JAKARTA – Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali memperlihatkan tren penurunan pada penutupan perdagangan Senin (25/5/2026).
Pelemahan nilai mata uang garuda ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal, khususnya terkait perkiraan kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed serta gejolak geopolitik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Merujuk pada data Bloomberg, rupiah di pasar spot merosot sebesar 0,15% secara harian ke angka Rp 17.744 per dolar AS. Sejalan dengan itu, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang rupiah terkoreksi sebesar 0,14% ke level Rp 17.743 per dolar AS.
Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi menilai bahwa laju nilai tukar rupiah untuk perdagangan esok hari akan sangat dipengaruhi oleh pernyataan dan sikap para petinggi The Fed mengenai arah kebijakan suku bunga mereka.
Christopher Waller, salah satu anggota Dewan Gubernur Bank Sentral AS, menyatakan dirinya siap memberikan dukungan terhadap kenaikan suku bunga apabila laju ekspektasi inflasi dinilai terus menjauh dari target yang dipatok oleh bank sentral.
“Kemungkinan besar Waller akan sependapat dengan pejabat-pejabat lainnya untuk menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim, Senin (25/5/2026) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Ibrahim memaparkan bahwa selain persoalan suku bunga acuan di AS, para pelaku pasar kini juga fokus mengamati perkembangan geopolitik dunia, terutama dinamika hubungan bilateral antara AS dan Iran. Investor terlihat mulai optimis bahwa kedua belah pihak kian dekat menuju kesepakatan damai, kendati masih terdapat beberapa hambatan yang belum terpecahkan.
Ia menambahkan, Iran diinfokan mempunyai rencana untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz. Walau demikian, armada militer AS yang bersiaga di kawasan Laut Oman dilaporkan tetap waspada hingga dokumen kesepakatan resmi benar-benar ditandatangani kedua negara.
“Tetapi apakah nota kesepakatan ini akan ditandatangani atau tidak. Karena yang lebih penting itu adalah tentang masalah uranium, dana yang dibekukan dari tahun 1970-an, saya beranggapan perdamaian ini kemungkinan besar akan gagal total,” kata Ibrahim sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Dalam sesi perdagangan pada Selasa (26/5/2026), Ibrahim memproyeksikan mata uang rupiah berpotensi melemah dan bergerak pada kisaran Rp 17.740 hingga Rp 17.800 per dolar AS.
Di sisi lain, Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap mata uang rupiah juga bersumber dari faktor domestik, khususnya terkait defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I-2026 yang menembus US$ 9,1 miliar.
Menurut Lukman, angka defisit tersebut menjadi yang tertinggi dalam kurun waktu lebih dari enam tahun terakhir, sehingga memengaruhi cara pandang investor terhadap aset-aset dalam negeri. Di waktu yang sama, rupiah tetap ditutup melemah meskipun indeks dolar AS sebenarnya sedang turun akibat meningkatnya optimisme pasar atas rencana pembukaan kembali Selat Hormuz.
“Prospek kenaikan suku bunga BI dalam satu atau dua pertemuan ke depan juga membuat investor masih menghindari SBN,” ucap Lukman sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Lukman mengimbuhkan, minimnya rilis data ekonomi penting sepanjang pekan ini membuat perhatian para investor terfokus pada kelanjutan proses perundingan damai antara AS dan Iran.
Respons yang akan diberikan oleh pihak Iran terhadap draf proposal perdamaian yang diajukan AS dianggap akan menjadi salah satu faktor penggerak utama yang memengaruhi pasar keuangan global, termasuk fluktuasi nilai rupiah.
Untuk jalannya perdagangan pada Selasa (26/5/2026), Lukman memprediksi kurs rupiah akan berfluktuasi dalam rentang angka Rp 17.700 sampai Rp 17.800 per dolar AS.