Strategi MSIN Gabungkan RCTI+ dan Vision+ Perkuat Ekosistem Digital Perseroan
JAKARTA - Emiten media milik Hary Tanoesoedibjo PT MNC Digital Entertainment Tbk (MSIN) berencana mengintegrasikan dua platform streaming unggulannya yakni RCTI+ dan Vision+ guna memperkuat fundamental bisnis.
Langkah korporasi ini diambil sebagai strategi matang perseroan dalam membangun ekosistem digital yang jauh lebih efisien dengan tingkat daya saing tinggi. Keputusan penggabungan tersebut diharapkan mampu mendongkrak potensi pendapatan perseroan secara signifikan melalui skema monetisasi yang lebih terintegrasi dalam satu pintu.
Optimalkan Efisiensi Biaya dan Monetisasi Pendapatan
Direktur Utama MSIN, Angela Tanoesoedibjo, menegaskan bahwa rencana penyatuan kedua platform tersebut didasarkan pada pertimbangan efisiensi beban operasional. Perseroan melihat adanya peluang besar untuk melakukan optimalisasi pendapatan di masa depan melalui penyederhanaan struktur layanan Over-the-Top (OTT) yang mereka miliki. "Kami melihat dari sisi biaya maupun dari sisi pendapatan, oleh karena itu ke depannya RCTI+ dan Vision+ sudah saatnya di-merge," ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Angela dalam paparan publik insidentil yang digelar secara virtual pada Kamis 16 April 2026 yang lalu. Saat ini, jajaran manajemen MSIN tengah menggodok perencanaan detail mengenai teknis integrasi agar transisi berjalan dengan mulus tanpa kendala berarti. Fokus utama dari aksi ini adalah memastikan setiap operasional perusahaan mencapai titik maksimal dalam mendukung strategi monetisasi di dalam ekosistem.
Meningkatkan Pengalaman Pengguna Melalui Ekosistem Terpadu
Penyatuan dua kekuatan besar ini juga diproyeksikan bakal memperbaiki alur perjalanan pengguna atau user journey bagi jutaan pelanggan mereka. Dengan sistem yang terintegrasi, pelanggan akan merasakan pengalaman yang lebih simpel dan nyaman saat mengakses berbagai konten hiburan digital. Interaksi pengguna di dalam layanan OTT yang menyatu diyakini akan memberikan dampak positif pada loyalitas konsumen dalam jangka panjang.
Angela menambahkan bahwa pengalaman pengguna yang lebih baik merupakan kunci utama untuk membuka keran pendapatan baru melalui program upselling. Melalui penggabungan RCTI+ dengan Vision+, perusahaan dapat lebih mudah menawarkan paket-paket langganan yang lebih premium kepada basis pengguna luas. Potensi pertumbuhan bisnis ini dinilai sangat menjanjikan mengingat profil pengguna kedua platform tersebut yang saling melengkapi satu sama lain.
Kinerja Solid MSIN Sepanjang Tahun 2025
Rencana merger ini muncul ke permukaan di tengah tren performa bisnis digital MSIN yang menunjukkan kurva pertumbuhan yang sangat pesat. Berdasarkan data laporan keuangan terakhir, perseroan berhasil membukukan laba bersih yang cukup impresif yakni mencapai angka Rp985 miliar pada 2025. Pendapatan total perusahaan pun mengalami kenaikan sebesar 18% secara tahunan (YoY) menjadi Rp3,83 triliun dibandingkan Rp3,23 triliun pada 2024.
Kenaikan pendapatan tersebut didorong oleh ekspansi ekosistem digital yang konsisten, terutama pada sektor konten, hak kekayaan intelektual (IP), dan iklan. Aliran pendapatan dari iklan online sendiri menyumbang sebesar Rp856,91 miliar sepanjang tahun 2025, atau tumbuh sekitar 2% secara tahunan. Keberhasilan ini membuktikan bahwa strategi monetisasi pada platform Advertising-based Video on Demand (AVOD) seperti RCTI+ telah berjalan dengan efektif.
Struktur Bisnis dan Diversifikasi Pendapatan Digital
Sebagai informasi, MSIN mengandalkan 3 pilar bisnis utama dalam menjalankan roda usahanya di industri media kreatif dan digital tanah air. Pilar pertama meliputi konten dan Intellectual Property (IP), sementara pilar kedua berfokus pada Multi-Channel Network (MCN) serta agensi digital. Adapun pilar ketiga adalah layanan streaming Over-the-Top (OTT) yang selama ini diisi oleh RCTI+, Vision+, dan platform V+Short.
Khusus pada lini OTT, RCTI+ beroperasi sebagai penyedia layanan berbasis iklan, sedangkan Vision+ fokus pada layanan berlangganan atau Subscription Video on Demand (SVOD). Secara akumulasi, ketiga platform digital di bawah bendera MSIN tersebut memiliki jumlah pengguna aktif bulanan (MAU) mencapai 110 juta orang. Dari jumlah tersebut, total pelanggan berbayar yang tercatat telah menyentuh angka 4,9 juta, yang menunjukkan potensi besar untuk terus ditingkatkan.
Visi Ekspansi Global dan Secondary Listing
Selain fokus pada integrasi internal, MSIN juga tengah mempersiapkan langkah strategis untuk mengepakkan sayap bisnisnya di kancah internasional. Perseroan diketahui sedang menyusun rencana proses secondary listing di bursa luar negeri guna memperluas basis investor secara global. Langkah ini diambil untuk meningkatkan visibilitas perusahaan di mata investor mancanegara dan memperkuat struktur permodalan untuk ekspansi di masa depan.
Diversifikasi pendapatan menjadi sangat krusial bagi MSIN agar tidak hanya bergantung pada satu saluran distribusi konten digital saja. Dengan memiliki ekosistem yang mandiri, perseroan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari setiap Intellectual Property (IP) yang mereka produksi sendiri. Kombinasi antara efisiensi internal dan ekspansi pasar global diharapkan mampu membawa MNC Digital Entertainment menjadi pemain dominan di Asia Tenggara.