JAKARTA – Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus bergejolak tinggi dinilai berpotensi menyumbat laju masuknya investasi asing ke dalam negeri. Situasi ini membuat para pelaku usaha dan investor memilih untuk bersikap wait and see di tengah ketidakpastian yang melanda pasar keuangan serta ekonomi dunia saat ini.
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede menyebutkan bahwa stabilitas nilai mata uang rupiah menjadi faktor krusial yang dipertimbangkan oleh penanam modal dalam menentukan keputusan investasi, terutama bagi investor dari mancanegara yang sangat sensitif terhadap risiko kurs dan pergerakan arus modal.
“Kalau kondisi rupiah tidak stabil, pertanyaannya apakah investasi akan berjalan? Semuanya akan wait and see, khususnya investasi asing,” ujar Josua dalam paparannya di Makassar, Jumat (22/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Menurut penjelasan Josua, upaya Bank Indonesia untuk mempertahankan stabilitas mata uang rupiah tidak bertolak belakang dengan sasaran mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ia menilai bahwa stabilitas nilai tukar justru sangat dibutuhkan agar sektor riil mendapatkan kepastian dalam mengeksekusi rencana ekspansi maupun investasi jangka panjang.
Langkah penuh kehati-hatian dari para pelaku bisnis ini, lanjut Josua, tercermin dari masih tingginya angka undisbursed loan atau fasilitas pinjaman yang sudah disetujui perbankan tetapi belum ditarik oleh pihak debitur.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut menandakan sektor industri masih cenderung menahan diri untuk melakukan ekspansi akibat gejolak rupiah dan ketidakpastian situasi ekonomi.
“Perbankan sudah menyetujui kredit, tetapi debiturnya belum menggunakan. Artinya pelaku usaha masih ragu untuk ekspansi, tambah pabrik, atau beli mesin,” katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Data dari Bank Indonesia memperlihatkan bahwa persentase undisbursed loan terhadap total plafon pembiayaan masih bertengger di posisi yang tinggi pada sejumlah sektor korporasi. Kondisi ini memperlihatkan masih adanya ruang penyaluran dana pinjaman yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh dunia usaha.
Bank Indonesia melansir bahwa sektor pertanian, jasa dunia usaha, konstruksi, serta pengangkutan mencatatkan rasio undisbursed loan yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata historis pada rentang tahun 2021–2025. Secara umum, rasio pinjaman yang belum dicairkan tersebut juga masih berada di atas 20% dari total plafon kredit.
Josua berpendapat bahwa tingginya volume kredit yang belum ditarik itu bukan disebabkan oleh langkah perbankan yang menahan likuiditas.
Ia menegaskan bahwa kondisi likuiditas perbankan saat ini sebenarnya masih tergolong longgar, namun penyerapan kredit memang belum sepenuhnya pulih akibat besarnya risiko dan ketidakpastian dunia usaha.
Di sisi lain, Josua menilai kebijakan Bank Indonesia dalam menaikkan suku bunga acuan merupakan sebuah langkah pre-emptive untuk memproteksi stabilitas mata uang garuda sekaligus mengendalikan ekspektasi inflasi.
Menurutnya, kebijakan tersebut perlu diambil demi meredam dampak imported inflation akibat melemahnya nilai rupiah serta kenaikan harga komoditas dunia di tengah ketegangan geopolitik yang terjadi di Timur Tengah.
“Ini langkah pre-emptive untuk membatasi dampak import inflation dan menjangkar ekspektasi inflasi,” ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Josua memperkirakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang diakibatkan oleh kebutuhan musiman dolar AS, seperti perputaran dana haji dan pembayaran dividen, berpotensi mulai mereda pada kuartal III-2026.
Meski begitu, ia memandang ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah masih memegang peran sebagai faktor risiko utama yang membayangi stabilitas pasar keuangan domestik serta arus masuk modal asing ke Indonesia.