Breaking

Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 Naik, BBM Subsidi Tetap

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Jumat, 12 Juni 2026
Harga Pertamax dan Pertamax Green 95 Naik, BBM Subsidi Tetap
ILUSTRASI, SPBU Pertamina (Sumber Gambar : Net)

JAKARTA - Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) mengalami kenaikan signifikan mulai Rabu, 10 Juni 2026.

Harga jual Pertamax kini menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Sementara itu, untuk Pertamax Green 95 mengalami kenaikan dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter. Langkah penyesuaian harga baru ini memicu reaksi dari masyarakat. Merespons kondisi tersebut, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Pertamina memberikan penjelasan resmi.

Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menjelaskan bahwa kebijakan menaikkan harga Pertamax disebabkan oleh tingginya ketegangan geopolitik global yang memicu fluktuasi tajam pada harga minyak dunia.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Ini tentu mau tidak mau berpengaruh terhadap harga BBM di tanah air. Terutama untuk BBM nonsubsidi, seperti Pertamax salah satunya, dan BBM nonsubsidi ini, penyesuaian harganya mengikuti mekanisme pasar, sesuai formula yang telah ditetapkan pemerintah," ujar Anggia, Kamis (11/6/2026).

Anggia menambahkan bahwa dalam menghitung harga tersebut, ada berbagai faktor yang menentukan nilai keekonomian BBM, seperti harga produk BBM di bursa internasional, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), biaya logistik, penyimpanan, hingga unsur perpajakan.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Karena itu penyesuaian harga BBM nonsubsidi, cepat atau lambat, tidak terhindarkan," ujarnya.

Kenaikan tarif BBM ini, menurutnya, tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga telah diterapkan lebih dulu oleh beberapa negara tetangga di Asia Tenggara dengan persentase lonjakan yang jauh lebih tinggi.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Yang harus kami pahami bersama, seperti yang kami tahu juga di negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, kenaikan harga BBM sejenis sudah lebih dulu terjadi, dan jauh lebih tinggi dari harga BBM sejenis di tanah air," ujarnya.

Di sisi lain, jenis BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar dipastikan tidak mengalami kenaikan harga. Kebijakan tersebut sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menjaga daya beli masyarakat kelas bawah.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Because dari itu Presiden memerintahkan agar harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar subsidi dijamin tidak naik, demi melindungi kelompok rentan, melindungi daya beli masyarakat kecil, serta menjaga stabilitas ekonomi," ujarnya.

Pertamina Buka Suara

Pada kesempatan terpisah, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan bahwa penyesuaian harga ini dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global, termasuk dinamika geopolitik serta tren harga minyak internasional.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian Masyarakat. Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," jelas Simon dikutip dari Instagram @pertamina, Kamis (11/6/2026).

Selain itu, Simon juga menekankan bahwa penyesuaian harga pada BBM nonsubsidi ini juga diterapkan oleh jaringan SPBU swasta.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU badan usaha swasta," tuturnya.

Melalui unggahan video tersebut, Simon menegaskan bahwa kenaikan harga hanya berlaku untuk BBM nonsubsidi. Sementara untuk BBM subsidi atau penugasan seperti Pertalite dan Biosolar angkanya dipastikan tetap.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Perlu kami sampaikan bahwa harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite masih tetap di Rp 10.000 per liter dan BioSolar di harga Rp 6.800 per liter sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah," papar Simon.

Pihak Pertamina menjamin ketersediaan stok energi nasional akan tetap aman di tengah tantangan global saat ini. Simon juga mengimbau masyarakat untuk lebih hemat dan bijaksana dalam menggunakan bahan bakar.

Sebagaimana dilansir dari berita sumber, "Kami berterima kasih atas dukungan masyarakat selama ini dan mari kami bersama-sama bijak menggunakan energi," terang Simon.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua