Hatten Bali Targetkan Pendapatan Tumbuh 5 Persen di Tahun 2026
JAKARTA – PT Hatten Bali Tbk (WINE) mengincar kenaikan pendapatan di kisaran 5% pada tahun 2026. Emiten pembuat wine lokal yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini bakal mengandalkan perluasan pasar ke luar area Bali, peluncuran varian produk premium teranyar, serta penguatan jaringan distribusi di skala nasional.
Direktur Utama Hatten Bali Ida Bagus Rai Budarsa mengungkapkan, WINE kini tengah melangkah ke fase pertumbuhan yang baru setelah berhasil menorehkan capaian kinerja yang kokoh sepanjang tahun 2025.
Pada tahun buku 2025, WINE berhasil mengantongi pendapatan senilai Rp 286 miliar dengan perolehan laba bersih menyentuh Rp 40 miliar. Capaian positif tersebut disokong oleh pulihnya sektor pariwisata, khususnya di Pulau Dewata yang hingga kini masih menjadi pasar utama bagi perseroan.
Demi mendongkrak pertumbuhan pada tahun ini, WINE memproyeksikan pembukaan gerai Cellardoor pertamanya di Jakarta pada akhir Juni 2026. Pendirian gerai ini menjadi langkah awal bagi perseroan dalam melebarkan sayap pasar direct-to-consumer di luar wilayah Bali.
"Melalui peluncuran merek-merek premium baru, pembukaan Cellardoor Jakarta, dan ekspansi jaringan distribusi yang terus berlanjut, kami membawa wine Indonesia lebih dekat kepada konsumen di seluruh penjuru negeri," ujar Ida Bagus dalam keterangannya, Rabu (17/6/2026), sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Di samping melakukan perluasan gerai, WINE pun mengagendakan peluncuran beberapa produk premium terbaru mereka, seperti Avara dan Ekko.
Kedua merek baru tersebut sebelumnya sudah berhasil menyabet penghargaan internasional dalam kompetisi AWC Vienna 2025 sebelum dipasarkan secara komersial kepada publik.
WINE juga secara berkesinambungan memperkokoh jaringan distribusinya. Kini, produk-produk milik perseroan telah dipasarkan lewat lebih dari 1.500 restoran, lebih dari 900 hotel, ratusan toko ritel, hingga jaringan subdistributor yang tersebar luas di pelbagai daerah di Indonesia.
Pihak manajemen memandang bahwa kekuatan jaringan distribusi ini merupakan modal krusial demi memperluas pangsa pasar di luar Bali, sekaligus menyokong target jangka panjang perseroan untuk menjadi merek wine lokal terdepan di Indonesia.
Melihat dari aspek keuangan, WINE mengawali tahun 2026 dengan kondisi yang terbilang kokoh. Sampai dengan akhir tahun 2025, total ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp 338 miliar, dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) di angka 34%, serta rasio lancar yang menyentuh 255%.
Cerahnya prospek bisnis WINE ini juga ditunjang oleh tren pertumbuhan di sektor pariwisata. Mengacu pada data yang dirilis Kementerian Pariwisata, total angka kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia menembus kisaran 15,38 juta pada tahun 2025.
Dari total angka tersebut, sebanyak 6,94 juta pelancong datang mengunjungi Bali. Di sisi lain, pemerintah mencanangkan target kunjungan wisatawan mancanegara mampu menyentuh angka 16 juta hingga 17,6 juta pada tahun 2026.
Pihak manajemen mengoptimalkan proyeksi peningkatan aktivitas pariwisata ini untuk menyokong permintaan dari segmen hotel, restoran, dan kafe (HoReCa), yang mana menyumbang sekitar 54% bagi total pendapatan WINE pada tahun 2025.
Melalui RUPST, para pemegang saham juga telah memberikan restu atas pembagian dividen tunai senilai Rp 9,49 miliar atau setara dengan Rp 3,5 tiap lembar saham.
Jumlah ini mencerminkan porsi sekitar 24% dari total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang sebesar Rp 39,52 miliar.
Di waktu yang sama, dana sebesar Rp 30,04 miliar atau berkisar 76% dari laba bersih akan dimasukkan sebagai laba ditahan demi menyokong ekspansi pembesaran usaha ke depan.