Breaking

Sinyal Hawkish The Fed Picu Harga Emas Dunia Anjlok Lebih 1 Persen

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 18 Juni 2026
Sinyal Hawkish The Fed Picu Harga Emas Dunia Anjlok Lebih 1 Persen
Ilustrasi: Harga emas dunia turun lebih dari 1 persen setelah sinyal kenaikan suku bunga The Fed. (Gambar: NET)

JAKARTA – Harga emas di pasar global mengalami pembalikan arah hingga melemah di atas 1 persen pada sesi perdagangan Rabu (17/6/2026). Penurunan ini terjadi pasca-keputusan The Fed untuk tidak mengubah tingkat suku bunga acuan mereka, namun tetap menyertakan proyeksi kenaikan biaya pinjaman di sisa tahun ini yang kemudian mendongkrak keperkasaan dolar Amerika Serikat.

Emas di pasar spot terpantau merosot sebesar 1,70 persen menuju angka USD 4.257,65 per troy ons. 

Berdasarkan proyeksi paling anyar dari bank sentral AS, sebanyak sembilan dari 19 anggotanya memprediksi bahwa kenaikan suku bunga masih diperlukan tahun ini, kendati posisinya sekarang masih ditahan pada rentang 3,50 persen hingga 3,75 persen.

Dalam sesi jumpa pers pertamanya, Kevin Warsh selaku Ketua The Fed mengumumkan pembentukan lima tim kelompok kerja guna mengevaluasi kebijakan di sejumlah sektor krusial. Agenda ini pun menjadi perhatian utama para pelaku pasar dalam menebak arah kebijakan moneter ke depan.

“Ini adalah The Fed yang baru, Warsh tajam, percaya diri, dan penuh energi. Dia akan menjadi pengelola, bukan penjaga. Pesannya adalah perubahan akan datang, tetapi setelah melalui pertimbangan matang,” ujar trader logam independen, Tai Wong sebagaimana dilansir dari berita sumber.

“Dia juga dua kali mengatakan bahwa dia melihat suku bunga hanya bersifat membatasi di sektor perumahan, yang membuatnya lebih hawkish dibanding Powell. Saya pikir inilah yang mendorong pelemahan pasar. Pernyataan dan dot plot menunjukkan sikap hawkish, dan Warsh tidak melakukan apa pun untuk meredakannya,” kata Wong sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Saat ini, pelaku pasar mengalkulasi bahwa probabilitas kenaikan suku bunga pada bulan Desember nanti telah melonjak ke angka 78 persen, naik signifikan dibandingkan posisi sebelum pengumuman kebijakan yang berada di level 61 persen. 

Tren penguatan dolar AS yang terus berlanjut secara otomatis membuat komoditas emas menjadi lebih mahal bagi para kolektor atau pembeli di luar negeri, sehingga menekan pergerakan harganya lantaran aset logam mulia tidak menghasilkan imbal hasil bunga.

Kondisi pasar juga kian dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah yang merangkak naik, sehingga kekhawatiran publik terhadap tingkat inflasi tetap membayang. Di sisi lain, komoditas logam mulia sejenis juga kompak melemah, seperti perak yang merosot 1,1 persen ke level USD69,41 per ons.

Sementara itu, harga platinum ikut terdepresiasi sebesar 2 persen menjadi USD1.768,03 per ons, dan paladium mengalami penurunan sebesar 1,1 persen ke posisi USD1.336,91 per ons. 

Pada pekan sebelumnya, harga emas dunia sempat merosot hingga menyentuh titik terendahnya dalam jangka waktu lebih dari enam bulan karena kecemasan pasar terhadap gejolak inflasi yang dipicu oleh konflik Iran.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua