JAKARTA - Upaya pemulihan wilayah yang terdampak bencana tidak hanya berfokus pada perbaikan infrastruktur besar, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
Salah satu kebutuhan yang paling penting dalam proses pemulihan adalah ketersediaan air bersih yang aman dan mudah diakses oleh warga.
Hal inilah yang menjadi perhatian Institut Teknologi Bandung dalam membantu masyarakat yang terdampak banjir bandang di Kabupaten Agam. Melalui program penyediaan air bersih, kampus tersebut menyerahkan fasilitas yang dibangun untuk membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.
Baca JugaMayoritas Wilayah DKI Jakarta Diprediksi Diguyur Hujan Ringan Hari Ini
Program tersebut diserahkan secara resmi di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Jumat, 3 April 2026. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya mendukung pemulihan masyarakat setelah bencana banjir bandang yang sebelumnya melanda wilayah tersebut.
Program Air Bersih Dukung Pemulihan Pascabencana
Rektor Institut Teknologi Bandung, Tata Cipta Dirgantara, mengatakan bahwa penyediaan akses air bersih merupakan langkah penting dalam membantu masyarakat bangkit setelah bencana.
"Penyediaan akses air bersih merupakan langkah fundamental dalam mendukung kesehatan masyarakat sekaligus mempercepat pemulihan aktivitas sosial dan ekonomi warga," ujar Tata Cipta Dirgantara di Lubuk Basung saat serah terima program peningkatan akses air bersih di Puskesmas Koto Alam, melansir Antara, Sabtu (4/4/2026).
Menurutnya, kebutuhan air bersih sangat berkaitan dengan kesehatan masyarakat, terutama di daerah yang baru saja mengalami bencana. Tanpa akses air bersih yang memadai, proses pemulihan kehidupan warga akan berjalan lebih lambat.
ITB sendiri telah menjalankan berbagai program bantuan air bersih di sejumlah wilayah yang terdampak bencana di Pulau Sumatera. Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat menghadapi situasi darurat.
Kolaborasi Lintas Lembaga Dalam Penyediaan Infrastruktur
Pelaksanaan program penyediaan air bersih tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pemulihan wilayah terdampak bencana. Dalam proyek ini, ITB bekerja sama dengan sejumlah lembaga dan organisasi sosial.
Tata Cipta menjelaskan bahwa hingga saat ini ITB telah memasang sebanyak 63 instalasi pengolahan air bersih di wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, serta Aceh sejak masa tanggap darurat hingga saat ini.
"Program tersebut merupakan hasil kolaborasi ITB bersama Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI), dengan dukungan Ikatan Alumni ITB (IA ITB), Rumah Amal Salman dalam pembangunan infrastruktur, serta Paragon Corp yang turut menyalurkan bantuan pangan berupa 200 paket bingkisan bagi warga terdampak," ucap Tata Cipta.
Keterlibatan berbagai lembaga ini menunjukkan bahwa proses pemulihan pascabencana membutuhkan kerja sama yang luas dari berbagai pihak. Dengan dukungan bersama, bantuan dapat disalurkan lebih cepat dan tepat sasaran.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas lembaga menjadi kunci penting dalam mempercepat pemulihan wilayah yang terdampak bencana, terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat seperti air bersih dan layanan kesehatan.
Jaringan Pipa Air Layani Ratusan Keluarga
Selain instalasi pengolahan air, pembangunan jaringan distribusi air juga menjadi bagian penting dari program tersebut. Ketua Ikatan Istri Dokter Indonesia, Usanti, mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Rumah Amal Salman untuk membangun kembali jaringan pipa air yang rusak akibat bencana.
"Pembangunan ini didanai dari donasi masyarakat yang dihimpun untuk korban bencana di Sumatera," kata Usanti.
Jaringan pipa yang dibangun menggunakan material High-Density Polyethylene atau HDPE dengan panjang mencapai 4,1 kilometer. Infrastruktur tersebut kini telah terpasang dan menjangkau permukiman warga di Nagari Salareh Aia.
Sistem distribusi air ini melayani sekitar 281 keluarga atau kurang lebih 1.000 jiwa dengan kapasitas distribusi mencapai 35.000 liter air setiap hari.
Untuk memudahkan masyarakat mendapatkan air bersih, lebih dari sepuluh titik keran hidran juga dibangun di beberapa lokasi strategis.
Ketua Pengurus Rumah Amal Salman, Mipi Ananta Kusuma, mengatakan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya pemulihan berkelanjutan bagi masyarakat terdampak bencana.
"Program penyediaan air bersih ini merupakan hasil kolaborasi banyak pihak dalam upaya memulihkan martabat warga terdampak bencana di Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam," ucap Mipi.
Selain melayani kebutuhan warga, sistem air bersih tersebut juga dimanfaatkan oleh fasilitas kesehatan setempat, termasuk Puskesmas yang kini kembali dapat melayani sekitar 150 pasien.
Keterlibatan Warga Dan Dukungan Pemerintah Daerah
Pembangunan jaringan pipa air tidak hanya melibatkan tenaga teknis, tetapi juga partisipasi masyarakat setempat. Lebih dari 50 warga turut terlibat dalam proses pembangunan infrastruktur tersebut.
Keterlibatan masyarakat dinilai memberikan manfaat ganda. Selain mempercepat proses pembangunan, partisipasi warga juga memberikan dampak ekonomi serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas yang dibangun.
Program ini diharapkan dapat menjadi fondasi awal bagi pemulihan kehidupan masyarakat di Nagari Salareh Aia setelah bencana yang terjadi sebelumnya.
Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Agam, Yunilson, menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak yang telah membantu masyarakat melalui program air bersih tersebut.
"Air bersih ini menjadi masalah bagi masyarakat kita, sehingga pelayanan Puskesmas Koto Alam sempat terhenti selama dua bulan dan semenjak terpasangnya instalasi maka pelayanan sudah jalan," kata dia.
Menurut Yunilson, persoalan air bersih di beberapa wilayah terdampak bencana seperti Palembayan, Malalak, dan Tanjung Raya kini telah mulai teratasi. Namun masih terdapat beberapa instalasi yang memerlukan perbaikan lebih lanjut.
Ia berharap kerja sama antara berbagai lembaga, termasuk ITB dan Ikatan Istri Dokter Indonesia, dapat terus berlanjut untuk membantu proses pemulihan masyarakat.
"Mengingat Agam merupakan daerah terparah di Sumbar terdampak bencana dengan kerugian sekitar Rp7,9 triliun akibat infrastruktur, rumah, lahan pertanian dan lainnya mengalami rusak," tandas Yunilson.
Celo
Insiderindonesia.com adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
BMKG Prediksi Hujan Ringan hingga Lebat Landa Sejumlah Kota Besar Indonesia
- Sabtu, 04 April 2026
Respons Cepat ASDP Jaga Kelancaran Layanan Penyeberangan Ketapang Secara Optimal
- Sabtu, 04 April 2026
Menhan Lakukan Kunjungan Kerja Perkuat Sinergi Prajurit dan Masyarakat Lokal
- Sabtu, 04 April 2026
Menteri PPPA Pastikan Hak Pendidikan Anak Terpenuhi Lewat Program Sekolah Rakyat
- Sabtu, 04 April 2026
Pemerintah Percepat Penyaluran Bansos April 2026 Agar Lebih Tepat Sasaran
- Sabtu, 04 April 2026
Berita Lainnya
BNPB Kunjungi Gereja Rumengkor Minahasa Usai Gempa Besar Sulawesi Utara
- Sabtu, 04 April 2026












