IGC Prediksi Produksi Gandum dan Jagung Global Turun Kuartal Dua 2026

ILUSTRASI, Gandum (Sumber Gambar : zakatsukses.org)
Selasa, 12 Mei 2026 | 09:31:00 WIB

JAKARTA – Proyeksi penurunan produksi gandum dan jagung dunia untuk musim 2026–2027 memperkuat adanya risiko baru terhadap ketahanan pangan global. 

Di waktu yang bersamaan, Indonesia turut dibayangi risiko penyusutan hasil panen beras pada kuartal II/2026 yang disebabkan oleh turunnya luas panen serta faktor cuaca ekstrem.

Berdasarkan laporan Western Producer, International Grains Council (IGC) atau Dewan Biji-bijian Internasional menaksir total produksi biji-bijian di seluruh dunia akan mengalami penurunan sebesar 60 juta ton. 

Kemerosotan ini utamanya terjadi pada komoditas jagung dan gandum, sedangkan produksi kedelai justru mengalami peningkatan. Tekanan terhadap sektor ini muncul di tengah tingginya harga pupuk dan ancaman El Nino yang mulai mengintai berbagai sentra produksi utama di dunia. 

Situasi tersebut berisiko memicu fluktuasi harga pangan internasional, yang juga akan berdampak pada negara-negara importir termasuk Indonesia.

Estimasi untuk produksi gandum global diperkirakan berkurang 23,9 juta ton menjadi 820,8 juta ton. Penurunan signifikan bersumber dari negara-negara eksportir utama dengan total kehilangan mencapai 35,4 juta ton. 

Secara terperinci, Amerika Serikat diperkirakan kehilangan produksi sebesar 7,2 juta ton, Uni Eropa menyusut 5,8 juta ton, Australia berkurang 4,2 juta ton, dan Kanada turun 3,4 juta ton.

Di Amerika Serikat, kendala terbesar menimpa tanaman gandum musim dingin merah keras akibat kekeringan ekstrem di wilayah dataran selatan dalam tiga bulan terakhir. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kondisi gandum Kansas tercatat hanya 33% dalam kategori baik hingga sangat baik, sementara 41% masuk kategori buruk hingga sangat buruk."

Australia pun menghadapi tantangan serupa. Kehadiran El Nino yang sangat cepat diprediksi membawa cuaca yang lebih kering saat musim dingin hingga musim semi, yang bertepatan dengan periode tanam gandum. Selain itu, keterbatasan pupuk dianggap akan memperburuk output panen.

Untuk komoditas jagung, produksi global diproyeksi turun 24 juta ton menjadi 1,3 miliar ton akibat menyusutnya luas tanam karena biaya pupuk yang mahal dan harga yang kurang kompetitif. 

Sebaliknya, produksi kedelai dunia ditaksir naik 13 juta ton menjadi 441 juta ton seiring adanya pergeseran penggunaan lahan dari jagung ke kedelai.

Di level domestik, tekanan serupa menimpa komoditas beras. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan produksi beras nasional untuk konsumsi masyarakat pada periode April–Juni 2026 mencapai 9,61 juta ton. 

Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,87 juta ton atau 8,30% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Penurunan ini berbanding lurus dengan berkurangnya luas panen padi menjadi 3,16 juta hektare, atau turun 0,26 juta hektare (7,64% secara tahunan).

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyatakan, "realisasi produksi masih dapat berubah hingga Juni, tergantung kondisi pertanaman di lapangan. Risiko yang memengaruhi antara lain serangan hama, organisme pengganggu tanaman, banjir, kekeringan, hingga hambatan saat panen di tingkat petani."

Penurunan produksi beras dalam negeri ini menjadi atensi khusus karena dapat membatasi ruang untuk stabilisasi harga pangan nasional jika cuaca buruk terus berlanjut di tengah ketatnya pasokan global. 

Kenaikan harga gandum dunia juga berisiko memengaruhi industri pangan berbasis terigu di Indonesia, sementara merosotnya produksi jagung dapat menekan harga pakan ternak.

Reporter: Gemilang Ramadhan