VIDA Luncurkan ID FraudShield Atasi Kerugian Siber Rp 9,1 Triliun

VIDA Perluas Layanan, Perkuat Proteksi Digital lewat Pusat Anti-Fraud dan Fitur Magic Scan (Dok/VIDA)
Rabu, 13 Mei 2026 | 11:08:57 WIB

JAKARTA – Peningkatan kasus penipuan digital di tanah air memberikan celah besar bagi pertumbuhan sektor keamanan siber dan identitas digital. Dalam situasi di mana kerugian publik menyentuh angka Rp 9,1 triliun gara-gara kejahatan siber selama periode November 2024 hingga Januari 2026, VIDA, perusahaan identitas digital asal Indonesia, merilis ID FraudShield guna memperkokoh proteksi transaksi digital.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terlihat bahwa peningkatan ancaman siber kian mengkhawatirkan. Secara rata-rata, muncul kurang lebih 1.000 laporan terkait pengaduan penipuan digital setiap harinya. 

Malahan, sekitar 65 persen warga Indonesia dilaporkan pernah mengalami upaya scam minimal satu kali dalam satu minggu.

Menanggapi besarnya ancaman tersebut, VIDA menghadirkan ID FraudShield. Inovasi ini disiapkan untuk mendukung sektor keuangan dalam mendeteksi serta mengantisipasi penipuan identitas berbasis kecerdasan buatan (AI) secara real-time.

Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, menyatakan bahwa mitigasi scam digital tidak dapat dikerjakan secara parsial. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Skala ancaman ini menuntut pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif," ujarnya dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Pada kesempatan yang sama, Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur, menyampaikan bahwa skema serangan siber saat ini bertransformasi menjadi jauh lebih rumit. 

Penjahat tidak cuma menggunakan manipulasi wajah atau deepfake, namun juga memakai emulator, GPS palsu, sampai rekayasa perangkat guna membobol sistem pertahanan digital.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami tidak bisa lagi hanya bergantung pada pemeriksaan orangnya saja, tetapi juga harus memeriksa perangkat dan jaringannya secara simultan," tutur Niki.

Lewat ID FraudShield, VIDA berupaya mengembangkan model usahanya dari yang sebelumnya penyedia identitas digital menjadi platform terintegrasi untuk pencegahan fraud. 

Sistem ini menyatukan berbagai lapisan proteksi, mulai dari pelacakan deepfake dan spoofing biometrik, pengamatan perilaku pengguna, identifikasi gawai ilegal, sampai pengawasan jaringan dan lokasi yang dianggap mencurigakan.

Salah satu fitur kunci yang diandalkan adalah “ID Graph” atau network intelligence, yang punya kemampuan mengaitkan data perangkat, dokumen, serta biometrik antar sesi untuk melacak pola kriminalitas terorganisir, termasuk identitas sintetis (synthetic identity), device farms, hingga akun penampung dana hasil penipuan.

Langkah ini dianggap krusial lantaran industri keuangan sekarang berada di bawah tekanan besar untuk meningkatkan keamanan tanpa menghambat pengalaman konsumen. 

Sektor perbankan, multifinance, fintech pinjaman online, asuransi, hingga penyedia pembayaran digital merupakan pasar utama yang disasar VIDA lewat solusi ini.

Dari aspek bisnis, melonjaknya kasus fraud digital juga memicu kebutuhan akan teknologi keamanan berbasis AI yang diprediksi akan terus meningkat beberapa tahun ke depan. 

Keadaan ini menciptakan peluang ekspansi bagi korporasi keamanan digital dalam negeri untuk berkompetisi di tengah masifnya transformasi layanan keuangan digital.

Niki menjelaskan bahwa penciptaan ID FraudShield dikerjakan setelah pihak perusahaan menjumpai banyak celah pada sistem liveness konvensional yang masih rentan terhadap serangan siber mutakhir.

Reporter: Gemilang Ramadhan