Breaking

Saham Teknologi Turun Nasdaq dan S&P 500 Melemah Wall Street Beragam

GE
Gemilang Ramadhan

Editor: Mazroh Atul Jannah

Kamis, 25 Juni 2026
Saham Teknologi Turun Nasdaq dan S&P 500 Melemah Wall Street Beragam
Ilustrasi: Indeks Nasdaq dan S&P 500 ditutup melemah akibat penurunan saham teknologi. (Gambar: NET)

NEW YORK – Indeks utama Wall Street mencatatkan hasil penutupan yang bervariasi pada akhir transaksi Rabu (24/6/2026). Indeks Nasdaq serta S&P 500 terpantau mengalami pelemahan yang disebabkan oleh merosotnya saham-saham teknologi akibat kekhawatiran terkait valuasi yang sudah terlalu tinggi.

Di sisi lain, merosotnya harga minyak mentah menjadi sentimen positif untuk saham-saham maskapai penerbangan, yang pada gilirannya mendorong penguatan indeks Dow Jones. Indeks Dow Jones Industrial Average terangkat 182,06 poin atau 0,35% menuju level 51.848,90.

Sementara itu, S&P 500 melemah 7,24 poin atau 0,10% ke posisi 7.358,22, dan Nasdaq Composite mengalami koreksi sebesar 110,40 poin atau 0,43% ke level 25.476,64. 

Dari 11 sektor utama dalam S&P 500, sebanyak enam sektor berhasil membukukan kenaikan, dipimpin oleh sektor industri yang menguat hingga 1,2%.

Sektor barang konsumsi non-esensial turut terangkat 0,8%, yang berfungsi menahan koreksi lebih dalam pada saham di sektor energi dan teknologi.

Volume transaksi saham di bursa Amerika Serikat dilaporkan menyentuh 25,84 miliar saham, angka yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata 20 hari perdagangan terakhir yang berada di angka 22,920 miliar saham.

Harga minyak mentah merosot ke level paling rendah sejak awal konflik Iran seiring munculnya ekspektasi bertambahnya jumlah kapal tanker yang melewati Selat Hormuz. 

Presiden AS, Donald Trump, mengutarakan bahwa pihak Iran sudah memberikan informasi kepada Washington bahwa tidak ada pungutan tol yang diminta.

Indeks maskapai penerbangan penumpang S&P 500 melonjak hingga 5,2 persen, yang kemudian diikuti oleh penguatan saham-saham perusahaan jasa perjalanan seperti Expedia Group dan Booking Holdings. 

Namun, saham di sektor teknologi kembali bertumbangan, di mana perhatian investor terfokus pada laporan pendapatan dari Micron Technology.

Saham Micron Technology sebenarnya sudah mencatatkan pertumbuhan di atas 200% di sepanjang tahun 2026, tetapi harus ditutup melemah sebesar 0,3 persen pada transaksi hari Rabu. 

Sementara itu, saham Cerebras Systems merosot tajam 19,6% setelah emiten perancang chip tersebut memproyeksikan bahwa margin laba setahun penuh bakal merosot di bawah pencapaian kuartal pertama.

Saham OpenAI pun tidak luput dari tekanan setelah korporasi mengumumkan langkah pengerjaan chip inferensi internal yang diberi nama Jalapeño. 

Adanya kecemasan terkait belanja modal emiten hyperscaler serta potensi kebijakan dari Federal Reserve yang lebih agresif telah memicu aksi jual di pasar, yang mengikis lebih dari $1 triliun nilai pasar dari Nasdaq 100.

"Pembicaraan tentang Timur Tengah sedang berakhir... harga energi sedang turun," kata Michael Monaghan, mitra dan manajer portofolio di Founder ETFs, sebagaimana dilansir dari berita sumber. "Tetapi Anda terus melihat pembangunan belanja modal AI di mana, karena suatu alasan, orang-orang seperti penerima pengeluaran tersebut telah menghukum mereka yang melakukan pengeluaran," sebagaimana dilansir dari berita sumber.

Para pelaku pasar saat ini tengah menaikkan ekspektasi mereka terhadap potensi kenaikan suku bunga kedua oleh The Fed pada akhir Desember nanti. Sebelumnya, pasar hanya memproyeksikan terjadinya kenaikan tunggal sebesar 25 basis poin.

Kini, perhatian pasar tertuju pada perilisan data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi yang dijadwalkan pada hari Kamis. Data ini merupakan indikator inflasi utama pilihan The Fed yang dinantikan guna memberikan proyeksi yang lebih transparan mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua