Chanos Sebut Valuasi IPO SpaceX Tidak Masuk Akal
JAKARTA – Short seller Jim Chanos melayangkan kritik terhadap rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) SpaceX pada Rabu. Ia menilai bahwa valuasi perusahaan yang mencapai $1,75 triliun tersebut lebih bersandar pada ekspektasi yang tidak realistis ketimbang fundamental yang kokoh.
SpaceX menjadwalkan aksi melantai di Bursa New York pada Jumat ini melalui penawaran yang ditargetkan mampu menghimpun dana hingga $75 miliar.
IPO tersebut diproyeksikan menjadi yang terbesar dalam sejarah, dengan nilai hampir tiga kali lipat dari pencatatan saham Saudi Aramco pada tahun 2019. Perusahaan bentukan Elon Musk ini bakal melantai dengan menggunakan kode saham SPCX.
"Menurut saya, perusahaan ini tidak bernilai $1,75 triliun berdasarkan asumsi yang wajar dalam lima tahun ke depan," kata Chanos dalam sebuah konferensi iConnections di New York, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pendiri Kynikos Associates tersebut menguraikan bahwa kekhawatiran terkait valuasi serta persoalan tata kelola menjadikan SpaceX sebagai kandidat potensial untuk aksi short selling.
Kendati demikian, sejumlah short seller masih ragu untuk mengambil posisi melawan perusahaan ini, terlebih setelah lonjakan saham teknologi raksasa baru-baru ini sempat memicu kerugian bagi kubu bearish.
"Kami benar-benar bisa membangun cerita apa pun yang kami inginkan — koloni di Mars, terowongan pabrik, pusat data di luar angkasa — untuk membenarkan valuasinya. Dalam pasar bull, Anda memberikan premium pada janji-janji, dan dalam pasar bear, Anda memberikan diskon pada kenyataan," kata Chanos ketika ditanya tentang short selling terhadap perusahaan tersebut, sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Chanos kemudian membandingkan SpaceX dengan Tesla, perusahaan kendaraan listrik yang juga dimiliki oleh Musk. Ia memaparkan bahwa SpaceX diperdagangkan pada angka 90 kali penjualannya, sementara Tesla diperdagangkan pada rasio 14 kali penjualan.
Berdasarkan data dari S3 Partners, para short seller yang bertaruh melawan Tesla telah menelan kerugian di atas kertas melampaui $27 billion sejak Juni 2021. Di sisi lain, saham Tesla tercatat sudah melesat lebih dari 2.500% sepanjang dekade terakhir.
Selain itu, Chanos turut membeberkan pandangan negatifnya terhadap sektor pusat data. Ia menyebut sektor tersebut sebagai "bisnis yang buruk" karena menghasilkan imbal hasil modal yang tergolong sangat rendah.
Sikap bearish terhadap operator pusat data ini telah ia pertahankan sejak tahun 2022. Alasan utamanya adalah karena operasional mereka dinilai lebih menyerupai perusahaan REIT atau penyewaan peralatan ketimbang sebuah perusahaan teknologi yang tengah berkembang pesat.
Short seller kawakan ini menambahkan bahwa korporasi yang membeli chip dari produsen seperti Nvidia kemudian menyewakannya kembali kepada para hyperscaler harus menghadapi risiko depresiasi yang besar serta keterbatasan dalam hal daya penetapan harga.