Prediksi Kurs Rupiah Hari Ini Berpotensi Melemah ke Rp17.750

Ilustrasi Kurs Mata Uang. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 19 Mei 2026 | 12:51:29 WIB

JAKARTA — Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini, Selasa 19 Mei 2026, diperkirakan akan berjalan fluktuatif tetapi memiliki potensi untuk ditutup merosot pada rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Trading View pada Senin (18/5/2026), mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 1,12% ke angka Rp17.655 per dolar AS.

Pelemahan nilai tukar mata uang Garuda terhadap dolar AS ini sejalan dengan penurunan yang dialami oleh sejumlah mata uang di kawasan Asia Tenggara lainnya. 

Ringgit Malaysia terpantau melemah terhadap dolar AS sebesar 0,63%, disusul Peso Filipina yang merosot 0,09%, serta rupee India yang turun sebesar 0,33%. Yen Jepang juga turut melemah 0,11% terhadap dolar AS, dolar Hong Kong turun 0,02%, dan dolar Taiwan menyusut sebesar 0,10% terhadap dolar AS.

Sebaliknya, untuk beberapa mata uang Asia lainnya, Yuan China berhasil mencatatkan penguatan terhadap dolar AS sebesar 0,11%, sedangkan dolar Singapura dan won Korea bergerak menguat kompak sebesar 0,04%, serta baht Thailand menguat sebesar 0,15%.

Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa nilai tukar rupiah kembali tertekan seiring dengan semakin menguatnya sentimen risk-off di tingkat global. 

Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh meroketnya harga minyak mentah dunia serta peningkatan kekhawatiran para pelaku pasar terhadap ketegangan geopolitik internasional.

Menurut penilaiannya, pergerakan pasar tengah berfokus pada hasil dialog antara Presiden China Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dinilai belum memberikan jalan keluar konkret terkait konflik geopolitik, khususnya perselisihan antara AS dan Iran. 

Rasa kecewa dari para investor atas ketiadaan terobosan dalam pertemuan tersebut memicu aset-aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang (emerging market) seperti rupiah, kembali dihindari.

Kenaikan harga minyak dunia juga semakin memperburuk sentimen di pasar. Para pemodal menilai peringatan baru yang diutarakan oleh Trump dapat memperluas cakupan eskalasi konflik sekaligus menjaga harga energi tetap melambung tinggi dalam jangka pendek.

Bukan hanya faktor dari luar, situasi di pasar domestik pun ikut andil dalam memberikan tekanan bagi rupiah. Pidato dari Presiden Prabowo Subianto dipandang mendapat tanggapan kurang baik dari para pelaku pasar, sehingga turut menghambat pergerakan mata uang lokal pada sesi perdagangan kemarin.

Sementara itu, dalam agenda rapat bersama Komisi XI DPR yang berlangsung pada Senin (18/5/2026), Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa posisi rupiah saat ini yang telah melewati Rp17.600 sesungguhnya masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalue), yakni sebesar Rp16.500 sebagaimana acuan makro APBN. 

Di dalam UU APBN sendiri, rupiah ditargetkan berada pada angka Rp16.500 atau bergerak di dalam rentang Rp16.200 sampai Rp16.800 per dolar AS.

Patokan nilai fundamental rupiah tersebut diselaraskan dengan besaran angka inflasi serta pertumbuhan ekonomi di tahun yang sama. Mengenai aspek ini, performa ekonomi Indonesia tercatat tumbuh di angka 5,61% (yoy) pada kuartal I/2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Perry Warjiyo menerangkan, "Karena sesuai makronya rata-rata Rp16.500, batasannya Rp16.800, kami bisa bawa ke sana. 

Seasonality-nya April, Mei, Juni karena [dolar] demand-nya lagi tinggi. Seperti itu, dan nanti Juli, Agustus akan menguat, sehingga secara keseluruhan kami masih ke sana."

Reporter: Gemilang Ramadhan