Wall Street Cetak Rekor Usai Gencatan Senjata AS dan Iran

Ilustrasi Nasdaq (Foto: NET)
Jumat, 29 Mei 2026 | 13:13:17 WIB

NEW YORK – Bursa saham utama di Wall Street berakhir di zona hijau pada sesi penutupan perdagangan hari Kamis (28/5/2026), di mana indeks S&P 500 serta Nasdaq sukses membukukan rekor tertinggi sepanjang sejarah setelah munculnya laporan terkait draf kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk memperlama masa gencatan senjata mereka hingga 60 hari ke depan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average merosot atau mengalami penyesuaian dengan kenaikan sebesar 24,69 poin, atau setara dengan 0,05% ke posisi 50.668,97. 

Sementara itu, indeks S&P 500 menanjak sebesar 43,27 poin, atau tumbuh 0,58% menuju level 7.563,63 dan indeks Nasdaq Composite melesat hingga 242,74 poin, atau sebesar 0,91% ke posisi 26.917,47.

Indeks sektor kesehatan di dalam S&P 500 memperlihatkan performa pertumbuhan yang solid. Harga saham Eli Lilly terdongkrak naik sebesar 4% pasca adanya pernyataan dari CVS Health yang menyebutkan akan memasukkan kembali Zepbound, obat suntik penurun berat badan besutan perusahaan farmasi tersebut, ke dalam skema tanggungan asuransinya sekaligus mengintegrasikan Foundayo, produk pil obesitas teranyar yang telah mengantongi izin regulasi.

Di samping itu, saham-saham di sektor teknologi juga bergerak merayap naik. Nilai saham Microsoft terkerek sebesar 3,5% setelah media berita The Information mewartakan rencana perusahaan untuk meluncurkan model pengkodean terbarunya pada pekan mendatang.

Sepanjang sesi, volume perdagangan saham yang berputar di lantai bursa efek AS menyentuh angka 19,2 miliar saham, dengan angka rata-rata bertengger di posisi 19,03 miliar saham dalam rentang waktu 20 hari perdagangan terakhir.

Informasi dari sumber Reuters menyebutkan bahwa realisasi kesepakatan bilateral antara AS dan Iran ini masih memerlukan persetujuan formal dari Presiden AS Donald Trump. 

Di lain pihak, Tasnim, yang merupakan kantor berita resmi Iran, mengabarkan bahwa naskah nota kesepahaman potensial dengan pihak AS tersebut masih belum difinalisasi ataupun dikonfirmasi secara resmi.

"Para pedagang sangat waspada dengan perkembangan berita kesepakatan, dan telah mengambil posisi beli untuk menghindari kerugian akibat hasil yang lebih baik dari perkiraan. Bagian yang lebih sulit adalah bahwa kekuatan inflasi mungkin tidak mereda secepat yang diinginkan pasar," sebagaimana dilansir dari berita sumber di akhir kalimat.

Publikasi data ekonomi teranyar memperlihatkan indikasi bahwa tingkat inflasi di AS merayap naik dengan kecepatan tertinggi dalam periode tiga tahun terakhir pada bulan April, yang dipicu oleh lonjakan harga komoditas energi di tengah berkecamuknya konflik Iran.

Pada saat yang sama, angka PDB AS untuk periode kuartal pertama mengalami revisi turun menjadi ekspansi tahunan sebesar 1,6%, dengan proyeksi pertumbuhan yang diperkirakan akan berjalan melambat pada kuartal berjalan ini.

Akan tetapi, tingkat kepercayaan pasar terhadap prospek kecerdasan buatan (AI) serta akselerasi pertumbuhan laba korporasi berhasil menjadi fondasi utama penopang reli bursa belakangan ini, mengabaikan eskalasi ketegangan politik di kawasan Timur Tengah yang sempat memicu kenaikan proyeksi inflasi.

"Pasar terus mengabaikan risiko-risiko ini—karena ekonomi global dan pendapatan perusahaan tetap relatif tangguh. Ketidakstabilan geopolitik pada akhirnya dapat mempercepat pengeluaran di bidang-bidang yang terkait dengan AI, termasuk keamanan siber, teknologi pertahanan, infrastruktur energi, dan ketahanan rantai pasokan, memperkuat argumen investasi jangka panjang," sebagaimana dilansir dari berita sumber di akhir kalimat.

Reporter: Gemilang Ramadhan