Breaking

Indeks Dow Jones Anjlok 1,87 Persen karena Isu AS dan Iran

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 11 Juni 2026
Indeks Dow Jones Anjlok 1,87 Persen karena Isu AS dan Iran
ILUSTRASI, Dow Jones (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA – Pasar saham di Amerika Serikat (AS) mengalami kejatuhan yang cukup dalam pada penutupan perdagangan Rabu (10/6/2026). Penurunan ini dipicu oleh maraknya aksi lepas saham di sektor teknologi serta kecemasan yang makin menebal di kalangan pelaku pasar terkait memanasnya konflik antara AS dan Iran.

Berdasarkan data perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average merosot sebesar 953,33 poin atau 1,87 persen menuju posisi 49.918,78. 

Sejalan dengan itu, indeks S&P 500 melemah 119,66 poin atau 1,62 persen ke level 7.266,99, sementara indeks Nasdaq Composite terpangkas hingga 509,32 poin atau 1,98 persen menjadi 25.169,50.

Sektor teknologi dan semikonduktor menjadi penekan utama laju bursa. Indeks saham semikonduktor mencatat penurunan signifikan sebesar 3,6 persen, dengan saham Nvidia dan Broadcom menjadi beban berat bagi pergerakan indeks S&P 500.

Koreksi ini kian memperlebar tren penurunan di sektor teknologi. Saat ini, sektor teknologi pada S&P 500 tercatat sudah menyusut sekitar 11 persen dari rekor penutupan tertingginya yang sempat ditorehkan pada 2 Juni lalu, yang secara teknikal menandakan bahwa sektor ini telah memasuki fase koreksi.

Bukan hanya karena aksi ambil untung terhadap saham-saham teknologi yang nilainya sempat melesat tinggi, suasana pasar juga diperkeruh oleh tensi geopolitik yang kian membara di Timur Tengah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa pihaknya siap meluncurkan serangan balasan ke Iran jika kesepakatan damai gagal dicapai. Pernyataan tegas ini disampaikan setelah terjadinya salah satu ketegangan terbesar dalam dua bulan terakhir yang melibatkan kedua negara tersebut.

"Investor masih melakukan aksi ambil untung di sektor teknologi. Selain itu, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan suku bunga yang lebih tinggi setelah data ekonomi terbaru, ditambah kekhawatiran terkait perang yang berpotensi berlanjut hingga musim panas," ujar Investment Strategist U.S. Bank Wealth Management, Tom Hainlin, sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Di sisi lain, Indeks Volatilitas CBOE (VIX) yang sering disebut sebagai indikator kecemasan Wall Street menunjukkan pergerakan naik seiring tingginya ketidakpastian di pasar. Sektor industri mencatatkan performa paling merosot dengan penurunan mencapai 3,4 persen.

Kejatuhan sektor industri ini dipicu oleh merosotnya harga saham perusahaan ekspedisi dan logistik seperti XPO, J.B. Hunt, dan Old Dominion. Hal ini menyusul langkah Amazon yang mendeklarasikan perluasan jangkauan layanan pengiriman barang less-than-truckload (LTL) di wilayah Amerika Serikat.

Dari indikator makroekonomi, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data inflasi domestik AS. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS untuk periode Mei 2026 memperlihatkan lonjakan sebesar 4,2 persen secara tahunan, yang menjadi rekor kenaikan tertinggi sejak April 2023. 

Melambungnya harga energi sebagai dampak langsung dari konflik Timur Tengah dituding sebagai pemicu utama inflasi ini.

Kendati realisasi angka inflasi tersebut masih sejalan dengan prediksi, para pelaku pasar saat ini berspekulasi bahwa Federal Reserve setidaknya akan mengerek suku bunga acuan sebesar 25 basis poin sekali lagi sebelum tahun ini berakhir. 

Walau demikian, untuk rapat kebijakan bulan Juni ini, The Fed diprediksi masih akan mempertahankan tingkat suku bunganya yang sekarang.

Melihat pergerakan emiten secara individual, saham Super Micro Computer merosot tajam hingga 28 persen. Penurunan drastis ini terjadi setelah manajemen membeberkan strategi penghimpunan modal baru senilai US$ 7 miliar lewat penerbitan saham baru serta instrumen turunannya demi mendanai pasokan komponen server kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, saham Oracle mengalami koreksi sekitar 1 persen pada sesi perdagangan setelah jam penutupan menyusul rilis performa keuangan teranyarnya. 

Sejumlah analis memberikan pandangan bahwa saat ini tengah terjadi pergeseran modal keluar dari saham-saham teknologi yang bermodal besar menuju sektor-sektor yang sebelumnya sempat tertinggal, contohnya sektor kesehatan, properti, serta barang kebutuhan pokok.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua