Breaking

Masjid Nabawi Dan Muhammadiyah Tarawih Kembali Ke Praktik Nabi Muhammad SAW

GE
Jumat, 13 Februari 2026
Masjid Nabawi Dan Muhammadiyah Tarawih Kembali Ke Praktik Nabi Muhammad SAW
Masjid Nabawi Dan Muhammadiyah Tarawih Kembali Ke Praktik Nabi Muhammad SAW

JAKARTA - Dinamika ibadah di bulan suci Ramadhan selalu membawa kerinduan bagi umat Muslim untuk merujuk kembali pada tuntunan yang paling murni. Menjelang Ramadhan 2026, sebuah fenomena menarik kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pemerhati hukum Islam, yakni mengenai titik temu antara praktik ibadah di Masjid Nabawi, Madinah, dengan tuntunan yang selama ini dijalankan oleh Muhammadiyah. 

Keduanya menunjukkan kecenderungan kuat untuk mengedukasi umat agar kembali pada akar tradisi yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, terutama dalam pelaksanaan shalat tarawih.

Kesamaan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan refleksi dari semangat tajdid (pembaruan) dan pemurnian ibadah agar sesuai dengan dalil-dalil yang paling kuat dan shahih.

Banyak masyarakat yang selama ini terbiasa dengan jumlah rakaat tertentu mulai melihat bahwa di pusat peradaban Islam seperti Madinah, kesadaran akan kualitas dan durasi bacaan dalam shalat tarawih menjadi lebih utama daripada sekadar jumlah bilangan rakaat.

Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam yang konsisten mengusung jargon "Kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah", menemukan relevansi yang kuat dengan apa yang dipraktikkan di Masjid Nabawi. Artikel ini akan membedah bagaimana keselarasan ini menjadi bukti bahwa kembali ke praktik Nabi adalah cara terbaik untuk meraih kekhusyukan dan keberkahan di bulan suci.

Keselarasan Spiritualitas Muhammadiyah Dengan Tradisi Ibadah Di Kota Suci Madinah

Muhammadiyah dalam berbagai putusan Tarjih-nya telah lama menetapkan bahwa shalat malam di bulan Ramadhan, atau yang lebih dikenal dengan tarawih, dilaksanakan dengan formasi 11 rakaat. 

Formasi ini mencakup 8 rakaat shalat tarawih dan 3 rakaat shalat witir. Praktik ini didasarkan pada hadits Aisyah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah jumlah rakaat shalat malamnya melebihi 11 rakaat, baik di dalam maupun di luar Ramadhan. 

Menariknya, di Masjid Nabawi, kesadaran untuk menghidupkan kembali sunnah ini juga terus dikuatkan, di mana kualitas bacaan imam dan ketenangan dalam setiap rukun shalat menjadi prioritas utama.

Hubungan antara Muhammadiyah dan praktik di Madinah mencerminkan visi global untuk menyatukan umat dalam standar ibadah yang paling otentik. Dengan mengikuti model ini, umat diajak untuk tidak terjebak pada perdebatan kuantitas, melainkan lebih mendalami makna dari setiap ayat yang dilantunkan. 

Keselarasan ini memberikan ketenangan bagi warga Muhammadiyah bahwa langkah yang mereka ambil selaras dengan apa yang diupayakan oleh para ulama di pusat jantung dunia Islam, yaitu mengutamakan kesesuaian dengan perilaku (sunnah) Nabi SAW secara presisi.

Menitikberatkan Kualitas Bacaan Dan Kekhusyukan Dalam Pelaksanaan Shalat Tarawih

Salah satu ciri khas yang mempertemukan Muhammadiyah dan praktik di Masjid Nabawi adalah penekanan pada thuma'ninah atau ketenangan dalam shalat. Shalat tarawih bukanlah sebuah perlombaan kecepatan, melainkan sarana komunikasi spiritual antara hamba dan Sang Pencipta. 

Di Masjid Nabawi, meski jumlah rakaat disesuaikan dengan kebutuhan jamaah, durasi berdiri yang lama dengan bacaan Al-Qur'an yang tartil tetap dipertahankan. 

Hal ini senada dengan instruksi dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah yang menekankan agar imam shalat memperhatikan kemampuan jamaah tanpa mengurangi kesempurnaan rukun shalat.

