Perselisihan Amerika Serikat dan Iran Picu Kenaikan Harga Minyak

Ilustrasi Pengeboran Minyak. (Sumber Gambar : petrotrainingasia.com)
Senin, 18 Mei 2026 | 11:15:24 WIB

JAKARTA – Tren penguatan harga minyak mentah dunia berlanjut selama tiga hari berturut-turut akibat ketidakjelasan proses negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Senin, 18 Mei 2026. Konflik yang belum menemukan titik temu ini berdampak pada terganggunya rute pasokan penting di Selat Hormuz. 

Lonjakan harga komoditas energi tersebut berhasil melewati ambang batas psikologis yang baru, sebagaimana dikutip dari Bloombergtechnoz.

Minyak mentah jenis Brent merangkak naik ke atas US110 per barel setelah membukukan kenaikan mendekati 8 persen pada pekan sebelumnya, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) melewati angka US107 per barel.

Peningkatan eskalasi keadaan dipicu oleh berkurangnya kesabaran politik pihak Washington terhadap Teheran terkait pembukaan rute pelayaran yang sangat vital tersebut. 

Presiden AS Donald Trump memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai batas waktu diplomasi melalui sebuah unggahan di akun media sosial pribadinya pada hari Minggu, 17 Mei 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Bagi Iran, waktu terus berjalan, dan mereka sebaiknya bergerak maju, CEPAT, atau tidak akan ada yang tersisa dari mereka. WAKTU ADALAH HAL YANG PALING UTAMA!" tulis Trump.

Kekhawatiran pasar kian memuncak karena berakhirnya masa pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia oleh pemerintahan Trump, serta ditolaknya permintaan perpanjangan dari pihak India. 

Di samping itu, serangan drone yang menyasar fasilitas nuklir Uni Emirat Arab pada akhir pekan lalu menjadikan situasi gencatan senjata yang sedang berlangsung menjadi semakin rapuh.

Kantor Berita Mehr, yang merupakan media semi-pemerintah Iran, mengabarkan bahwa jalannya proses diplomasi terancam berada di jalan buntu. 

Pihak Iran menilai pihak Washington sama sekali tidak memberikan penawaran pengurangan sanksi yang nyata dalam proses negosiasi tersebut. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, mereka "tidak menawarkan konsesi nyata" kata Kantor Berita Mehr.

Di pihak lain, pembahasan internal terus dimatangkan oleh otoritas Gedung Putih. Trump dilaporkan telah mengadakan pertemuan bersama Wakil Presiden JD Vance, utusan Gedung Putih Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Direktur CIA John Ratcliffe pada hari Sabtu untuk membahas peningkatan eskalasi konflik tersebut. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami ingin mencapai kesepakatan," kata Trump.

Negosiasi lanjutan masih mengalami hambatan karena pihak AS mengaku belum menerima draf kesepakatan terbaru yang dinilai memadai dari pihak otoritas Iran. 

Sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, Trump berulang kali melontarkan ancaman akan melanjutkan aksi pengeboman yang sebelumnya telah dimulai sejak 28 Februari. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Mereka belum berada di posisi yang kami inginkan. Mereka harus sampai ke sana atau akan terkena serangan besar, dan mereka tidak menginginkan itu," lanjut Trump.

Berdasarkan data bursa perdagangan pada pukul 07.02 waktu Singapura, minyak Brent untuk pengiriman Juli mengalami kenaikan sebesar 1,1 persen ke level US110,43 per barel. 

Pada saat yang sama, kontrak minyak WTI untuk pengiriman Juni naik sebesar 1,7 persen ke angka US107,26 per barel, dan untuk kontrak Juli yang mempunyai likuiditas lebih tinggi menanjak sebesar 1,3 persen menuju level US$102,34 per barel.

Reporter: Gemilang Ramadhan