Harga Batu Bara Naik Jadi 148,55 USD per Ton karena Permintaan Kuat
JAKARTA – Nilai jual komoditas batu bara terpantau terus merangkak naik akibat didorong oleh faktor tingginya permintaan. Merujuk pada acuan data Refinitiv, nilai batu bara pada sesi perdagangan hari Kamis (11/6/2026) ditutup pada level US$ 148,55 per ton, atau mencatatkan kenaikan sebesar 0,37%.
Lonjakan tersebut kian memperpanjang tren positif pergerakan harga batu bara, dengan akumulasi penguatan mencapai 1,08% dalam kurun waktu dua hari terakhir.
Harga batu bara tetap melaju naik meskipun di sisi lain nilai minyak mentah terpantau mengalami pelemahan. Masih terjaganya volume permintaan di pasar global menjadi faktor utama yang membuat harga batu bara terus merangkak naik.
Nilai kontrak berjangka untuk minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot sebesar 2,58% dan berakhir di posisi US$ 87,71 per barel setelah adanya pengumuman dari Trump. Pada waktu yang bersamaan, harga minyak mentah varian brent ikut jatuh sebanyak 2,92% menuju level US$ 90,38 per barel.
Di wilayah China, harga untuk komoditas batu bara kokas mengalami lonjakan akibat berlanjutnya tren penyusutan cadangan stok di lingkungan pertambangan, sehingga memicu ketersediaan pasokan spot menjadi semakin terbatas.
Pada momen yang bersamaan, batu bara kokas asal Australia mulai menunjukkan nilai yang lebih kompetitif jika disandingkan dengan pasokan dari Mongolia, sehingga berhasil memikat perhatian dari sejumlah pabrik baja di China.
Perpaduan antara tipisnya volume stok di area tambang serta meningkatnya daya saing dari produk batu bara Australia ini turut membantu menyokong sentimen pada pasar batu bara kokas, walaupun tingkat permintaan untuk sektor baja terpantau masih belum begitu kokoh.
Berbeda halnya dengan jenis kokas, nilai batu bara termal di kawasan pelabuhan bagian utara China bergerak stagnan lantaran dipicu oleh adanya aksi saling tarik antara kebijakan pembatasan pasokan yang berfungsi menyokong harga, dengan tekanan dari sisi persediaan yang membebani kondisi pasar.
Para pelaku pasar sejauh ini masih menaruh harapan bahwa tingkat konsumsi daya listrik untuk musim panas bakal mengalami lonjakan, sehingga memicu sebagian besar pihak penjual merasa enggan untuk memangkas harga penawaran mereka.
Akan tetapi, pihak pembeli, khususnya dari sektor industri pembangkit listrik, justru lebih memilih untuk bersikap wait and see (menunggu) lantaran menilai tingkat harga saat ini sudah tergolong cukup tinggi, ditambah ketersediaan stok mereka yang dinilai masih memadai. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat aktivitas transaksi berjalan sepi.
Volume persediaan batu bara pada jajaran pelabuhan utama seperti Qinhuangdao, Caofeidian, serta Jingtang dikabarkan merangkak naik hingga menyentuh kisaran 25,37 juta ton, yang berarti hampir mendekati level paling tinggi dalam kurun waktu satu bulan terakhir. Lonjakan angka stok ini dinilai memiliki potensi untuk menekan pergerakan harga ke depan.
Oleh karena itu, sebagian pelaku dagang (trader) mulai mengambil langkah untuk melepas stok lama mereka demi menjalankan perputaran inventori sekaligus melonggarkan area penyimpanan barang yang kian menyempit.
Di lain sisi, pengeluaran untuk biaya logistik serta transportasi terpantau mengalami kenaikan sebagai imbas dari adanya perubahan regulasi tarif angkutan kereta, sehingga kondisi ini memberikan daya dorong tambahan bagi harga batu bara sekaligus menahan potensi kejatuhan nilai yang lebih dalam.