Rupiah Melemah, ASSA Targetkan Pertumbuhan Lebih Konservatif

ILUSTRASI, PT Adi Sarana Armada (Sumber Gambar : Net)
Senin, 25 Mei 2026 | 09:46:12 WIB

JAKARTA - PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) tetap konsisten dengan target peremajaan 5.000 armada setiap tahunnya, walaupun penurunan nilai tukar rupiah berisiko meningkatkan beban operasional perusahaan. Berdasarkan data pasar spot pada Jumat (22/5/2026), mata uang rupiah ditutup terkoreksi 0,28% secara harian menjadi Rp 17.717 per dolar Amerika Serikat (AS).

Prodjo Sunarjanto selaku Presiden Direktur ASSA mengungkapkan bahwa perusahaan terus menggulirkan program pembaruan armada secara berkala. Kendati demikian, melihat situasi ekonomi global dan domestik yang penuh ketidakpastian, ASSA memilih untuk memasang target pertumbuhan yang lebih hati-hati pada tahun ini, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Strategi ekspansif pasti ditunda seiring dilakukannya perbaikan dan penghematan. Target pertumbuhan kami lebih konservatif,” ujar Prodjo kepada Kontan, pekan lalu.

Ia menjelaskan bahwa penurunan kurs rupiah sebenarnya tidak memberikan efek secara langsung pada lini bisnis ASSA. Namun, melemahnya nilai tukar tersebut berpeluang memicu lonjakan harga unit kendaraan, bahan bakar minyak (BBM), hingga komponen suku cadang.

Di sisi lain, Prodjo melihat bahwa situasi ini juga membawa dampak positif terhadap harga jual kembali (resale value) armada bekas yang dimiliki oleh perseroan, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Harga mobil yang saat ini dimiliki ASSA juga akan mengalami kenaikan nilai bekas karena faktor inflasi,” katanya.

Ia menguraikan lebih lanjut bahwa efek fluktuasi rupiah terhadap profitabilitas perseroan ke depan masih akan sangat ditentukan oleh dinamika situasi global serta kondisi geopolitik.

Terkait dengan postur pembiayaan, Prodjo menegaskan bahwa semua pinjaman yang ditarik oleh ASSA berbasis mata uang rupiah, sehingga terbebas dari dampak langsung gejolak kurs valuta asing. Walau begitu, perseroan tidak menampik adanya tekanan dari tren kenaikan suku bunga yang berisiko memperbesar biaya pendanaan.

Menghadapi situasi yang tidak menentu ini, manajemen ASSA menyatakan belum bisa mengalkulasi secara presisi seberapa besar dampak pelemahan rupiah terhadap performa keuangan perusahaan ke depan, sebagaimana dilansir dari berita sumber:

“Yang pasti, perusahaan tetap akan melakukan efisiensi seiring ekspansi yang lebih terukur,” tutup Prodjo.

Reporter: Gemilang Ramadhan