Bank Danamon dan MUFG Indonesia Umumkan Integrasi Bukan Merger

ILUSTRASI, Danamon (Sumber Gambar : antaranews.com)
Selasa, 12 Mei 2026 | 11:03:16 WIB

JAKARTA – PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) secara resmi telah mengumumkan rencana integrasi dengan MUFG Cabang Indonesia lewat keterbukaan informasi pada Senin (11/5) sore, tepat setelah penutupan perdagangan saham. 

Langkah korporasi ini menarik perhatian pasar karena melibatkan dua entitas utama dalam ekosistem Mitsubishi UFJ Financial Group atau MUFG di Indonesia. Perlu dicatat bahwa transaksi ini dikategorikan sebagai integrasi, bukan merger.

Pemilihan istilah integrasi dilakukan karena MUFG di Indonesia saat ini berstatus Kantor Cabang Bank Asing atau KCBLN. Hal ini berarti MUFG Cabang Indonesia bukanlah bank berbadan hukum Indonesia yang berdiri sendiri layaknya Bank Danamon. 

Melalui status tersebut, proses yang terjadi bukanlah penggabungan antara dua perseroan terbatas bank lokal, melainkan integrasi kegiatan usaha, aset, liabilitas tertentu, jaringan nasabah, serta fungsi operasional MUFG Cabang Indonesia ke dalam platform BDMN.

Langkah serupa sebelumnya pernah dilakukan oleh PT Bank Permata Tbk saat berintegrasi dengan Bangkok Bank Public Company Limited Cabang Jakarta, Cabang Pembantu Surabaya, serta Cabang Pembantu Medan. 

Pada kasus tersebut, integrasi dijalankan melalui pengalihan aset berkualitas baik dan liabilitas tertentu. Setelah proses efektif, Bank Permata menjadi bank hasil integrasi dan izin usaha Bangkok Bank Indonesia dicabut.

Proses integrasi ini berbeda dengan merger, di mana merger terjadi antar sesama perseroan terbatas yang berbadan hukum Indonesia. Sebagai contoh adalah merger PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) dengan PT Bank 

Sumitomo Mitsui Indonesia pada Februari 2019, yang kemudian menjadi PT Bank BTPN Tbk sebelum akhirnya berganti nama menjadi PT Bank SMBC Indonesia Tbk (SMBC Indonesia). 

Adapun perbedaan antara integrasi, merger, peleburan, pengambilalihan, dan konversi telah diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 41 tahun 2019.

Victoria Venny selaku Head of Research MNC Sekuritas berpendapat bahwa rencana ini bukan hal mengejutkan bagi pelaku pasar. Ia menilai arah konsolidasi sudah bisa diprediksi sejak awal MUFG mengakuisisi BDMN.

“Pasar sebenarnya sudah lama membaca, pada akhirnya MUFG akan menjadikan BDMN sebagai platform utama di Indonesia. Yang tidak diketahui pelaku pasar hanya timing-nya. Jadi, kalau pengumuman ini keluar, surprise bukan pada arah strateginya, tetapi pada kapan eksekusinya,” sebagaimana dilansir dari berita sumber pada Senin (11/5).

Ia menambahkan bahwa integrasi ini akan memperkuat posisi BDMN pada segmen korporasi, wholesale banking, trade finance, treasury, hingga nasabah Jepang, serta memberikan akses luas ke jaringan global MUFG. 

Hal ini juga diyakini dapat mengubah pandangan pasar terhadap BDMN yang selama ini dikenal kuat di sektor ritel, UKM, otomotif, dan enterprise banking, menjadi bank lokal dengan dukungan franchise wholesale global yang lebih kokoh.

Menilik laporan keuangan Desember 2025, secara konsolidasian BDMN memiliki total aset sebesar Rp275,71 triliun, sedangkan MUFG Cabang Indonesia memiliki Rp 201,65 triliun. Jika dihitung secara sederhana, gabungan aset keduanya berpotensi mencapai Rp 477,36 triliun. 

Pada sisi ekuitas, BDMN mencatat Rp 54,27 triliun dan MUFG Cabang Indonesia sebesar Rp 44,05 triliun, sehingga proforma ekuitas gabungan dapat menyentuh Rp 98,32 triliun.

Untuk fungsi intermediasi, kredit BDMN berada di angka Rp 159,29 triliun dan MUFG Cabang Indonesia sebesar Rp106,46 triliun, dengan total gabungan sederhana Rp 265,75 triliun. 

Apabila menyertakan pembiayaan syariah BDMN senilai Rp 14,47 triliun dan piutang pembiayaan konsumen sebesar Rp 33,9 triliun, maka total eksposur pembiayaan gabungan bisa mencapai sekitar Rp 314,12 triliun.

Dari sektor pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) sederhana BDMN yang meliputi giro, tabungan, dan deposito tercatat Rp 174,18 triliun, sementara MUFG Cabang Indonesia memiliki giro dan deposito sekitar Rp 52,37 triliun. Total gabungan DPK sederhana menjadi Rp226,55 triliun.

Kinerja laba juga menunjukkan angka signifikan. BDMN meraih laba bersih konsolidasian Rp 4,19 triliun pada 2025, dengan laba atribusi pemilik entitas induk Rp3,97 triliun. 

MUFG Cabang Indonesia sendiri membukukan laba bersih Rp 6,93 triliun. Jika dijumlahkan, laba gabungan bisa mencapai Rp 11,13 triliun, sementara laba bersih gabungan dengan basis laba atribusi pemilik BDMN diperkirakan mencapai Rp 10,9 triliun.

Reporter: Gemilang Ramadhan