Dengan durasi yang lebih panjang pada setiap rakaatnya, seorang Muslim memiliki kesempatan lebih besar untuk merenungi pesan-pesan langit yang dibacakan. Formasi 11 rakaat yang dipraktikkan Muhammadiyah memungkinkan setiap rakaat dikerjakan dengan penuh penghayatan. Gerakan ini secara perlahan mengubah paradigma masyarakat dari "tarawih kilat" menuju "tarawih berkualitas". 

Praktik di Madinah pun seolah memberikan legitimasi moral bahwa format yang lebih ringkas namun padat makna adalah jalan menuju peningkatan spiritualitas yang lebih efektif selama bulan Ramadhan.

Landasan Dalil Shahih Sebagai Pondasi Utama Pemurnian Ibadah Ramadhan

Pemurnian ibadah tidak bisa dilepaskan dari kekuatan dalil yang melandasinya. Muhammadiyah sangat selektif dalam memilih riwayat hadits yang dijadikan dasar hukum, mengutamakan hadits-hadits yang berstatus shahih dan memiliki sanad yang kuat. 

Begitu pula di Masjid Nabawi, otoritas keagamaan setempat senantiasa merujuk pada praktik awal masa kenabian sebelum adanya penambahan-penambahan tradisi pada masa-masa berikutnya. Semangat kembali ke sumber asli inilah yang menjadi tali pengikat antara gerakan Muhammadiyah di Indonesia dengan otoritas keagamaan di Madinah.

Oleh karena itu, perbedaan jumlah rakaat yang ada di masyarakat seharusnya tidak lagi menjadi sumber perpecahan, melainkan menjadi khazanah keilmuan. Muhammadiyah menawarkan solusi yang praktis namun teologis: mengikuti apa yang paling sering dilakukan oleh Nabi SAW. 

Dukungan secara tidak langsung dari praktik di pusat Islam (Masjid Nabawi) memperkuat argumen bahwa Islam yang berkemajuan adalah Islam yang berani menanggalkan tradisi yang kurang memiliki dasar kuat demi kembali pada kemurnian ajaran Rasulullah SAW.

Kutipan Mengenai Esensi Kembali Ke Sunnah Dalam Ibadah Shalat Malam

Setiap langkah dalam pembaruan ibadah bertujuan untuk memberikan kepuasan batin bagi pelakunya. Ketika seorang mukmin merasa bahwa apa yang ia kerjakan memiliki dasar yang kuat dari Nabinya, maka kekhusyukan akan lebih mudah diraih.

Inilah visi besar yang ingin disampaikan oleh Muhammadiyah kepada seluruh umat Islam di Indonesia melalui pendekatan yang edukatif dan berbasis ilmu pengetahuan.

Sesuai dengan penjelasan yang terdapat dalam portal resminya, ditekankan bahwa tren kembali ke sunnah adalah sebuah kemajuan. 

Sebagaimana dilaporkan, “Masjid Nabawi dan Muhammadiyah tarawih kembali ke praktik Nabi SAW melalui penguatan formasi 11 rakaat yang mengutamakan kualitas bacaan dan kesesuaian dengan hadits-hadits shahih agar ibadah puasa menjadi lebih bermakna dan sesuai tuntunan asli.”. 

Kutipan ini menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak menciptakan jalan baru, melainkan sekadar membukakan kembali jalan lama yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad SAW.

Harapan Keseragaman Spiritualitas Umat Muslim Melalui Standar Praktik Nabawi

Dengan semakin banyaknya akses informasi, diharapkan umat Islam di tahun 2026 ini semakin cerdas dalam memilih referensi ibadah. Muhammadiyah terus berupaya menjadi pelopor dalam mensosialisasikan praktik tarawih yang sesuai dengan tuntunan Nabi ini ke seluruh pelosok negeri. 

Harapannya, suasana kebatinan di masjid-masjid tanah air dapat mendekati suasana syahdu yang dirasakan para jamaah saat berada di Masjid Nabawi.

Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas sujud kita. Dengan mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW yang dipraktikkan Muhammadiyah dan didukung oleh tradisi di Masjid Nabawi, kita berharap setiap rakaat yang kita kerjakan diterima oleh Allah SWT. 

Inilah esensi sejati dari ibadah: kepatuhan pada wahyu, kesesuaian dengan sunnah, dan ketulusan dalam mengharap ridha Sang Khalik. Semoga kita semua mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar melalui shalat tarawih yang khusyuk dan sesuai tuntunan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua