Harga Minyak Dunia Anjlok 7 Persen karena Optimisme Damai AS-Iran

Ilustrasi Kilang Minyak (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 26 Mei 2026 | 12:17:22 WIB

NEW YORK - Harga minyak mentah di pasar internasional jatuh hampir 7% pada sesi perdagangan hari Senin (25/5/2026). Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya optimisme para pelaku pasar mengenai peluang terciptanya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Situasi kondusif tersebut dinilai berpotensi membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan rute vital bagi distribusi minyak mentah dunia yang selama tiga bulan terakhir sempat lumpuh akibat meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Merujuk pada data yang dihimpun dari Reuters, harga minyak mentah jenis Brent merosot sebesar US$ 7,24 atau mendekati 7% menuju level US$ 96,30 per barel. 

Sejalan dengan itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS juga terpangkas sebesar US$ 6,30 atau sekitar 6,5% ke posisi US$ 90,88 per barel.

Penurunan tajam pada nilai komoditas energi ini terjadi pascapertemuan antara utusan khusus dan Menteri Luar Negeri Iran di Doha, Qatar. Pertemuan tersebut digelar khusus untuk bernegosiasi dengan pihak AS guna mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung sepanjang tiga bulan belakangan.

Kedua belah pihak dilaporkan menunjukkan sinyal positif dalam merumuskan draf kesepahaman awal. Rancangan tersebut nantinya akan menghentikan sementara kontak senjata dan memberikan waktu selama 60 hari bagi tim negosiator untuk menyelesaikan poin-poin kesepakatan secara permanen.

Menanggapi situasi ini, Phil Flynn selaku analis senior dari Price Futures Group mengungkapkan bahwa pasar saat ini mulai memperhitungkan peluang kembalinya pasokan minyak dari wilayah Teluk. Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Meski belum final, pasar mulai berharap distribusi minyak melalui Selat Hormuz bisa kembali berjalan," ujarnya.

Perlu diketahui bahwa Selat Hormuz memegang peranan krusial karena menjadi jalur transportasi bagi sekitar seperlima dari total pasokan minyak di seluruh dunia. Hambatan navigasi yang terjadi di selat tersebut selama beberapa bulan terakhir sempat memicu lonjakan harga minyak global akibat kekhawatiran pasar akan terjadinya kelangkaan stok.

Kendati demikian, sejumlah pengamat mengingatkan agar para pelaku pasar tidak bersikap terlalu optimistis secara berlebihan. 

Pendiri Commodity Context, Rory Johnston, menilai bahwa proses diplomasi antara AS dan Iran pada tahun-tahun sebelumnya kerap kali memperlihatkan tanda-tanda damai namun akhirnya selalu menemui jalan buntu di akhir proses perundingan. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami sudah beberapa kali melihat negosiasi mendekati kesepakatan lalu runtuh di detail terakhir, sementara Selat Hormuz tetap tertutup," kata Johnston.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melalui akun pribadinya di Truth Social mengonfirmasi bahwa dialog dengan Iran berjalan ke arah yang positif. 

Walau demikian, ia tetap memberikan peringatan keras mengenai kemungkinan dilancarkannya serangan baru apabila negosiasi ini tidak membuahkan hasil. 

Trump juga mengimbau agar negara-negara Arab serta negara dengan mayoritas penduduk Muslim lainnya bersedia bergabung dalam Abraham Accords, yaitu kesepakatan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel yang diprakarsai oleh AS pada masa jabatan pertamanya.

Flynn menambahkan, jika rekonsiliasi damai ini benar-benar terwujud dan konflik geopolitik mereda, maka premi risiko pada pasar minyak di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan menyusut secara drastis.

Sementara itu, pihak Kementerian Luar Negeri Iran memberikan penegasan bahwa agenda pembicaraan saat ini masih berfokus penuh pada gencatan senjata dan sama sekali belum membahas regulasi terkait isu nuklir.

Meski titik terang perdamaian mulai terlihat, para pengamat memproyeksikan bahwa pemulihan rantai pasok energi global tidak dapat pulih dalam sekejap. 

Berbagai fasilitas serta infrastruktur minyak di area konflik diperkirakan memerlukan waktu hingga beberapa bulan agar bisa kembali beroperasi secara optimal.

June Goh, seorang analis dari Sparta Commodities, menjelaskan bahwa kekurangan pasokan minyak mentah dunia yang saat ini menyentuh angka 10 juta hingga 11 juta barel per hari tidak akan langsung terpenuhi seketika meskipun dokumen perdamaian telah ditandatangani. 

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Pasar masih akan mengandalkan cadangan minyak hingga produksi Timur Tengah benar-benar pulih, dan itu bisa memakan waktu berbulan-bulan," ujarnya.

Senada dengan pandangan tersebut, analis dari UBS, Giovanni Staunovo, mengingatkan para pelaku pasar untuk tetap memantau pergerakan fisik minyak di lapangan secara riil, mengingat arus logistik yang melewati Selat Hormuz sejauh ini masih terpantau sangat terbatas.

Kendati begitu, berdasarkan data pelacakan kapal internasional, beberapa kapal tanker yang membawa gas alam cair (LNG) sudah mulai terlihat melewati Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir untuk menuju ke negara Pakistan, China, dan India. 

Selain itu, satu unit kapal supertanker yang mengangkut minyak mentah dari Irak dengan tujuan China juga dilaporkan telah berhasil berlayar keluar setelah sempat terjebak selama hampir tiga bulan.

Reporter: Gemilang Ramadhan