Laju IHSG Menanjak di Tengah Penantian Investor akan Sinyal Pasar Terbaru

Ilustrasi: IHSG menguat 4,12 persen pada perdagangan Senin seiring meredanya ketegangan geopolitik global. (Gambar: NET)
Rabu, 17 Juni 2026 | 12:33:05 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan kenaikan yang cukup besar pada sesi perdagangan Senin (15/6/2026). Kondisi ini terjadi setelah tensi geopolitik dunia mulai melonggarkan menyusul tercapainya kesepakatan damai temporer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Hadirnya sentimen positif ini memicu para pemodal untuk kembali memburu aset-aset berisiko, yang pada gilirannya sukses mendongkrak performa mata uang rupiah sekaligus meredam lonjakan harga minyak global.

IHSG mengakhiri sesi di zona hijau dengan lonjakan sebesar 4,12 persen ke posisi 6.254,97, setelah sebelumnya sempat merangkak naik hingga menyentuh titik 6.345,8 sepanjang jam perdagangan. 

Kendati demikian, modal asing terpantau keluar dengan catatan jual bersih oleh investor asing mencapai nilai Rp107,13 miliar di pasar reguler pada hari tersebut.

Berdasarkan analisis dari Phintraco Sekuritas, redanya friksi antara AS dan Iran yang membuka peluang beroperasinya kembali rute pelayaran di Selat Hormuz menjadi motor utama yang menggerakkan penguatan pasar modal dalam negeri. 

Sentimen optimistis ini pun sukses mengoreksi harga minyak mentah jenis WTI ke level USD 76,05 per barel dan minyak mentah Brent ke posisi USD 78,96 per barel.

Di sisi lain, Phintraco Sekuritas juga melaporkan bahwa mata uang rupiah ditutup menguat sebesar 0,85 persen ke posisi Rp17.709 per USD. 

Sementara dari sektor sektoral, saham-saham di bidang basic materials tampil sebagai penggerak utama dengan mencatatkan pertumbuhan tertinggi, yakni sebesar 7,26 persen.

Beberapa pengamat pasar berpendapat bahwa para pemodal masih menantikan hadirnya pendorong pasar yang lebih solid demi memastikan tren kenaikan ini dapat bertahan lama. 

Analis dari iFAST Capital, Kevin Khaw Khai Sheng, berpandangan bahwa penguatan IHSG yang berlangsung saat ini masih membutuhkan validasi dari pemulihan sentimen yang sifatnya lebih jangka panjang, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Menurut analisis Kevin, sentimen terhadap pasar ekuitas Indonesia baru akan bergeser ke arah yang lebih positif jika mata uang dolar AS melemah secara konsisten di bawah level Rp18.000 per USD disertai dengan kembalinya aliran modal dari luar negeri. 

Oleh sebab itu, setiap momentum kenaikan pasar yang terjadi saat ini dinilai masih berupa kesempatan taktis untuk jangka pendek.

Sementara itu, Head of Research Maybank Sekuritas, Jeffrosenberg Chenlim, berpendapat bahwa pemulihan menyeluruh pada pasar saham serta nilai tukar rupiah memerlukan sokongan dari langkah perbaikan yang bersifat struktural. 

Jeffrosenberg memaparkan bahwa para pemodal memerlukan kepastian yang konkret dalam implementasi kebijakan pemerintah serta situasi dunia usaha yang lebih kondusif.

“Hal-hal tersebut penting untuk memulihkan kepercayaan dan membangun kembali rasa aman bagi investor asing maupun pelaku usaha domestik,” ujar Jeffrosenberg sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Melihat dari sisi teknikal, Phintraco Sekuritas mengamati adanya tanda-tanda awal perbaikan pada grafik IHSG, walaupun indikator Stochastic RSI memberikan sinyal potensi terjadinya death cross pada zona jenuh beli (overbought). 

Lembaga tersebut memproyeksikan IHSG bakal bergulir dalam rentang harga 6.150 hingga 6.400 pada sesi perdagangan hari Rabu (17/6).

Kini, perhatian para pelaku pasar lokal tengah tersorot pada pengumuman Global Market Accessibility Review oleh MSCI serta proses perombakan bobot (rebalancing) pada indeks FTSE yang dijadwalkan pada 19 Juni. 

Peristiwa-peristiwa penting ini diperkirakan dapat memengaruhi pergerakan modal asing yang masuk atau keluar dari pasar ekuitas Indonesia.

MSCI juga dijadwalkan bakal mempublikasikan Annual Market Classification Review mereka pada tanggal 24 Juni mendatang. Para pelaku pasar dipastikan akan mengamati secara cermat hasil keputusan tersebut guna melihat kelanjutan status Indonesia sebagai negara berkembang (emerging market).

Tak hanya itu, pasar juga bersiap mengantisipasi langkah strategis dari sejumlah bank sentral utama dunia, di antaranya adalah keputusan The Fed pada tanggal 17 Juni serta Bank of England pada 18 Juni. 

Dari dalam negeri, fokus para penanam modal tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18 Juni, di mana bank sentral diprediksi akan mengerek naik suku bunga acuan mereka sebesar 25 basis poin hingga menyentuh level 5,75 persen.

Reporter: Gemilang Ramadhan