Hadapi Inflasi, Produsen Taro AISA Perkuat Efisiensi dan Inovasi

ILUSTRASI, AISA optimalkan rantai pasok dan inovasi produk sebagai strategi mitigasi inflasi. (Sumber Gambar : Net)
Senin, 06 Juli 2026 | 14:54:01 WIB

JAKARTA – PT FKS Food Sejahtera Tbk. (AISA), emiten produsen Taro, memilih untuk memperketat efisiensi pada sisi operasional serta rantai pasok sebagai strategi utama dalam menyikapi potensi lonjakan inflasi yang berisiko menekan biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Mengacu pada data terkini BPS, pada Juni 2026, Indonesia mencatatkan inflasi sebesar 3,34 persen secara tahunan dan inflasi 1,79 persen secara year to date. Data BPS juga memperlihatkan kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,40 pada Mei 2026 menjadi 111,89 pada Juni 2026.

Selain inflasi, laporan S&P Global mencatat indeks PMI Manufaktur Indonesia melemah ke level 46,9 pada Juni 2026 dari posisi 50,0 pada Mei. S&P Global menyebutkan penurunan tersebut mengindikasikan kondisi operasional di sektor manufaktur yang cenderung stagnan.

VP Corporate Communication and Sustainability FKS Group, Beatrice Susanto, menyatakan perseroan terus memantau dinamika makroekonomi, termasuk tren inflasi, serta mengevaluasi secara periodik potensi dampaknya terhadap biaya operasional dan perilaku belanja masyarakat.

"Hingga saat ini, perseroan terus berfokus pada pengelolaan operasional yang efisien, optimalisasi rantai pasok, serta pengendalian biaya agar tetap dapat menjaga daya saing dan keberlangsungan kinerja usaha," ujarnya sebagaimana dilansir dari berita sumber, Minggu (5/7/2026).

Menurut Beatrice, perkembangan inflasi merupakan faktor eksternal yang mampu memengaruhi industri barang konsumsi, baik dari segi kenaikan biaya produksi maupun perubahan pola belanja konsumen.

Meskipun demikian, pihak perusahaan masih melakukan pemantauan sehingga belum dapat mengukur secara pasti dampaknya terhadap laba dan pendapatan.

Sebagai langkah mitigasi, perseroan berkomitmen menjaga pertumbuhan usaha melalui peningkatan efisiensi operasional, penguatan portofolio produk, serta pengelolaan biaya yang disiplin guna meredam tekanan akibat perubahan situasi ekonomi.

Dalam mengantisipasi potensi inflasi yang lebih tinggi pada semester kedua tahun ini, AISA akan mengoptimalkan aspek operasional, mulai dari efisiensi rantai bisnis, pengadaan bahan baku, menjaga produktivitas, hingga terus menghadirkan inovasi produk yang sesuai kebutuhan konsumen.

Terkait kemungkinan penyesuaian harga jual, AISA tidak akan mengambil langkah terburu-buru. Beatrice menuturkan kebijakan harga akan mempertimbangkan perkembangan biaya produksi, tingkat persaingan industri, daya beli masyarakat, serta dinamika pasar.

"Setiap penyesuaian harga akan dilakukan secara selektif dan terukur apabila memang diperlukan, dengan tetap mempertimbangkan kepentingan konsumen serta keberlanjutan bisnis perseroan," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Memasuki semester kedua 2026, perseroan menyusun fokus strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnis. Prioritasnya mencakup peningkatan penetrasi pasar, penguatan jaringan distribusi, menjaga ketersediaan produk, mengoptimalkan struktur biaya dan modal kerja, mempercepat inovasi produk, serta menjaga kesehatan profitabilitas dan arus kas.

Direktur Utama AISA, Gerry Mustika, mengatakan fokus utama perseroan adalah memastikan aksesibilitas produk dengan harga ekonomis di tengah situasi ekonomi yang menantang. 

Gerry menambahkan bahwa saat ini perusahaan aktif merancang ukuran kemasan yang sesuai kebutuhan dan kemampuan konsumen. AISA menyediakan variasi kemasan mini dengan harga ekonomis di samping kemasan besar dan menengah.

“Kami berkomitmen tetap memberikan kualitas produk yang baik, meski dalam kemasan kecil. Kami mulai memproduksi Taro seharga Rp1.000 dan Rp2.000, ada juga Mie Kremez dan Mocabe di harga Rp2.000. Ini bagian dari strategi agar produk kami tetap dapat dinikmati oleh masyarakat luas," katanya sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Berdasarkan laporan keuangan AISA per 31 Maret 2026, emiten di bawah kendali PT Pangan Sejahtera Investama ini membukukan penjualan bersih Rp505,23 miliar, tumbuh 4,9 persen dibandingkan pencapaian kuartal I/2025 sebesar Rp481,48 miliar.

Adapun laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk pada kuartal I/2026 senilai Rp11,28 miliar, melemah 67,7 persen dari laba bersih kuartal I/2025 sebesar Rp34,94 miliar.

AISA tahun ini berencana melakukan kuasi-reorganisasi untuk mengeliminasi akumulasi defisit atau saldo rugi per 31 Desember 2025 yang mencapai Rp2,73 triliun. Langkah ini bertujuan menyehatkan neraca keuangan perseroan ke depan.

Reporter: Gemilang Ramadhan