IHSG Diprediksi Masih Tertekan di Semester Kedua Akibat Suku Bunga

Ilustrasi: IHSG menghadapi tekanan berat pada paruh kedua 2026 akibat kenaikan suku bunga dan pelemahan rupiah. (Foto: NET)
Jumat, 03 Juli 2026 | 15:46:25 WIB

JAKARTA – Setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sekitar 35 persen dari level tertinggi sepanjang semester pertama 2026, pasar domestik diproyeksikan masih akan menemui rintangan berat pada paruh kedua tahun ini. Meskipun valuasi harga saham saat ini tergolong sangat murah, tekanan dari kenaikan suku bunga, depresiasi rupiah, hingga ketidakpastian kebijakan pemerintah dinilai belum mereda sepenuhnya.

Dalam laporan outlook semester kedua 2026 yang berjudul The Best Offense is Defense, Samuel Sekuritas menyebutkan bahwa pendekatan investasi defensif merupakan langkah paling rasional karena belum tampak katalisator kuat yang mampu memicu kebangkitan pasar saham. 

Menurut Samuel, beban utama saat ini berasal dari perubahan arah kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah masuk ke fase kenaikan suku bunga.

Berbeda dengan periode lalu, kenaikan suku bunga kali ini lebih ditujukan untuk menjaga stabilitas kurs rupiah yang terus melemah. BI dipandang lebih mengutamakan stabilitas ketimbang pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan tersebut dianggap mampu mendukung daya tarik aset rupiah, namun di sisi lain berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi dan laba emiten. 

Samuel mengaitkan situasi ini dengan siklus kenaikan suku bunga tahun 2018, saat BI juga menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah dan meredam arus modal keluar.

Dampaknya, IHSG cenderung bergerak mendatar selama masa kenaikan suku bunga, sementara pemodal asing terus melakukan aksi jual meskipun dalam tempo yang lebih lambat. 

Samuel berpandangan bahwa masalah utama bukan pada kenaikan suku bunga itu sendiri, melainkan sinyal bahwa BI kini lebih memprioritaskan stabilitas daripada pertumbuhan ekonomi.

Strategi tersebut memang dapat membantu memperkuat rupiah, tetapi di saat bersamaan mengurangi daya tarik Indonesia sebagai pasar negara berkembang yang selama ini bergantung pada prospek pertumbuhan. Keadaan ini disebut sebagai salah satu alasan investor asing terus memangkas eksposur di pasar saham dalam negeri.

Selain tekanan moneter, sentimen investor terhadap kebijakan pemerintah juga menjadi beban bagi pasar.

Menurut mereka, berbagai kebijakan yang diterbitkan dalam beberapa bulan terakhir dinilai menambah policy risk premium, sehingga investor menuntut imbal hasil lebih besar untuk menanamkan modal di Indonesia.

Faktor yang menjadi perhatian meliputi keraguan terhadap disiplin fiskal, perubahan desain program pemerintah, sentralisasi modal dan ekspor sumber daya alam, pembentukan Danantara, serta berbagai kebijakan yang dinilai bergulir cepat sebelum adanya kejelasan implementasi. Hal tersebut dinilai menciptakan ketidakpastian bagi para investor.

Samuel memandang pelemahan rupiah bukan sekadar fenomena jangka pendek, melainkan bersifat struktural karena selisih pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Amerika Serikat kian menyempit. “Dengan mempertimbangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang secara struktural relatif rendah serta lingkungan suku bunga riil yang rendah, kami meyakini rupiah masih akan menghadapi tekanan depresiasi dalam jangka panjang,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Meskipun demikian, terdapat sisi positif yakni valuasi pasar saham Indonesia yang kini berada di posisi sangat rendah. Rasio price to earnings (P/E) IHSG ada di kisaran 13,6 kali atau sekitar 27 persen lebih murah dibanding rata-rata pasar negara berkembang (MSCI Emerging Markets) dan sekitar 34 persen di bawah rata-rata historis 10 tahun.

Namun, murahnya valuasi belum dianggap cukup sebagai alasan untuk agresif melakukan pembelian saham. “Pasar saat ini diperdagangkan pada valuasi setara periode krisis. Meski demikian, kami belum melihat adanya katalis yang jelas untuk menopang harga saham yang terus melemah,” sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, investor asing terus melakukan aksi jual, termasuk pada saham perbankan berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang pasar modal Indonesia. Mengenai isu MSCI, Samuel berpendapat dampak negatifnya sebagian besar sudah terserap ke dalam harga saham.

“Isu MSCI tampaknya sebagian besar telah diperhitungkan oleh pasar (priced in). Kami juga melihat probabilitas Indonesia diturunkan ke status Frontier Market relatif rendah,” sebagaimana dilansir dari berita sumber. Fokus pelaku pasar kini beralih pada evaluasi MSCI berikutnya pada November nanti.

Dengan menimbang seluruh faktor tersebut, Samuel menyarankan investor untuk memakai strategi yang lebih defensif pada semester kedua 2026. 

Porsi saham dikurangi dari 20 persen menjadi 15 persen atau underweight, sementara alokasi obligasi dan emas masing-masing ditambah menjadi 40 persen dan 10 persen.

Samuel juga mempertahankan alokasi kas sebesar 30 persen, terutama dalam bentuk deposito dolar AS, sebagai langkah antisipasi terhadap tingginya ketidakpastian pasar.

Reporter: Gemilang Ramadhan