Analisis Prospek Kinerja Saham Indosat di Tahun 2026

ILUSTRASI, Manajemen Indosat mencatat penurunan pelanggan prabayar menjadi 92 juta pada kuartal I-2026. (Sumber Gambar : Net)
Selasa, 07 Juli 2026 | 15:22:22 WIB

JAKARTA – Proyeksi kinerja PT Indosat Tbk (ISAT) dianggap masih memberikan harapan hingga penghujung tahun 2026, walaupun terjadi penurunan jumlah pelanggan prabayar secara tahunan. Para analis berpendapat bahwa berkurangnya jumlah pelanggan tersebut lebih menunjukkan upaya perusahaan dalam memperbaiki kualitas basis pengguna daripada indikasi merosotnya permintaan.

Sebagai catatan, Indosat mencatat penurunan pelanggan prabayar menjadi 92 juta pada kuartal pertama tahun 2026, turun dari 94 juta pada periode yang sama tahun lalu. 

Sementara itu, jumlah pengguna pascabayar berada pada posisi stagnan di angka 2 juta pelanggan. Kendati demikian, pihak manajemen menyatakan bahwa basis pelanggan perseroan masih tergolong stabil, yang terlihat dari tren kesehatan pengguna aktif harian, bulanan, hingga pengguna aplikasi bulanan.

Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, mengungkapkan bahwa prospek ISAT hingga akhir tahun 2026 tetap positif. 

Menurutnya, penurunan pelanggan prabayar merupakan bagian dari strategi untuk mengoptimalkan kualitas pelanggan, sehingga hal tersebut tidak mencerminkan adanya pelemahan permintaan pada layanan telekomunikasi.

"Ke depan, pertumbuhan kinerja diperkirakan akan didorong oleh konsumsi data yang tetap meningkat, perbaikan average revenue per user (ARPU), efisiensi operasional, serta potensi monetisasi aset melalui FiberCo yang dapat memperkuat struktur keuangan perusahaan," sebagaimana dilansir dari berita sumber, ujar Harry, Sabtu (4/7/2026).

Harry menambahkan, beberapa katalis diprediksi akan terus mendukung kinerja ISAT hingga akhir tahun, seperti pertumbuhan trafik data yang berkelanjutan, peluang peningkatan ARPU, serta implementasi FiberCo yang berpotensi menciptakan sumber pendapatan baru sekaligus memperkokoh neraca keuangan perusahaan. Monetisasi FiberCo ditargetkan selesai pada kuartal III 2026.

Di sisi lain, bisnis AI Neocloud dinilai menunjukkan skala yang menjanjikan dengan pendapatan kontrak diperkirakan mencapai US$ 170 juta dalam tiga tahun mendatang. 

Manajemen menyebut bisnis ini telah memberikan kontribusi positif terhadap laba per saham (EPS) dan arus kas bebas (FCF) sejak beroperasi.

Meski begitu, ia mengingatkan adanya risiko yang patut diwaspadai investor. Dari aspek industri, persaingan harga yang agresif antaroperator dapat menekan margin. 

Dari sisi makro, terdapat risiko pelemahan daya beli masyarakat, depresiasi nilai tukar rupiah yang berdampak pada biaya belanja modal, serta potensi perubahan regulasi telekomunikasi yang dapat mempengaruhi kinerja perusahaan.

Kinerja keuangan ISAT pada kuartal I-2026 mencatatkan pertumbuhan dua digit. ISAT memperoleh pendapatan Rp 15,22 triliun, tumbuh 12,10% secara tahunan atau YoY dari Rp 13,57 triliun. 

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk mencapai Rp 1,49 triliun selama periode Januari-Maret 2026, naik 13,75% secara tahunan dari Rp 1,31 triliun.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, Harry mempertahankan rekomendasi buy untuk saham ISAT dengan target harga Rp 2.400 per saham. “Kami menilai valuasi saat ini masih menarik dan didukung oleh fundamental operasional yang solid, meskipun dinamika persaingan industri tetap menjadi faktor yang perlu dicermati,” sebagaimana dilansir dari berita sumber, pungkas Harry.

Reporter: Gemilang Ramadhan