Prospek Emiten Emas Paruh Kedua 2026: Tumbuh Positif tapi Moderat

ILUSTRASI, Emiten emas diprediksi tumbuh positif namun dengan laju moderat di paruh kedua 2026. (Sumber Gambar : Net)
Jumat, 03 Juli 2026 | 10:28:20 WIB

JAKARTA – Performa para emiten berbasis emas di pasar modal Indonesia saat ini tengah dibayangi oleh tren penurunan harga emas yang terjadi sepanjang paruh pertama tahun 2026. Komoditas yang sempat bersinar terang sepanjang 2025 tersebut kini berbalik arah dan berpotensi memberikan tekanan pada kinerja keuangan perusahaan-perusahaan terkait.

Merujuk pada data Trading Economics, harga emas dunia mengalami penurunan dari level US$4.446 per troy ounce di awal tahun menjadi US$4.031,4 per troy ounce pada sesi perdagangan kemarin. Dengan kata lain, harga emas telah terpangkas sebesar 9,33 persen sepanjang tahun 2026 berjalan. 

Kondisi ini berbanding terbalik dengan pencapaian tahun lalu, di mana sepanjang 2025 harga emas berhasil melonjak hingga 61,34 persen, dari US$2.685 naik ke level US$4.332 pada akhir tahun.

Lukman Leong selaku Chief Analyst Doo Financial Futures memaparkan bahwa penurunan harga emas global pada paruh pertama 2026 ini lebih dipicu oleh penguatan mata uang dolar AS serta aksi ambil untung (profit taking) setelah tren kenaikan yang signifikan pada beberapa tahun sebelumnya. 

Para investor terpantau memindahkan dana mereka dari aset aman (safe haven) ke mata uang dolar AS yang terus menguat dalam beberapa bulan terakhir.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Lukman Leong mengungkapkan, ”Saya melihat sementara ini terjadi aksi ambil untung besar-besaran karena kenaikannya spektakuler ya. Jadi biarpun dihitung harga sekarang pun masih double dibandingkan dua tahun lalu,” pada hari Kamis (2/7/2026).

Selain faktor tersebut, meledaknya tren kecerdasan buatan (AI booming) juga dianggap menjadi salah satu pemicu merosotnya nilai logam mulia baru-baru ini. 

Investor dilaporkan berbondong-bondong mengalihkan modal mereka ke sektor yang menawarkan narasi pertumbuhan kuat dalam beberapa tahun terakhir.

Meski demikian, harga emas dinilai masih mempunyai ruang untuk kembali menguat hingga pengujung tahun 2026. Prediksi ini disokong oleh kebijakan bank sentral AS (The Fed) yang masih condong ketat (hawkish) serta tingginya ketidakpastian geopolitik yang melibatkan Iran dan AS.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Lukman Leong menambahkan, ”Saya melihatnya masih ada kemungkinan besar ke sekitar US$4.600—US$4.800. Jadi tetap di bawah US$5.000 untuk perkembangan saat ini. Kami bisa lihat kalau The Fed juga masih tetap hawkish, ekspektasi suku bunga malah terus naik.”

Di sisi lain, meningkatnya ancaman inflasi global membuat para pelaku pasar menjadi lebih selektif untuk menambah portofolio emas mereka sebagai aset safe haven

Hal ini tidak terlepas dari tingginya kenaikan harga emas yang sudah terjadi secara masif jika dibandingkan dengan periode dua tahun ke belakang.

Walau begitu, Lukman tetap optimistis bahwa bank-bank sentral dunia akan terus melakukan pembelian emas fisik secara konsisten. Faktor inilah yang membuat permintaan fisik terhadap logam mulia tersebut diproyeksikan tetap kokoh ke depannya.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Lukman menegaskan, ”Kalau kami mengharapkan kenaikan spektakuler seperti sebelumnya, mungkin tidak akan terjadi. Tapi semuanya bisa terjadi, soalnya permintaan bank sentral masih akan tetap support, tetapi dari sana idealnya harga emas akan naik secara bertahap, tidak seperti dua tahun terakhir.”

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, juga menyebutkan bahwa sepanjang paruh pertama tahun 2026, aktivitas perdagangan komoditas di Doo Financial mendominasi total transaksi yang ada. 

Fluktuasi harga emas yang tinggi dinilai menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelaku transaksi berjangka. Bahkan, Ariston memproyeksikan tren dominasi komoditas ini akan terus berlanjut hingga paruh kedua 2026.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Ariston Tjendra menjelaskan, ”Saya rasa komoditas masih mendominasi, tidak akan bisa disaingin. 

