Xolare Perkuat Konstruksi dan PLTS demi Laba Naik 18 Persen
JAKARTA – Perusahaan di bidang konstruksi dan energi, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA), mematok target pendapatan mencapai Rp412,57 miliar pada tahun 2026. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 23,5% jika dikomparasikan dengan capaian pada tahun 2025 yang berada di angka Rp333,99 miliar.
Selaras dengan target kenaikan pendapatan itu, Xolare RCR Energy juga mengincar perolehan laba tahun berjalan hingga Rp52,74 miliar pada 2026, yang berarti mengalami peningkatan 18,1% dari realisasi periode 2025 yang mencatatkan angka Rp44,66 miliar.
Direktur Utama SOLA, Mochamad Bhadaiwi, memaparkan bahwa langkah untuk mendongkrak performa kinerja ini bakal disokong oleh pengokohan visibilitas pendapatan (revenue visibility), penambahan backlog konstruksi, serta langkah diversifikasi pada produk dan pelayanan.
“Fokus pipeline diarahkan untuk memperkuat revenue visibility, backlog konstruksi, dan diversifikasi produk maupun layanan perseroan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (17/6) sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Mochamad Bhadaiwi menerangkan, perusahaan sudah menyiapkan tiga pilar utama pertumbuhan demi merealisasikan target tersebut. Pada pilar pertama, fokus utama tertuju pada ranah bisnis jalan hauling serta konstruksi pertambangan yang berlokasi di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Lewat lini ini, SOLA menangkap peluang pengerjaan peningkatan serta perawatan jalan hauling batu bara dengan menyajikan beraneka jalan keluar konstruksi, seperti cement treated base (CTB), cement treated recycled base (CTRB), penstabilan tanah, aspal emulsi, sampai dengan teknik double chip seal. Perusahaan juga membidik pengerjaan proyek-proyek baru maupun pemesanan kembali dari para mitra yang sudah ada.
Selanjutnya untuk pilar kedua, strategi diarahkan pada pematangan produk aspal beserta material industrial grade. Perusahaan berniat memperlebar jangkauan pasar untuk aspal emulsi, polymer modified bitumen (PMB), cold mix asphalt, pelapis, produk penahan air, hingga membran bitumen.
Langkah ini ditunjang lewat mekanisme call-off order bagi para mitra di sektor minyak dan gas (migas), tambang, serta infrastruktur, sekaligus memaksimalkan peran jaringan pabrik yang berada di wilayah Sumatra Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Sementara itu, pilar ketiga diarahkan pada pengerjaan energi terbarukan serta layanan engineering, procurement and construction (EPC). Mochamad Bhadaiwi menguraikan kalau SOLA tengah mematangkan rencana proyek-proyek EPC pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), proyek PLTS dengan basis independent power producer (IPP), sampai layanan EPC beserta perawatan bagi sektor energi dan migas.
Demi menyokong pencapaian target tersebut, perusahaan saat ini tengah menyelesaikan rangkaian pengerjaan strategis.
Beberapa di antaranya mencakup peningkatan jalan hauling batu bara milik PT Servo Lintas Raya sepanjang 36 kilometer, pengerjaan area perkantoran serta tempat tinggal Wisma Titan, hingga konstruksi jalan hauling sepanjang 10 kilometer lewat teknik double chip seal untuk PT Royalltama Mulia Konstruksi.
Bukan hanya itu, SOLA pun sedang memegang kontrak call-off order aspal emulsi bagi PT Pertamina Hulu Rokan dan menjadi pemasok aspal polimer, aspal emulsi, serta cold mix asphalt untuk para kontraktor di pengerjaan jalan nasional maupun jalan tol.
Meninjau dari sisi neraca keuangan, perusahaan memproyeksikan akumulasi aset bakal melonjak menjadi Rp351,39 miliar pada 2026 dari posisi Rp309,86 miliar di tahun sebelumnya.
Jumlah ekuitas diestimasikan naik menjadi Rp245,37 miliar dari Rp192,63 miliar, sedangkan total liabilitas diperkirakan menyusut menjadi Rp106,02 miliar dari Rp117,22 balance sheet sebelumnya.
Mochamad Bhadaiwi memandang prospek ekspansi perusahaan masih terbuka sangat lebar, khususnya seiring dengan berjalannya Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025—2034 yang memacu pembangunan pembangkit energi baru terbarukan, termasuk di dalamnya PLTS dan sistem penyimpanan energi.
Di sudut lain, keperluan untuk pembangunan serta pemeliharaan jalan diprediksi bakal tetap masif seirama dengan kelanjutan pengerjaan infrastruktur nasional.
Menurut pandangannya, lonjakan kebutuhan jalan industri, jalan pertambangan, area logistik, hingga jalur akses ke pelabuhan ikut memberikan kesempatan besar bagi sektor bisnis konstruksi serta material yang ditangani perusahaan.
Ditambah lagi, hadirnya regulasi carbon capture utilization and storage (CCUS) dipandang dapat menjadi keran pertumbuhan baru lewat keperluan dekarbonisasi industri serta pematangan nilai ekonomi karbon.
“Regulasi CCUS membuka peluang kebutuhan dekarbonisasi industri dan pengembangan nilai ekonomi karbon melalui kerja sama strategis dengan Apolpo LLC,” kata Bhadaiwi sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping itu, lewat agenda RUPST yang dilangsungkan pada Senin (15/6), para pemegang saham memberikan persetujuan terhadap laporan tahunan serta laporan keuangan perusahaan untuk tahun buku 2025.
Forum tersebut juga menyepakati alokasi laba bersih periode 2025 yang bernilai Rp44,65 miliar. Dari total dana itu, Rp14 miliar ditempatkan untuk dana cadangan, sementara Rp30,65 miliar diputuskan sebagai laba ditahan.
Para pemegang saham pun menyerahkan wewenang penuh kepada dewan komisaris untuk menentukan besaran remunerasi bagi direksi dan komisaris pada tahun buku 2026, termasuk pemberian tantiem untuk tahun buku 2025.
Pada sesi perubahan struktur pengurus, pemegang saham juga merestui diangkatnya Gazali Arief Gunawan untuk mengemban tugas sebagai Direktur SOLA.