Proyek Jalan Tambang dan PLTS Topang Pendapatan SOLA Naik 23,5 Persen

ILUSTRASI, PT Xolare RCR Energy Tbk (Sumber Gambar : Net)
Rabu, 17 Juni 2026 | 11:29:16 WIB

JAKARTA – Emiten produsen serta konstruksi aspal modifikasi, PT Xolare RCR Energy Tbk (SOLA) membidik kenaikan pendapatan beserta laba di tahun 2026 sejalan dengan penguatan pipeline proyek, diversifikasi bisnis, dan peningkatan backlog konstruksi.

Direktur Utama Xolare RCR Energy, Mochamad Bhadaiwi, menyampaikan bahwa SOLA menargetkan pendapatan menyentuh Rp 412,57 miliar pada tahun 2026 atau meningkat 23,5% bila dibandingkan dengan capaian sepanjang 2025 yang sebesar Rp 333,99 miliar.

Seiring dengan peningkatan top line tersebut, pihak manajemen SOLA membidik laba tahun berjalan mampu mencapai Rp 52,74 miliar di tahun 2026. Jumlah itu meningkat dari perolehan laba bersih tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 44,66 miliar.

"Fokus pipeline diarahkan untuk memperkuat revenue visibility, backlog konstruksi, dan diversifikasi produk maupun layanan SOLA,” ujar Bhadaiwi dalam keterangan resmi, Rabu (17/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Dalam rangka meraih target tersebut, SOLA menetapkan tiga pilar pertumbuhan yang utama. Pilar pertama ialah ekspansi bisnis jalan hauling serta konstruksi pertambangan di wilayah Sumatra dan Kalimantan. 

Pertama, SOLA mengincar kesempatan peningkatan serta perawatan jalan hauling batubara, termasuk menyajikan solusi cement treated base (CTB), cement treated recycled base (CTRB), stabilisasi tanah, aspal emulsi, sampai metode double chip seal.

Kedua, SOLA bakal melakukan ekspansi produk aspal serta material industrial grade. Bhadaiwi menuturkan bahwa SOLA memiliki rencana untuk memperluas jangkauan pemasaran aspal emulsi, polymer modified bitumen (PMB), cold mix asphalt, produk pelapis, waterproofing, dan membran bitumen.

“Strategi tersebut diperkuat melalui skema call-off order untuk pelanggan sektor minyak dan gas, pertambangan, serta infrastruktur, dengan dukungan jaringan pabrik yang tersebar di Sumatra Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” kata Bhadaiwi, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Ketiga, SOLA bakal menitikberatkan pada ekspansi energi terbarukan serta bisnis engineering, procurement and construction (EPC). SOLA mengincar peluang proyek PLTS, ekspansi PLTS yang berbasis independent power producer (IPP), sekaligus penyediaan layanan EPC dan perawatan bagi sektor energi serta migas.

Beberapa proyek saat ini sedang dikerjakan oleh SOLA, di antaranya yaitu peningkatan jalan hauling PT Servo Lintas Raya sepanjang 36 kilometer, pembangunan wilayah Wisma Titan, dan konstruksi jalan hauling untuk PT Royalltama Mulia Konstruksi. 

Di samping itu, SOLA pun melaksanakan call-off order aspal emulsi bagi PT Pertamina Hulu Rokan dan menyuplai aspal polimer, aspal emulsi, serta cold mix asphalt untuk beraneka proyek jalan nasional maupun jalan tol.

Bhadaiwi memaparkan bahwa kesempatan ekspansi bisnis perseroan ke depan masih terbuka sangat lebar, yang ditunjang oleh pengembangan energi baru terbarukan (EBT), keperluan pembangunan infrastruktur, hingga kesempatan bisnis dekarbonisasi industri.

"RUPTL 2025–2034 mendorong pertumbuhan PLTS, EBT, dan storage. Selain itu, regulasi CCUS dan pengembangan nilai ekonomi karbon juga membuka peluang baru bagi SOLA,” katanya, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Reporter: Gemilang Ramadhan