Bursa Saham AS Ditutup Variatif Sektor Teknologi Menguat

Ilustrasi, Saham Intel melonjak 11,2 persen setelah laporan pesanan besar dari Google. (Foto: NET)
Selasa, 09 Juni 2026 | 13:33:15 WIB

JAKARTA – Pasar saham Amerika Serikat (AS) berakhir bervariasi pada penutupan perdagangan Senin (9/6/2026) waktu setempat. Indeks Nasdaq menjadi motor utama penguatan yang dipicu oleh melesatnya saham-saham di sektor teknologi dan produsen semikonduktor. Kondisi ini terjadi karena para pelaku pasar memanfaatkan koreksi tajam pada akhir pekan kemarin untuk melakukan aksi beli di harga rendah.

Kondisi pasar juga mendapatkan sentimen positif setelah pihak Iran dan Israel mengumumkan penghentian aksi saling serang. Keputusan meredanya ketegangan tersebut diambil setelah Presiden AS Donald Trump mendesak kedua belah pihak untuk segera menyudahi tindakan militer mereka. 

Perseteruan yang berlangsung selama lebih dari 24 jam itu menjadi bentrokan paling langsung antara Iran dan Israel semenjak kesepakatan gencatan senjata pada April lalu.

Di lain sisi, indeks Dow Jones justru berakhir di zona merah dengan sebagian besar sahamnya ditutup di bawah titik tertinggi harian. 

Saham Apple mengalami penurunan sebesar 1,9 persen, walaupun perusahaan tersebut baru saja meluncurkan rangkaian pembaruan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk asisten pintar Siri dalam pergelaran Worldwide Developers Conference (WWDC).

Sektor teknologi yang ada di dalam indeks S&P 500 menjadi motor penggerak utama pasar dengan mencatatkan kenaikan sebesar 1,5 persen. 

Sementara itu, Philadelphia Semiconductor Index melambung tinggi hingga 5,6 persen setelah berhasil bangkit dari tekanan pada hari Jumat lalu, yang sebelumnya sempat memangkas nilai kapitalisasi pasar saham-saham chip di bursa AS sekitar USD1 triliun.

Saham Intel melonjak signifikan sebesar 11,2 persen pasca adanya pemberitaan dari media The Information yang menyebutkan bahwa Google, anak perusahaan Alphabet, telah melakukan pemesanan lebih dari 3 juta unit tensor processing unit untuk diproduksi pada tahun 2028. 

Bersamaan dengan itu, saham Broadcom terangkat naik 2,8 persen setelah pada sesi sebelumnya sempat memicu kecemasan para investor terkait kecepatan pertumbuhan di sektor semikonduktor.

Seorang Partner dari Cherry Lane Investments, Rick Meckler, berpendapat bahwa bergairahnya pasar saat ini dipicu oleh langkah para investor yang kembali masuk ke sektor saham teknologi setelah sempat terkoreksi dalam.

“Hari ini terlihat sebagai momen ketika investor melakukan sedikit aksi borong murah setelah penjualan besar-besaran di saham teknologi. Biasanya setelah itu analis kembali menegaskan rekomendasi beli," ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurutnya, pergerakan pasar saham selama ini sudah dihargai terlalu sempurna, padahal situasi riil di lapangan sedang tidak ideal. “Pasar sudah cukup lama dihargai untuk kondisi yang sempurna, padahal saat ini jelas bukan masa yang sempurna. Dalam situasi seperti itu, pergerakan naik-turun dan kekhawatiran harga bergerak terlalu jauh akan terus terjadi,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, bursa Wall Street sempat merosot tajam setelah berhasil mencetak rentetan rekor tertinggi baru. 

Hasil kinerja keuangan Broadcom yang dianggap kurang memuaskan serta data serapan tenaga kerja AS pada bulan Mei yang melampaui estimasi pasar menjadi pemicu munculnya spekulasi mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan pada tahun ini.

Secara kumulatif, indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan sebanyak 80 poin atau sekitar 0,2 persen ke level 50.786. 

Sebaliknya, S&P 500 berhasil naik 21 poin atau 0,3 persen menuju posisi 7.405 dan indeks Nasdaq Composite melesat hingga 220 poin atau 0,9 persen ke level 25.929.

Managing Director Granite Wealth Management, Bruce Zaro, memberikan analisis bahwa pelemahan pada saham Apple disebabkan oleh aksi ambil untung investor setelah adanya pengumuman pembaruan teknologi AI teranyar mereka.

“Selama ini pasar menilai Apple tertinggal dalam pengembangan AI. Itu sebabnya sahamnya sempat berkinerja lebih buruk dibandingkan banyak saham teknologi besar lainnya sebelum akhirnya pulih belakangan ini,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan