Laba Perbankan Syariah Awal 2026 Melesat Hingga 17,10 persen

Ilustrasi Teller Bank Syariah Indonesia (BSI) (Sumber Gambar : antaranews.com)
Rabu, 13 Mei 2026 | 13:01:01 WIB

JAKARTA – Sektor perbankan syariah menunjukkan performa yang sangat impresif pada triwulan pertama tahun 2026. Pertumbuhan laba bersih serta penyaluran pembiayaan yang mencapai angka dua digit menjadi sinyal kuat adanya peluang ekspansi yang luas di tengah kondisi ekonomi nasional.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), volume pembiayaan bank umum syariah sampai Maret 2026 meningkat 9,82% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 716,40 triliun. Perkembangan ini juga mendorong total aset perbankan syariah tumbuh 7,51% hingga mencapai Rp 1,061 triliun.

Dalam aspek profitabilitas, PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) masih memimpin pasar. Bank dengan kode emiten BRIS ini membukukan laba bersih Rp 2,20 triliun pada kuartal I-2026, atau naik signifikan 17,10% yoy dibanding capaian periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,87 triliun.

Pencapaian positif tersebut ditopang oleh penyaluran pembiayaan yang melonjak 22,83% menjadi Rp 151,72 triliun, dari posisi Rp 123,52 triliun pada kuartal I-2025. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) di BSI juga meningkat 17,99% yoy menjadi Rp 377 triliun.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menjelaskan bahwa pertumbuhan laba ini didukung oleh kenaikan DPK serta dana murah atau current account savings account (CASA) yang merupakan salah satu yang tertinggi di industri perbankan nasional.

“Salah satu penopang utama pertumbuhan dana murah berasal dari tabungan haji. BSI secara agresif menyasar segmen generasi muda untuk mulai menabung haji dan umrah sejak dini," kata Anggoro sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menilai skema tersebut sangat efektif dalam memperbesar pangsa pasar tabungan haji BSI. Pada 2023, penguasaan pasar tabungan haji BSI berada di bawah 50%, namun pada 2025 angka tersebut meningkat menjadi 53,6%. 

Untuk menjaga konsistensi jangka panjang, BSI menjalankan strategi “3 on 3”, yakni memprioritaskan pertumbuhan dana murah, pembiayaan yang sehat dan berkelanjutan, serta penguatan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income.

Di sisi lain, PT Bank Mega Syariah juga mencatatkan kenaikan laba yang signifikan. Bank ini meraih laba bersih Rp 62,37 miliar pada kuartal I-2026, melonjak 51,67% yoy dari posisi tahun sebelumnya yang sebesar Rp 41,12 miliar.

Pertumbuhan laba tersebut sejalan dengan kenaikan total pembiayaan sebesar 7,2% yoy menjadi Rp 9,26 triliun. Sementara itu, DPK yang dihimpun menyentuh angka lebih dari Rp 10 triliun hingga akhir Maret 2026.

Corporate Secretary Division Head Bank Mega Syariah, Hanie Dewita, memaparkan bahwa capaian ini merupakan hasil dari strategi perusahaan dalam memperkuat fondasi bisnis serta menjaga efisiensi operasional.

“Kami terus mengoptimalkan strategi bisnis dengan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan pembiayaan dan pengelolaan biaya dana. Di saat yang sama, kami juga memperkuat layanan kepada nasabah melalui inovasi produk dan sinergi ekosistem,” kata Hanie sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ke depannya, pihak bank berkomitmen meningkatkan manajemen risiko, menjaga kualitas aset, serta mengembangkan bisnis secara selektif dan berkelanjutan.

“Kami optimistis kinerja positif ini dapat terus terjaga hingga akhir tahun,” tutur Hanie sebagaimana dilansir dari berita sumber.

PT Bank BCA Syariah turut melaporkan kenaikan laba bersih 14,5% yoy menjadi Rp 54,18 miliar pada kuartal I-2026, dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 47,34 miliar.

Kinerja tersebut didukung oleh total pembiayaan yang mencapai kisaran Rp 11 triliun atau tumbuh 20,2% secara tahunan. Adapun DPK BCA Syariah tercatat sebesar Rp 15,94 triliun pada Maret 2026, naik 18,4% yoy dibandingkan Maret 2025 yang sebesar Rp 13,46 triliun.

Selanjutnya, Unit Usaha Syariah (UUS) PT CIMB Niaga Tbk., yaitu CIMB Niaga Syariah, tetap mengukuhkan posisi sebagai UUS terbesar di Indonesia. Laba bersih CIMB Niaga Syariah per Maret 2026 mencapai Rp 483,76 miliar, naik 29,3% yoy dari tahun sebelumnya sebesar Rp 374 miliar.

Hasil tersebut didorong oleh penghimpunan DPK yang naik 15% menjadi Rp 45 triliun pada Maret 2026. Namun, total pembiayaan tercatat Rp 52,9 triliun pada kuartal I-2026, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 59,01 triliun.

Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan, menyatakan bahwa CIMB Niaga Syariah terus memperkuat struktur pendanaan melalui peningkatan dana murah berbasis komunitas serta kolaborasi strategis syariah.

"Hal ini guna mendukung pertumbuhan berkelanjutan sekaligus memperluas pengembangan ekosistem keuangan syariah nasional," ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berbeda dengan institusi lainnya, PT Bank BTPN Syariah menunjukkan pertumbuhan laba yang lebih stabil. Pada kuartal I-2026, laba bersih BTPN Syariah naik 2,37% yoy menjadi Rp 317,15 miliar. Sementara itu, penyaluran pembiayaan tumbuh 4% yoy menjadi Rp 10,6 triliun.

Direktur BTPN Syariah, Fachmy Achmad, menyebutkan bahwa hasil ini membuktikan efektivitas strategi pendampingan nasabah yang menjadi prioritas bank dalam melayani masyarakat inklusi.

“Momentum kuartal pertama menunjukkan bahwa model pendampingan yang kami terapkan berkontribusi pada kualitas pembiayaan. Kami melihat meningkatnya kepercayaan nasabah serta ketahanan usaha mereka, yang pada akhirnya memperkuat kualitas Bank," ujar Fahmy sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ia menambahkan bahwa pencapaian tersebut adalah hasil kolaborasi berbagai pihak dalam memberdayakan masyarakat inklusi agar memiliki perilaku unggul yang menjadi kunci kesuksesan.

Reporter: Gemilang Ramadhan