Emasnya sendiri itu lebih dikenal di masyarakat dan dari pergerakan volatilitas harga karena di transaksi berjangka ini yang ditransaksikan itu naik turunnya harga. Karena volatilitas emas besar, jadi peluang mendapatkan profit juga lebih besar.”

Masa Depan Emiten Emas

Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, memberikan proyeksi bahwa perolehan laba bersih emiten emas akan tetap tumbuh solid sepanjang tahun ini, walau kecepatannya diperkirakan tidak akan melampaui pertumbuhan fundamental pada tahun lalu. 

Meskipun harga emas belakangan ini terkoreksi cukup dalam, Nafan tetap menaruh harapan positif pada fundamental para emiten. Salah satu faktor pendukung utamanya adalah pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga emas berfungsi sebagai pelindung nilai alami (natural hedge) bagi masyarakat.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Nafan memaparkan, ”Jika nilai tukar rupiah terdepresiasi, emas akan bertindak sebagai natural hedge. Harga emas dunia terkoreksi, tapi pelemahan nilai tukar rupiah bisa otomatis mendongkrak average selling price [emiten],” pada hari Kamis (2/7/2026).

Nafan juga melihat bahwa permintaan terhadap fisik emas tetap kuat dalam jangka panjang, senada dengan laporan World Gold Council yang mencatat tingginya minat dari bank sentral serta investor. 

Kekokohan fundamental emiten emas ini pun terbantu oleh performa apik perusahaan pada kuartal I/2026, yang memberikan bantalan (buffer) cukup tebal andai harga emas kembali menyusut di sisa tahun ini.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Nafan mengutarakan, ”Secara kumulatif tahun penuh 2026, laba bersih emiten emas diproyeksikan tetap tumbuh positif, tetapi dengan laju yang lebih moderat dibandingkan lonjakan tahun lalu.”

Di samping faktor harga, emiten emas dalam negeri juga harus menghadapi tantangan berupa stabilitas volume produksi, arah kebijakan dari pemerintah domestik, hingga potensi pembengkakan biaya energi yang bisa menggerus margin keuntungan. 

Menurutnya, emiten yang mampu menjaga pertumbuhan volume produksi secara stabil seperti PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), hingga PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) yang didukung pasar domestik yang kuat, dinilai akan mampu mempertahankan pertumbuhan laba yang sehat.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Nafan menambahkan, ”Tantangan lainnya masih berkaitan dengan suku bunga tinggi. Takutnya kalau suku bunga tinggi, para investor cenderung memegang dolar AS, emas menjadi kurang menarik. Tapi secara jangka pendek.”

Di pihak lain, Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai prospek emiten emas pada paruh kedua 2026 ini masih berada dalam fase konstruktif karena harga jual produk saat ini masih jauh berada di atas biaya produksi (cost). 

Selain itu, margin operasional emiten di sektor ini dinilai masih cukup tebal. Menurut Wafi, koreksi harga emas saat ini lebih bersifat normalisasi pasar ketimbang pelemahan yang bersifat struktural pada logam mulia.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wafi memaparkan, "Pendorong pada semester dua adalah full ramp up Tambang Pani yang bakal mendorong volume, permintaan emas ritel domestik masih tinggi, dan potensi Fed rate cut dapat menstabilkan harga," pada hari Kamis (2/7/2026).

Kendati demikian, Wafi memproyeksikan pencapaian laba emiten emas secara penuh pada tahun 2026 akan berada di bawah realisasi tahun 2025 akibat tingginya basis pertumbuhan harga emas tahun lalu. 

Emiten yang memiliki pertumbuhan volume tinggi dinilai akan lebih tahan banting (resilient) karena mampu menutup dampak penurunan harga jual rata-rata sehingga tetap bisa mencatatkan pertumbuhan pendapatan.

Wafi memberikan rekomendasi untuk saham MDKA seiring beroperasinya Tambang Pani yang diharapkan mampu menambal efek koreksi harga. Keunggulan lain dari MDKA adalah adanya diversifikasi usaha ke sektor nikel. 

Selain itu, Wafi juga merekomendasikan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) Mengingat komoditas emas menjadi pilar utama pendapatan perseroan, ditambah dengan diversifikasi nikel yang bertindak sebagai penyangga performa perusahaan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, Wafi menyimpulkan, "Tantangan di luar harga emas adalah rupiah yang lemah berisiko menaikkan cost operasional berbasis impor, potensi revisi royalti dan kewajiban downstream, dan operational execution risk untuk tambang fase ramp-up seperti Pani butuh konsistensi produksi."

Reporter: Gemilang Ramadhan