DOID Siapkan Dana Rp104,25 Miliar untuk Buyback Saham
JAKARTA – PT BUMA Internasional Grup Tbk. (DOID) memiliki rencana untuk melaksanakan pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai paling banyak US$6 juta atau setara dengan Rp104,25 miliar.
Langkah ini diambil di tengah tindakan perseroan dalam menjaga nilai tambah bagi para pemegang saham serta memperkuat program retensi karyawan yang berbasis kepemilikan saham.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, aksi korporasi tersebut saat ini tengah menunggu persetujuan resmi melalui rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 24 Juni 2026.
Manajemen DOID mengonfirmasi bahwa proses buyback bakal direalisasikan lewat pembelian saham di Bursa Efek Indonesia dalam jangka waktu paling lama 12 bulan setelah mendapatkan restu RUPS atau selambat-lambatnya sampai tanggal 24 Juni 2027.
Dana maksimal sebesar US$6 juta atau setara Rp104,25 miliar yang bersumber dari kas internal telah disiapkan oleh perseroan, di mana angka tersebut sudah mencakup biaya transaksi sekaligus biaya perantara perdagangan efek.
Mengacu pada laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, manajemen DOID memastikan bahwa agenda buyback ini tidak akan mengakibatkan kekayaan bersih perseroan merosot di bawah jumlah modal ditempatkan serta cadangan wajib.
Untuk kuantitasnya sendiri, jumlah saham yang bakal dibeli kembali dipatok maksimal sebanyak 320,77 juta saham. Angka ini setara dengan 4,36% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh setelah memperhitungkan pengalihan saham tresuri.
Perseroan juga menegaskan bahwa jumlah tersebut dipastikan masih berada di bawah batas maksimal 10% yang telah ditetapkan dalam regulasi POJK 29/2023.
Pihak DOID mengungkapkan alasan di balik buyback ini adalah untuk menghadirkan nilai tambah bagi pemegang saham selain dari pembagian dividen.
Tidak hanya itu, saham yang diperoleh dari hasil buyback nantinya juga dapat dialokasikan bagi program kepemilikan saham untuk jajaran manajemen serta karyawan, yang menjadi bagian dari strategi menjaga loyalitas pegawai.
Tercatat per 31 Desember 2025, pemilik saham paling besar di perseroan yakni Northstar Tambang Persada Ltd. dengan porsi kepemilikan mencapai 38,217%, kemudian diikuti oleh masyarakat umum sebesar 39,292%.
Di samping itu, perseroan masih menyimpan saham tresuri dengan jumlah 293,84 juta saham atau setara dengan 3,841% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Pihak perseroan mempunyai rencana untuk mengalihkan saham tresuri yang ada saat ini demi agenda pengurangan modal, yang mana hal ini juga akan menjadi topik pembahasan dalam RUPSLB pada 24 Juni 2026. Pasca-pengalihan saham tresuri tersebut dilakukan, persentase kepemilikan publik diperkirakan akan bergeser menjadi 40,861%.
Melalui proyeksi yang disusun manajemen, jika seluruh alokasi dana buyback dipakai secara keseluruhan, maka total aset serta ekuitas perseroan masing-masing bakal mengalami penurunan sebesar US$6 juta.
Total aset diprediksi menyusut dari angka US$1,53 miar menjadi US$1,52 miliar, sementara itu total ekuitas akan berkurang dari posisi US$48,87 juta menuju US$42,87 juta.
Perseroan sendiri menorehkan rugi periode berjalan senilai US$127,61 juta untuk periode 12 bulan yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2025. Melalui proforma pasca-buyback, laba neto per saham diproyeksikan mengalami perubahan dari posisi minus US$0,01734 menjadi minus US$0,01814.
Walaupun demikian, pihak manajemen memberikan penilaian bahwa efek dari aksi buyback kepada operasional serta roda kegiatan usaha perseroan tidak bersifat material.
Perseroan memberikan pernyataan bahwa kondisi modal dan arus kas yang dimiliki saat ini masih sangat memadai untuk mendanai aktivitas usaha sekaligus mengeksekusi pelaksanaan buyback.
Berdasarkan catatan informasi yang ada, Direktur DOID Iwan Fuad Salim mengutarakan bahwa performa perseroan di sepanjang tahun 2025 kemarin mendapatkan imbas yang cukup mendalam akibat adanya kendala operasional serta faktor cuaca yang buruk.
Bukan hanya itu, proses ramp-down ditambah penyelesaian kontrak kerja di wilayah Indonesia dan Australia ikut memberikan tekanan terhadap kinerja keuangan DOID.
Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Iwan Fuad Salim dalam keterangan resminya menyampaikan, "2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan, sekaligus menunjukkan area-area di mana pendekatan kami dapat diperkuat,"
Iwan Fuad Salim turut menegaskan kembali bahwa perseroan sebenarnya telah mengambil langkah responsif secara cepat lewat pengetatan disiplin di sektor operasional, melakukan penguatan pada pengendalian biaya serta fundamental pemeliharaan, hingga mengambil keputusan-keputusan yang tegas demi menjaga likuiditas sekaligus memperkokoh kondisi neraca keuangan perseroan.