Strategi Korporasi Raih Pertumbuhan Berkualitas di Tahun 2025
JAKARTA – Kemajuan kinerja korporasi yang bermutu dinilai sangat bergantung pada kapabilitas perusahaan dalam menyeimbangkan kenaikan pendapatan, arus kas, margin keuntungan, kualitas aset, dan disiplin biaya. Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengungkapkan bahwa perusahaan yang hanya menunjukkan kenaikan dari sisi penjualan tidak otomatis dikatakan sehat jika pertumbuhan tersebut dibiayai utang yang mahal, penumpukan persediaan, memburuknya piutang, ataupun tergerusnya margin.
Dia memandang bahwa pertumbuhan korporasi yang bermutu pada 2025 ditentukan oleh lima aspek, yakni permintaan yang kuat dan berulang, margin yang terjaga, arus kas yang sehat, tata kelola yang kredibel, serta kemampuan untuk berinovasi.
“Adapun, sektor yang paling tangguh adalah sektor yang dekat dengan kebutuhan dasar, transaksi harian, konektivitas, kesehatan, logistik, dan jasa keuangan yang prudent,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari berita sumber, Selasa (7/7/2026).
Menurut Josua, sektor yang paling berat di tahun sebelumnya adalah sektor yang sangat sensitif terhadap daya beli, biaya energi, nilai tukar, serta permintaan global. “Sebab itu, dalam kondisi ekonomi yang makin selektif, pemenangnya bukan perusahaan yang tumbuh paling cepat, melainkan perusahaan yang tumbuh paling sehat, paling efisien, dan paling dipercaya pasar,” tegasnya.
Selanjutnya, dia berpendapat faktor lain yang krusial bagi kualitas korporasi adalah kemampuan dalam memahami perubahan permintaan.
Sepanjang 2025 hingga awal 2026, pasar domestik dinilai tetap menjadi penopang utama, kendati daya beli kelas menengah mulai bersikap lebih selektif.
Perusahaan yang bergerak di bidang kebutuhan pokok, layanan esensial, kesehatan, jasa keuangan, telekomunikasi, logistik, dan produk aktivitas harian cenderung memiliki daya tahan lebih tinggi.
Sebaliknya, perusahaan yang menggantungkan diri pada belanja tahan lama, ekspor komoditas, atau permintaan global lebih rentan ketika harga komoditas melemah dan permintaan luar negeri menurun.
“Data terbaru BPS menunjukkan ekspor Mei 2026 turun 5,73 persen secara tahunan, sementara impor naik 22,16 persen, sehingga neraca perdagangan mengalami defisit pertama dalam lebih dari enam tahun. Ini memberi sinyal bahwa tekanan eksternal dan biaya input semakin penting bagi korporasi,” ungkapnya.
Lebih jauh, Josua menyatakan bahwa tata kelola perusahaan harus dijaga dengan ketat. Pasalnya, di tengah situasi ekonomi yang menantang, pasar dan kreditur akan lebih mengutamakan perusahaan yang transparan, disiplin, dan terpercaya.
Oleh karena itu, tata kelola yang baik bukan sekadar pemenuhan syarat administratif, melainkan sarana untuk menekan biaya modal.
Inovasi dan transformasi digital kini telah menjadi syarat mutlak daya saing, bukan sekadar pelengkap.
Digitalisasi membantu perusahaan untuk menekan biaya, mempercepat layanan, memahami perilaku konsumen, memperbaiki rantai pasok, memperkuat sistem pembayaran, serta meningkatkan pengalaman pelanggan.
“Namun, digitalisasi tidak boleh hanya berupa aplikasi atau kanal penjualan baru. Yang lebih penting adalah perubahan proses bisnis, kualitas data, keamanan siber, dan kemampuan perusahaan mengambil keputusan lebih cepat berbasis informasi yang lebih akurat,” tegasnya.
Josua menekankan bahwa perusahaan yang mengejar pertumbuhan bermutu perlu menghindari strategi yang berfokus pada volume saja.
Fokus harus diarahkan pada produk dengan margin sehat, pelanggan yang solven, efisiensi rantai pasok, manajemen utang yang konservatif, perlindungan terhadap risiko nilai tukar, serta diversifikasi pasar.
Untuk sektor konsumsi, dia menyatakan kuncinya terletak pada penyesuaian ukuran produk dan harga agar tetap terjangkau. Bagi manufaktur, kunci keberhasilan ada pada efisiensi bahan baku, peningkatan kandungan lokal, dan penguatan pasar ekspor nontradisional. “Sementara itu, untuk sektor keuangan, kuncinya adalah menjaga kualitas kredit dan tidak terjebak pada pertumbuhan pembiayaan berisiko tinggi,” pungkasnya.