Emiten INDY Bagikan Dividen Jutaan Dolar AS di Tengah Tren Menurun

ILUSTRASI, tambang tengah laut (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 22 Mei 2026 | 12:32:41 WIB

JAKARTA - Pergerakan nilai saham emiten PT Indika Energy Tbk (INDY) tengah berada dalam tren menurun selaras dengan kondisi pasar minyak dunia yang mengalami gejolak. Di balik kemerosotan harga yang cukup masif, saham INDY dijadwalkan bakal membagikan dividen dengan nilai di atas Rp 52 miliar.

Pengucuran dividen saham INDY ini bertindak selaku salah satu ketetapan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (20/5/2026). 

Para pemilik saham menyetujui pendistribusian dividen tunai bernilai US$ 3.013.598 atau setara dengan 50% dari total perolehan laba bersih tahun buku 2025 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk. 

Mengacu pada nilai tukar rupiah yang bertengger di atas angka Rp 17.500 per dolar AS, maka nominal dividen tunai tersebut setara lebih dari Rp 52 miliar.

Pada penutupan transaksi perdagangan Kamis (21/5/2026), saham INDY mengalami koreksi sebesar 40 poin menuju level Rp 2.240 per lembar saham. Sepanjang kurun waktu 30 hari belakangan, harga saham INDY tercatat melorot hingga 1.500 poin atau susut sekitar 40,11%.

Pihak manajemen INDY mengonfirmasi bahwa nominal dividen per saham nantinya disesuaikan dengan kuantitas saham yang terdaftar dan beredar pada tanggal pencatatan (recording date) 4 Juni 2026, dengan tetap memperhitungkan saham treasury hasil dari aksi buyback yang telah dialihkan sebelum masa recording date.

“Perhitungan dividen per saham dalam mata uang rupiah akan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal 20 Mei 2026, dan tanggal pendistribusian dividen final tunai dijadwalkan pada 19 Juni 2026,” tulis manajemen INDY dalam keterangan resmi, Kamis (21/5/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di samping meratifikasi laporan tahunan berikut laporan keuangan untuk buku tahunan 2025, forum RUPST turut memberikan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya (acquit et de charge) kepada segenap jajaran Direksi dan Dewan Komisaris atas segala tindakan pengurusan maupun pengawasan sepanjang tahun buku 2025.

INDY pun mempertegas keseriusannya untuk memperkuat diversifikasi lini bisnis di luar sektor komoditas batubara, mencakup percepatan pengerjaan proyek tambang emas Awak Mas serta penguatan implementasi Environmental, Social, and Governance (ESG). 

Direktur Utama dan Group CEO Indika Energy Azis Armand mengungkapkan bahwa seluruh alokasi belanja modal korporasi pada masa ini dikonsentrasikan guna akselerasi proyek emas Awak Mas serta beraneka inisiatif bisnis hijau.

“Kami terus memperkuat transformasi bisnis di mana seluruh belanja modal pada periode ini dialokasikan untuk proyek tambang emas Awak Mas dan berbagai inisiatif bisnis hijau,” ujar Azis, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut Azis Armand, kebijakan tersebut bertindak sebagai bagian dari rencana jangka panjang perseroan yang sejalan dengan peta jalan transisi energi global guna merealisasikan target net zero emission.

Kinerja Keuangan INDY Kuartal I-2026 
Memasuki triwulan I-2026, Indika Energy mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai US$ 7 juta. Nominal ini melonjak cukup tinggi bila disandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yang bertengger di angka US$ 2,9 juta. 

Omzet pendapatan perseroan terdata merangkak naik tipis menjadi US$ 493,2 juta, ditopang oleh andil bisnis logistik, niaga energi, serta sektor sumber daya non-batubara.

Beberapa entitas anak usaha non-batubara pun menorehkan kurva pertumbuhan positif. Tripatra mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 11,2% menjadi US$ 68,7 juta, sementara Interport Mandiri Utama melesat hingga 53,4% menuju posisi US$ 43,1 juta, khususnya ditopang oleh lini bisnis perdagangan bahan bakar. 

Di pihak lain, perolehan pendapatan Kideco didapati mengalami penyusutan imbas melorotnya volume penjualan serta penurunan rata-rata harga jual batubara.

Perseroan juga sukses memacu level profitabilitas lewat kebijakan efisiensi ongkos biaya. Laba kotor naik sebesar 16,2% menuju angka US$ 74 juta disertai peningkatan margin laba kotor menjadi 15%. Di saat yang sama, beban keuangan ikut terpangkas 8,6% dibanding tahun lalu berkat penurunan ongkos utang.

Belanja Modal Fokus Non-Batubara 

Sepanjang periode kuartal I-2026, akumulasi belanja modal senilai US$ 26,2 juta sepenuhnya disalurkan untuk sektor non-batubara. Dari total anggaran tersebut, sekitar US$ 20,4 juta dimanfaatkan demi pengerjaan proyek tambang emas Awak Mas, sedangkan sisa anggarannya dialokasikan bagi beraneka inisiatif bisnis ramah lingkungan. 

Sampai penghujung Maret 2026, progres konstruksi pada proyek Awak Mas terdata sudah menyentuh 56,8% dengan total realisasi kucuran investasi senilai US$ 288,1 juta.

Susunan Direksi dan Komisaris INDY

Berikut disajikan daftar susunan Dewan Komisaris dan Direksi INDY berdasarkan hasil keputusan RUPST 2026:

Dewan Komisaris:

Agus Lasmono sebagai Komisaris Utama

Wishnu Wardhana sebagai Wakil Komisaris Utama

Nurcahya Basuki sebagai Komisaris

M. Arsjad Rasjid P.M. sebagai Komisaris

Farid Harianto sebagai Komisaris Independen

Feri Wibisono sebagai Komisaris Independen

Direksi:

Azis Armand sebagai Direktur Utama

Deddy Hariyanto sebagai Direktur

Retina Rosabai sebagai Direktur

Johanes Ispurnawan sebagai Direktur

Kamen Kamenov Palatov sebagai Direktur

Reporter: Gemilang Ramadhan