Struktur Baru Dewan Komisaris Bank Syariah Indonesia (BRIS) 2026
JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) resmi menunjuk Sigit Pramono dan KH Muhammad Cholil Nafis sebagai komisaris baru dalam agenda RUPST tahun buku 2025.
Keputusan krusial ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) perseroan untuk Tahun Buku 2025. Rapat tersebut secara resmi menetapkan KH Muhammad Cholil Nafis menduduki jabatan sebagai Komisaris Independen.
Selain itu, forum pemegang saham juga menyepakati penunjukan Sigit Pramono sebagai Komisaris di tubuh perseroan. KH Muhammad Cholil Nafis sendiri saat ini masih aktif menjalankan tugas selaku Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sementara itu, Sigit Pramono dikenal sebagai figur berpengalaman yang kini menjabat Rektor Institut Agama Islam SEBI. Rekam jejak profesionalnya mencatat pengalaman panjang di industri keuangan nasional selama beberapa dekade terakhir.
Sigit juga pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) atau BNI periode 15 Desember 2003 hingga 6 Februari 2008. Informasi mengenai riwayat jabatan tersebut dikutip sesuai dengan data resmi emiten berkode saham BRIS.
Penetapan kedua tokoh ini diharapkan mampu memberikan perspektif baru bagi pengawasan strategis Bank Syariah Indonesia. Efektivitas jabatan tersebut tinggal menunggu hasil penilaian kemampuan dan kepatuhan dari regulator keuangan.
“Berlaku efektif setelah memeroleh hasil uji kelayakan dan kepatutan Otoritas Jasa Keuangan (OJK),” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Ketentuan ini menjadi syarat mutlak bagi setiap pengurus baru di sektor perbankan.
Setelah perubahan ini, posisi Komisaris Utama tetap dipegang oleh Muhadjir Effendy yang memimpin dewan tersebut. Terdapat juga Felicitas Tallulembang yang menjalankan peran sebagai Komisaris Independen di jajaran yang sama.
Anggota dewan lainnya meliputi Mochamad Agus Rofiudin serta Kamaruddin Amin yang duduk di kursi Komisaris. Selain itu, Nizar Ahmad Saputra dan Addin Jauharudin turut memperkuat fungsi pengawasan independen perusahaan.
Pada sisi eksekutif, posisi Direktur Utama Bank Syariah Indonesia masih dipercayakan kepada sosok Anggoro Eko Cahyo. Ia didampingi oleh Bob Tyasika Ananta yang mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Direktur Utama.
Manajemen operasional juga diperkuat oleh Kemas Erwan Husainy yang memimpin divisi Direktur Retail Banking perseroan. Kemudian, aspek teknologi ditangani oleh Muharto Hadi Suprapto dalam kapasitas sebagai Direktur Information Technology.
Strategi keuangan perusahaan berada di bawah kendali Ade Cahyo Nugroho selaku Direktur Finance & Strategy. Penjualan dan distribusi dikelola oleh Anton Sukarna yang menjabat posisi Direktur Sales & Distribution.
Kepatuhan dan sumber daya manusia menjadi fokus utama bagi Arief Adhi Sanjaya sebagai Direktur Compliance & Human Capital. Manajemen risiko yang ketat dijalankan oleh Grandhis Helmi Harumansyah selaku Direktur Risk Management.
Zaidan Novari mengemban tugas sebagai Direktur Wholesale Transaction Banking untuk mengurusi transaksi skala besar korporasi. Terakhir, jajaran direksi dilengkapi oleh Firman Nugraha yang menjabat Direktur Treasury & International Banking.
Selain jajaran manajemen, struktur Dewan Pengawas Syariah (DPS) juga menjadi perhatian penting dalam pengumuman tersebut. Prof. Dr. K.H. Hasanudin, M.Ag. tetap dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Ketua DPS.
Anggota dewan pengawas ini terdiri dari para pakar syariah seperti Dr. K.H. Mohamad Hidayat, SE, M.H, M.Ag. Selain itu, terdapat pula sumbangsih pemikiran dari Dr. H. Oni Sahroni MA dalam dewan tersebut.
Prof. Dr. Jaih Mubarok, SE., MH,. M.Ag. serta Dr. K.H. Abdul Ghofur Maimoen, MA. melengkapi formasi DPS. Kehadiran mereka memastikan seluruh operasional bank tetap selaras dengan prinsip-prinsip syariah yang berlaku.