Breaking

Sinergi Perbankan dan Pers Perkuat Ekosistem UMKM di Nusa Tenggara Timur

GE
Senin, 23 Februari 2026
Sinergi Perbankan dan Pers Perkuat Ekosistem UMKM di Nusa Tenggara Timur
Sinergi Perbankan dan Pers Perkuat Ekosistem UMKM di Nusa Tenggara Timur

JAKARTA - Momentum Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) menjadi panggung penting bagi penguatan ekonomi kerakyatan di Nusa Tenggara Timur (NTT). 

Melalui sebuah diskusi publik yang digelar pada Sabtu, 21 Februari 2026, peran sektor perbankan kembali ditegaskan sebagai pilar utama dalam membangun ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang lebih tangguh dan berdaya saing.

Diskusi yang mengusung tema besar "Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat" ini menyoroti bagaimana Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan dukungan non-finansial perbankan dapat mengakselerasi pertumbuhan usaha lokal. 

Bertempat di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena hadir langsung sebagai pembicara utama (keynote speaker), menekankan pentingnya kolaborasi antara penyedia modal, regulator, dan penyebar informasi.

Peran Strategis Perbankan dalam Membangun Kepercayaan dan Branding

Dalam dinamika usaha saat ini, dukungan perbankan ternyata tidak melulu soal suntikan modal segar. Hal ini terungkap dari penuturan Feby Nitte, salah satu pelaku UMKM yang hadir sebagai narasumber. Menurutnya, keterlibatan bank sebagai pembina memberikan dampak psikologis dan nilai jual yang signifikan terhadap produk di mata konsumen.

“Kalau KUR jujur saya sendiri belum menerima. Tapi secara garis besar, perbankan membantu saya dari sisi branding. Status sebagai mitra binaan Bank Indonesia itu menaikkan nilai jual kami,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pendampingan institusional seringkali menjadi kunci bagi pelaku usaha untuk menembus pasar yang lebih luas.

Tantangan Ekosistem UMKM dari Hulu Hingga ke Hilir

Meski akses permodalan seperti KUR terus didorong, pelaku usaha di NTT mengingatkan bahwa modal hanyalah salah satu instrumen. Ekosistem yang sehat memerlukan kepastian akses pasar dan strategi promosi yang terintegrasi. 

Feby Nitte menekankan bahwa yang lebih dibutuhkan UMKM saat ini bukan hanya tambahan modal, melainkan dukungan promosi, pemasaran, dan akses pasar yang jelas.

Ia menggarisbawahi pentingnya rantai pasok yang transparan agar barang produksi tidak berhenti di gudang. “Bukan hanya barangnya layak dijual, tapi dijual ke mana dan siapa yang membeli. Rantai pemasaran dari hulu ke hilir harus jelas,” katanya. 

Harapannya, hasil dari diskusi publik ini dapat dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan konkret bagi pemerintah dan legislatif demi lahirnya regulasi yang mendukung UMKM naik kelas.

Kisah Inspiratif Perjuangan UMKM dari Modal Kecil ke Mandiri

Di tengah perbincangan kebijakan makro, hadir pula kisah menyentuh dari Mama Anastasia, pemilik UMKM Tenunan Anastasia. Memulai langkah pada tahun 2019, ia membuktikan bahwa konsistensi adalah modal utama. Awalnya, ia hanya menjual kain milik orang lain melalui siaran langsung di media sosial dengan keuntungan yang sangat minim.

“Uang Rp10 ribu itu saya kumpul lebih dari satu bulan sampai dapat Rp1.200.000. Uang itu saya kirim ke Sumba untuk beli kain sendiri,” tuturnya mengenang masa sulit. Dari ketekunan memutar keuntungan kecil tersebut, usahanya kini berkembang pesat hingga mampu bekerja sama langsung dengan para penenun di Sumba Timur dan membangun lapak mandiri di rumahnya. 

Baginya, keterlibatan pemerintah dalam melibatkan UMKM kecil di berbagai event sangatlah krusial. “Harapan mama, kalau ada event-event, libatkan kami UMKM kecil supaya bisa berkembang lebih maju,” ujarnya.

Kolaborasi Pers dan Perbankan Sebagai Katalisator Ekonomi Daerah

Diskusi yang juga menghadirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTT, Kepala OJK NTT, Dirut Bank NTT, serta pimpinan BRI Cabang Kupang ini menyepakati bahwa pers memiliki peran vital sebagai jembatan informasi. Publikasi yang konstruktif dapat membantu UMKM memperluas jangkauan pasar yang selama ini sulit dijangkau secara mandiri.

Feby Nitte menambahkan bahwa wartawan bisa menjadi penyambung antara produksi, pemasaran, hingga ke tangan konsumen. “Wartawan bisa menjadi penyambung antara produksi, marketing, hingga pasar. Publikasi itu sangat membantu kami memperluas jangkauan,” katanya. 

Dengan sinergi antara kebijakan perbankan yang tepat sasaran dan pemberitaan media yang edukatif, ekosistem UMKM di NTT diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi yang berdaulat sesuai semangat HPN 2026.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua