadap kebutuhan rumah tangga.

Pendekatan pemberdayaan yang tidak hanya menghadirkan modal, tetapi juga pendampingan berkelanjutan, menjadi kekuatan yang membantunya menjaga keseimbangan antara pengabdian dan kemandirian ekonomi.

Dukungan PNM menjadi penopang penting bagi perempuan seperti Hikayati. Dengan akses pemberdayaan yang tepat, perempuan tidak harus memilih antara keluarga dan pengabdian sosial. Keduanya dapat berjalan beriringan, selama ada ruang dan kesempatan untuk tumbuh.

PNM: Dampak Pemberdayaan Ibu Menjangkau Anak dan Masa Depan

Kisah Hikayati bukan hanya tentang seorang guru, tetapi juga tentang bagaimana pemberdayaan perempuan bisa memberi dampak berlapis. Ketika seorang ibu memiliki kesempatan untuk berkembang, pengaruhnya tidak berhenti pada dirinya sendiri—tetapi menjalar pada keluarga, lingkungan, dan anak-anak yang ia bimbing.

“Kisah Ibu Hikayati menunjukkan bahwa saat seorang perempuan diberi akses untuk berdaya, ia tetap bisa mengabdi sambil menguatkan keluarganya. Kami percaya, ketika seorang ibu tumbuh, dampaknya terasa sampai ke anak-anak yang ia didik dan masa depan yang sedang mereka siapkan,” ujar Sekretaris Perusahaan PNM Lalu Dodot Patria Ary.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa program pemberdayaan bukan sekadar bantuan ekonomi, melainkan upaya menciptakan ketahanan keluarga dan kualitas generasi. Seorang ibu yang kuat dan mandiri akan lebih mampu mendidik, mendampingi, serta menanamkan nilai hidup kepada anak-anaknya.

Ketangguhan Ibu dan Peran Guru, Dua Kekuatan yang Saling Menguatkan

Kisah ini menegaskan bahwa peran guru dan ketangguhan ibu adalah dua kekuatan yang saling menguatkan dalam membangun masa depan. Dari ruang belajar sederhana dan langkah usaha kecil yang dijalankan dengan tekun, lahir generasi yang berilmu sekaligus keluarga yang lebih berdaya.

Guru menanamkan nilai dan harapan, sementara ibu tangguh membuktikan bahwa pengabdian dan kemandirian bisa berjalan beriringan, menjadi cahaya yang pelan tapi pasti menerangi lingkungan sekitarnya.

Dalam diri Hikayati, dua kekuatan itu berpadu: keteguhan seorang pendidik dan ketangguhan seorang ibu. Dari lantai tempat murid-muridnya belajar, ia mengajarkan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar pelajaran—ia mengajarkan cara memandang hidup dengan harapan, dan cara bertahan dengan martabat.

Reporter: Gemilang Ramadhan