Prediksi Rupiah Hari Ini: Berisiko Ditutup Melemah ke Rp17.800

ILUSTRASI, rupiah dollar (Sumber Gambar : Net)
Senin, 25 Mei 2026 | 11:32:04 WIB

JAKARTA — Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diproyeksikan bakal bervariasi tetapi mempunyai risiko berakhir jatuh pada rentang Rp17.650 sampai Rp17.800 dalam transaksi hari ini, Senin (25/5/2026).

Berdasarkan data dari RTI Infokom, kurs rupiah berakhir jatuh sebesar 0,18% pada posisi Rp17.700 per dolar AS pada hari Jumat (22/5/2026). 

Penurunan mata uang Indonesia terhadap dolar AS ini searah dengan kemerosotan sebagian besar mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang terpantau jatuh 0,11% terhadap dolar AS, dolar Singapura jatuh 0,23%, serta won Korea jatuh 0,56%.

Selanjutnya, dolar Hong Kong juga mengalami penurunan sebesar 0,04% terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turut melemah terhadap dolar AS sebanyak 0,11%, peso Filipina jatuh 0,24%, dan baht Thailand jatuh sebesar 0,18%.

Di sisi lain, yuan China justru mengalami kenaikan sebesar 0,11% terhadap dolar AS, dolar Taiwan menguat sebesar 0,19%, serta rupee India merangkak naik 0,28%.

Menurut pengamat dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, kurs rupiah berakhir jatuh terhadap dolar Amerika Serikat (AS) setelah para pelaku pasar menanggapi penurunan data neraca transaksi berjalan Indonesia yang angkanya didapati lebih tinggi daripada estimasi pasar.

Beban terhadap mata uang rupiah juga bersumber dari kondisi risk off yang masih menyelimuti sektor keuangan dalam negeri, khususnya di tengah merosotnya bursa saham selama beberapa waktu belakangan ini. 

Jumlah defisit neraca transaksi berjalan pada triwulan paling baru dilaporkan membengkak cukup besar ketimbang periode yang sama di tahun sebelumnya. 

Keadaan ini memicu rasa cemas para pemodal terkait kekuatan eksternal Indonesia, sekaligus mendongkrak aksi buru terhadap aset aman (safe haven) layaknya dolar AS.

Bukan cuma dipengaruhi aspek dalam negeri, hambatan dari luar negeri pun masih begitu dominan menyusul ketidakpastian situasi geopolitik dunia yang belum mereda. Para pelaku pasar saat ini tengah menunggu kabar paling baru dari wilayah Timur Tengah, terutama mengenai jawaban Iran atas draf yang disodorkan oleh Amerika Serikat. 

Iran dikabarkan diharap bakal menyerahkan respons mereka dalam rentang waktu dekat, di mana hal ini berpeluang menjadi pemicu krusial bagi dinamika pasar dunia pada awal pekan. 

Gejolak geopolitik di wilayah tersebut dianggap mampu mendorong keperkasaan dolar AS sekaligus menghimpit mata uang negara berkembang (emerging markets), termasuk rupiah.

"Untuk perdagangan Senin [25/5], rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS," sebagaimana dilansir dari berita sumber pada akhir pekan lalu.

Reporter: Gemilang Ramadhan