Breaking

Dua Calon Emiten Baru JECX serta BACH Bersiap Gelar IPO di Pasar Modal

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Selasa, 23 Juni 2026
Dua Calon Emiten Baru JECX serta BACH Bersiap Gelar IPO di Pasar Modal
Ilustrasi: JECX dan BACH resmi siap melantai di Bursa Efek Indonesia dengan penawaran saham perdana. (Foto: NET)

JAKARTA – Pasar modal Indonesia bersiap menyambut kedatangan dua perusahaan baru yang akan melantai di bursa. PT Nitrasanata Dharma selaku pengelola jaringan rumah sakit mata JEC Eye Hospitals & Clinics, bersama PT Bach Multi Global yang bergerak di sektor infrastruktur telekomunikasi, saat ini tengah melakukan persiapan untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO).

PT Nitrasanata Dharma yang menggunakan kode saham JECX bakal melepas paling banyak sekitar 487,98 juta lembar saham baru atau setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Bersamaan dengan itu, JECX pun menawarkan 162,88 juta lembar saham divestasi kepunyaan DR. Dr. Waldenius Girsang, SpM(K) yang mencerminkan 2% dari modal ditempatkan dan disetor.

Harga penawaran untuk saham baru sekaligus saham divestasi tersebut dipatok pada rentang Rp 1.200 hingga Rp 1.400 per saham. Lewat aksi korporasi ini, JECX memiliki peluang mengantongi dana segar hingga Rp 683,17 miliar.

Pada kesempatan berbeda, PT Bach Multi Global dengan kode saham BACH menawarkan maksimal sebanyak 615 juta lembar saham baru atau setara dengan 15,06% dari modal pasca-IPO. 

BACH menetapkan harga penawaran perdana pada kisaran Rp 400 sampai Rp 500 per saham, sehingga berpotensi menghimpun dana sebesar Rp 246 miliar hingga Rp 307,50 miar.

Mengenai rencana penggunaan dana, JECX mengalokasikan Rp 40 miliar guna melunasi pokok pinjaman di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) serta Rp 100 miliar untuk PT Bank HSBC Indonesia. 

Kemudian, dana sejumlah Rp 185 miliar akan dialirkan kepada entitas anak usaha, yaitu PT Nitra Sanata Bali, PT Orbita, dan PT JEC Candi Sejahtera.

Sementara itu, BACH memproyeksikan Rp 91,02 miliar dana hasil IPO untuk melunasi utang kepada PT Bank Permata Tbk. Sisa dana sebesar Rp 213,48 miliar bakal dialokasikan sebagai modal kerja demi mendukung pembelian unit genset.

Manajemen JECX memaparkan bahwa performa operasional grup terus tumbuh positif dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Pada kurun 2025, JECX membukukan pendapatan senilai Rp 926,76 miliar atau terhitung naik 7,59% dari capaian 2024 yang tercatat sebesar Rp 887,71 miliar.

"Peningkatan pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan aktivitas layanan kesehatan mata yang dilakukan oleh grup perseroan selama periode tersebut," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Langkah strategis emiten dalam menjaga laju kinerja tersebut di antaranya adalah dengan memperkuat sektor pemasaran, mengoptimalkan layanan subspesialistik, serta menerapkan teknologi medis terkini. Manajemen optimistis perpaduan aspek tersebut mampu menyokong pertumbuhan volume layanan sekaligus performa finansial perseroan secara kontinu.

Di sisi lain, BACH membukukan perolehan pendapatan mencapai Rp 1,73 triliun sepanjang 2025, melonjak 39,66% dari perolehan tahun sebelumnya yang berada di angka Rp 1,24 triliun. 

Manajemen BACH menjabarkan bahwa lompatan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan pada lini bisnis penjualan serta penyewaan genset.

Demi menjaga pertumbuhan yang berkesinambungan, manajemen berupaya memperlebar basis pelanggan, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus mengoptimalkan penggunaan armada genset yang dimiliki. Perusahaan juga fokus memacu segmen bisnis yang menawarkan margin lebih tebal.

Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa para pelaku pasar perlu memperhatikan realisasi belanja modal dari operator telekomunikasi guna melihat prospek bisnis BACH ke depan. 

Hal ini disebabkan tingkat permintaan terhadap unit genset sangat bergantung pada pergerakan aktivitas di sektor industri maupun pertambangan.

Sedangkan untuk instrumen JECX, aspek penting yang patut dicermati ialah tingkat daya beli pada masyarakat segmen kelas menengah ke atas serta regulasi teranyar di bidang kesehatan. 

Nafan memberikan saran kepada para calon investor untuk membedah harga penawaran saham menggunakan rasio valuasi seperti P/E dan PBV dengan membandingkannya terhadap rata-rata industri sejenis.

Para pemodal juga disarankan meneliti alokasi pemanfaatan dana IPO, utamanya apabila terdapat porsi divestasi dari pemegang saham terdahulu.

"Perhatikan juga jika ada porsi saham divestasi dari pemegang saham lama yang dijual ke publik, seperti pada skema JECX, karena dana dari porsi divestasi tersebut mengalir ke pemegang saham penjual, bukan masuk ke kas perusahaan untuk ekspansi," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Aspek terakhir yang tidak boleh luput dari perhatian ialah persentase saham baru yang dilepas ke publik, mengingat jumlah saham beredar (free float) yang relatif kecil berisiko memengaruhi tingkat likuiditas saham tersebut. 

Kondisi ini berpotensi memantik volatilitas harga saham yang cukup tinggi pada masa-masa awal perdagangan di bursa efek.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua